Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 226. Memikirkan untuk melakukan pencangkokan rahim


__ADS_3

Puas menangis dalam pelukan suaminya, Laila akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap mata Samudra.


"Sayang," ucap Laila.


"Aku di sini, ada apa Hm? Siapa yang menyakiti istriku?" Tanya Samudra mengangkat tangan kanannya membelai rambut Laila.


Saat itulah Laila melihat tangan samudra yang terluka dengan darah yang telah mengering.


"Sayangku, tanganmu," Laila langsung memegang tangan Samudra dan kembali meneteskan air matanya ketika ia menoleh pada pintu kamar mandi yang telah rusak dengan noda darah di pintu itu.


"Maafkan aku,, hiks,," Laila terisak sembari bergerak untuk turun dari pangkuan Samudra.


"Mau kemana hm?" Samudra tidak membiarkan perempuan itu meninggalkannya, malah tangannya yang terluka digunakan untuk menarik Laila hingga perempuan itu kembali bersandar pada tubuhnya.


"Aku harus mengobati lukamu." Laila masih meneteskan air matanya.


"Lukaku tidak lebih penting dari waktu berhargaku menghibur suamiku." Ucap Samudra semakin mengundang Laila menjatuhkan air matanya lalu perempuan itu kembali memeluk suaminya.


"Tidak, suamiku jauh lebih penting!" Ucap Laila memberi ciuman di pipi Samudra.


"Biarkan aku mengobati tanganmu. Setelah itu aku akan menuruti semua perintah mu." Ucap Laila menatap mata suaminya.


Melihat kekeraskepalaan istrinya, Samudra tidak lagi mencegah Laila dan membiarkan perempuan itu mengambil kotak P3K.


Setelah mengobati tangan Samudra, Laila menatap suaminya dengan penyesalan.

__ADS_1


"Maaf, harusnya Aku tidak mengunci pintu kamar mandi." Ucap Laila bisa merasakan rasa sakit pada tangan suaminya.


Berkali-kali Laila selalu membuat pria itu terluka hanya untuk melindunginya.


"Hal itu tidak penting, kemarilah," ucap Samudra menarik Laila supaya perempuan itu kembali ke pangkuannya.


"Maaf," ucap Laila saat ia telah duduk dipangkuan Samudra sembari perempuan itu memeluk suaminya dengan erat.


"Jangan minta maaf. Sekarang, ceritakan padaku mengapa kamu bisa pingsan di dalam kamar mandi?" Tanya Samudra kembali membuat Laila menjatuhkan air matanya seolah air matanya benar-benar tidak berharga untuk dibuang-buang.


"Aku mendengar pembicaraanmu dengan Ibu." Ucap Laila dalam isakannya.


"Pembicaraan yang mana?" Tanya Samudra memastikan meski dalam hatinya ia bisa menebak.


"Tegang rahimku." Ucap Laila membuat tangan Samudra yang terluka dengan spontan mengeratkan lingkarannya di sekitar pinggang Laila.


"Tapi, Apa kau tidak mau memiliki seorang anak lagi?" Tanya Laila memberanikan dirinya menatap mata suaminya.


"Keluarga kita sudah sempurna, kita sudah punya Andra, Putra berharga kita yang sangat menyayangimu. Apa lagi yang kurang?" Tanya Samudra.


"Tapi aku merasa tidak berguna sebagai istrimu. Apalagi terakhir kali, Andra mengutarakan keinginannya untuk memiliki seorang adik." Ucap Laila kembali terisak.


"Ada banyak cara untuk memiliki seorang anak. Kita bisa melakukan bayi tabung." Ucap Samudra.


"Tapi, tapi aku ingin anak kita benar-benar lahir dariku, bukan dari rahim orang lain!" Ucap Laila yang sebenarnya sudah tahu tentang pendonoran rahim.

__ADS_1


Tapi dia tahu kan kalau suaminya tidak akan pernah mengizinkannya melakukan hal berbahaya itu.


Apalagi dengan segudang komplikasi yang bisa mengarah pada kematian.


"Lalu apa yang kau inginkan?" Tanya Samudra.


"Tentang pencangkokan rahim yang kau bicarakan dengan ibu, bisakah kit-"


"Tidak..! Itu tidak boleh dilakukan! Aku tidak mau membiarkanmu menderita. Resikonya sangat tinggi!" Ucap Samudra.


"Tapi, aku merasa tidak berguna jika tidak melakukannya. Aku akan biak-baik saja kok." Ucap Laila.


"Sayang, kau mungkin baik-baik saja. Tapi efek samping dari obat yang kau konsumsi selama melakukan pencangkokan rahim akan berpengaruh pada anak yang kau kandung. Apa kau mau melahirkan seorang anak yang cacat? Apa kau tidak akan kasihan padanya?" Tanya Samudra menatap lekat mata istrinya.


"Kalau begitu, apa yang harus kulakukan? Aku sudah terlalu berdosa sepanjang hidupku. Saat aku mengandung Andra aku terus berpikir untuk membuang bayi itu dari perutku.


"Bahkan ketika Andra lahir dan aku tahu bahwa dia meninggal, aku begitu senang. Hiks," Laila kembali menumpahkan air matanya membuat Samudra benar-benar tidak tega pada istrinya.


"Kalau begitu kita akan membicarakannya dengan ibu. Sekarang, Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ucap Samudra membujuk istrinya.


Dia tidak mau kalau Laila masih terus menyimpan penyesalan atas apa yang sudah ia lakukan pada Andra.


@Interaksi


__ADS_1


Hmm, sok sok,, padahal dia ngefolow dan menikmati karya anak mars..! Apa kau...?!!!!



__ADS_2