
Kembali ke kamarnya, Laila meletakkan kotak cincin di atas meja dan duduk memandangi benda itu.
Memegangi dada kirinya, perempuan itu masih bisa merasakan denyut jantungnya yang sangat cepat dan keras.
'Benar, aku memang menyukainya.
Perasaan seperti ini pernah kurasakan pada 6 tahun yang lalu, saat aku pertama kali jatuh cinta pada seseorang.
Tapi,, ingatan Itu juga mengingatkanku akan masa kaluku yang pahit.
Apakah Samudra akan tetap menerimaku saat ia tahu aku pernah hamil oleh seorang badjingan hingga melahirkan seorang anak?' Laila menatap dirinya di cermin.
Selama 1 minggu lebih trauma nya sudah tidak pernah muncul lagi, dan dia tahu penyebabnya.
Samudra bisa menghilangkan traumanya, terlebih pria itu rela mengorbankan apapun untuknya.
Dan yang paling penting, Laila merasa sangat nyaman bersama pria itu.
Jadi, tidak ada sedikitpun keraguan pada Laila untuk menolak pria itu, kecuali saat ia memikirkan noda kelam di masa lalunya.
Sepanjang malam larut dengan pikirannya, Laila Akhirnya bisa melewati malam itu.
Saat bangun di pagi hari, Laila tersentak saat membuka matanya dan langsung melihat 3 orang sedang menatapnya.
Weleni, Silas, Kendra. Ketiganya berdiri di samping tempat tidur Laila.
"Kau sudah bagun, syukurlah." Weleni adalah yang pertama berbicara.
__ADS_1
"Eh, ya apa yang,," Laila hendak bangun saat menyadari seseorang sedang memeluk lengannya dengan erat.
Menoleh ke samping, Laila mendapati Andra sedang tidur disampingnya.
"Kami membuka paksa kamarmu karena sudah pukul 9 pagi dan kau belum bangun juga.
Andra sangat mengkhawatirkanmu hingga menggedor-gedor pintu mu selama setengah jam.
Karena kami sudah memastikan Kau baik-baik saja, kalian boleh melanjutkan istirahat.
Lagi, jangan lupa sarapan, karena Kami bertiga ada urusan di luar." Jelas Weleni.
"Aku mengerti, terima kasih." Ucap Laila lalu melihat Weleni dan Silas langsung meninggalkan kamarnya, kecuali Kendra yang masih berdiri memandanginya.
"Ada lagi?" Tanya Laila pada pria itu.
"Tidak ada." Jawab Kendra kemudian berbalik meninggalkan Laila.
"Kamu sangat harum sayang." Ucap Laila yang menyukai wangi Andra. Wangi anak-anak!
Laila masih menikmati wangi Andra saat ponsel di sampingnya tiba-tiba berdering.
Hal itu membuat Laila sangat terkejut.
Memanjangkan tangannya meraih ponselnya, Laila semakin terkejut karena ponselnya kini bisa menangkap sinyal.
'Pria itu,, apa dia,,' Laila tidak sempat menebak dan langsung mengangkat panggilan dari sebuah nomor baru.
__ADS_1
"Halo," ucapnya.
"Datanglah ke ruang kerjaku.' ucap seseorang yang tak lain adalah Samudra.
"Ahh, baik." Jawab Laila sebelum panggilan Itu dimatikan lalu dia segera melepaskan Andra dan pergi meninggalkan pria kecil itu.
Memasuki ruangan Samudra, Laila melihat lelaki itu sedang sibuk di meja kerjanya.
"Ada apa?" Tanya Laila.
"Bantu aku membereskan berkas itu." Kata Samudra melihat kearah meja disampingnya yang penuh dengan berkas berserakan.
"Baik." Jawab Laila segera berjalan ke meja dan membereskan semua berkas di atas meja.
Laila membaca satu persatu berkas itu dan mengetahui semua berkas itu adalah berkas-berkas penting.
Melihat semuanya, Laila sesaat menoleh ke arah samudera.
'Dia masih terus mengujiku?' pikirnya menghentikan gerakan tangannya dengan tatapan yang masih melekat pada Samudra.
Lama dipandangi, Samudra akhirnya merasa risih lalu memalingkan wajahnya pada Laila.
"Ada apa?" Tanya pria itu.
Laila berkedip "Apa aku serius dengan cincin itu?" Tanya Laila.
"Apa menurutmu aku bercanda?" Tanya balik Samudra.
__ADS_1
"Aku rasa aku akan menjawabnya sekarang. Kita tidak bisa bersama, bahkan tidak un-"
"Apa alasanmu?" Tanya Samudra memotong ucapan Laila. Perasaannya tidak karuan.