Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 60. Mama


__ADS_3

Selesai dengan keharuan mereka bertiga, Laila akhirnya bisa ceria kembali saat mereka selesai makan siang dan ketiganya berkumpul sambil menonton sebuah film keluarga yang di_set oleh Samudra.


Sambil menikmati popcron di tangannya, sesekali Laila menyuapi Andra yang berada disampingnya, di tengah Laila dan Samudra.


Laila terkejut saat Samudra tiba-tiba meletakkan tangannya di sandaran sofa dan menyentuh pundak Laila.


"Sayang, aku akan mendapatkan minuman." Ucap Laila pada Andra dijawab anggukan pria kecil yang sedang fokus pada film yang mereka putar.


Laila langsung berdiri meninggalkan dua pria itu dan berjalan ke lantai bawah untuk mengambil minuman.


Sedang menuang sirup, Laila terkejut saat Samudra tiba-tiba muncul memeluknya dari belakang.


"Jadi apa jawabanmu?" Tanya Samudra yang belum mendapatkan jawaban Laila tentang lamarannya.


Memejamkan matanya dan menenangkan hatinya, Laila berbalik menatap Samudra sebelum mendaratkan sebuah ciuman di bibir pria itu.


"Aku akan mencobanya." Jawab Laila membuat bibir Samudra langsung melengkung lalu pria itu kemudian menarik Laila semakin dekat dan membungkam bibirnya.


Luapan semangat Samudra begitu besar hingga lupa mengontrol diri menyebabkan Laila mendapat bekas gigitan di bibirnya.


"Maaf, aku terlalu bersemangat." Ucap Samudra saat indra pengecapnya merasakan manisnya darah Laila.


Namun, bukannya marah, Laila malah tersenyum dan kembali memeluk Samudra sembari menenggelamkan wajahnya di leher pria itu.


"Aku akan menceritakannya saat aku sudah siap." Ucap Laila mengarah pada masa lalunya.


"Aku selalu menunggu." Jawab Samudra.


Larut dalam kebahagiaan, kedua orang itu melupakan pria kecil yang kini sudah risau di tempat duduknya.


Pria kecil itu akhirnya berdiri untuk menyusul Laila ke dapur.

__ADS_1


Tapi ia menghentikan langkahnya saat melihat kedua orang itu tengah asyik berpelukan di dapur.


Pria kecil itu langsung menggembungkan pipinya dan berjalan mendekati mereka berdua.


'Anakku,, tidak bisakah kau,,' Samudra menghela nafasnya lalu melepaskan Laila dari pelukannya.


"Ada ap-" Laila salah tingkah saat melihat Andra sedang memergoki mereka.


Apalagi, pria kecil itu terlihat menahan tangisannya.


"Sayangku, mengapa ada di sini?" Tanya Laila kini berlutut di depan Andra dan langsung dipeluk oleh Andra.


Pelukan itu bahkan lebih erat daripada pelukan biasanya, seolah pria kecil itu sangat marah karena Samudra dan Laila sudah berani bertingkah di belakangnya.


"Mamamu hampir jatuh, jadi aku membantunya." Ucap Samudra mengagetkan dua orang yang sementara berpelukan.


Kata 'Mama' yang dikatakan pria itu langsung menjadi sorotan Laila dan Andra.


"Apa yang kau katakan?!" Laila menggertakan giginya menatap Samudra sebelum berbalik menatap pria kecil di hadapannya.


"Sayang, jadi sebenarnya-" Laila tidak melanjutkan ucapannya saat Andra kembali memeluknya dan memberatkan sebuah ciuman di pipi Laila.


Kata Mama, adalah sihir bagai Andra. Apalagi ditambah kata selamanya.


Dia sudah mendapat banyak pencerahan dari neneknya tentang hubungan Laila dengan ayahnya.


Ia masih terlalu muda untuk memikirkan Laila sebagai istrinya!


Pria kecil itu mendekatkan bibirnya ke telinga Laila.


"Mama," bisiknya dengan pelan membuat Laila sangat terkejut.

__ADS_1


Baru saja,, baru saja dia mendengar Andra berbicara?


Laila langsung melepaskan Andra dari pelukannya dan menatap dalam lelaki kecil itu.


"Sa,, sayang,, apa Mama tidak salah mendengar?" Tanya Laila.


Andra menggelengkan kepalanya.


"Coba,, coba katakan lagi," ucap Laila yang sangat ingin mendengar suara Andra.


Tak mau membuat ayahnya mendengar suaranya, Andra mendekati telinga Laila dan kembali berbisik pelan.


"Mama," ucapnya dengan suara yang manis penuh kebahagiaan.


"Itu,, astaga sayang! Mama mendengarnya! Suaramu sangat menyenangkan!


Itu seperti vitamin yang manis!" Ucap Laila lalu kembali memeluk Andra dengan erat.


Keduanya dilingkupi kebahagiaan, sementara pria dewasa yang berdiri di belakang Laila menatap interaksi kedua orang itu, ia merasa tak karuan.


Bukan karena cemburu, tapi dalam hatinya ia sangat ingin mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang itu kalau mereka memang memiliki hubungan darah.


Tapi,, ini bukan saat yang tepat.


@Interaksi.



Makasih infonya ya.. nanti lebih diperhatikan lagi.


Soalnya otor mulis pake HP, auto correct_nya bikin gagal paham.✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2