Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 220. Kakek


__ADS_3

Semua orang di dalam kamar Samudra terdiam satu sama lain. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing kecuali Weleni yang sedang membantu Samudra meminum air.


"Dimana istriku?" Tanya Samudra setelah menghabiskan setengah air putih di dalam gelas.


"Dia sedang bertemu dengan sepasang suami istri yang kemungkinan besar adalah ibu dan ayahnya." Jawab Weleni.


"Ayah dan Ibu Laila?" Lagi tanya Samudra.


"Ya, mereka adalah keluarga Mattew dari pulau putih." Ucap Weleni.


"Jadi begitu, baguslah." Samudra merasa lega.


'Sekarang aku merasa tenang, Laila memiliki orang tua yang berasal dari keluarga terpandang. Jadi, jika aku akhirnya hanya bisa terbaring di atas tempat tidur, aku bisa melepaskannya dan membiarkannya hidup bahagia bersama orang tuanya.' Gumam Samudra yang sudah menduga bahwa dia mengalami kelumpuhan di setengah bagian tubuhnya karena tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Tapi, dia tidak pernah mengungkit hal itu, apalagi pada Laila.


Dia sangat takut kalau istrinya menjadi sangat cemas.


"Oya, ibu belum memberitahuku tentang hasil pemeriksaan Laila. Apakah dia baik-baik saja? Tidak ada yang serius bukan?" Tanya Samudra.

__ADS_1


"Dia baik, tapi kamulah yang Ibu cemaskan. Dokter mengatakan kalau kemungkinan besar kamu mengalami kelumpuhan pada setengah tubuhmu. Hah, katanya perlu waktu lama untuk menyembuhkannya, tapi bukan berarti tidak bisa. Jadi kamu tenang saja, semuanya akan kembali normal.." Ucap Weleni.


"Aku baik-baik saja," ucap Samudra lalu pria itu menoleh pada Dewa yang sedari tadi berdiri memandanginya tanpa mengatakan apapun.


"Dewa, jika terjadi sesuatu padaku, jika aku tidak bisa kembali menjalani hari-hariku dengan normal, Aku tidak ingin menjadi beban untuk Layla. Tolong jaga Dia untukku, aku mempercayakannya padamu." Ucap Samudra.


"Aku akan menjaganya." Jawab Dewa tanpa sedikitpun ekspresi.


Namun dalam hatinya, perasaan menyesal menghinggapinya. Dulunya dia membiarkan Robert dan Rizal menyerang keluarga Anderson karena dia berpikir bahwa Samudra hanya tertarik pada Laila karena kecantikan perempuan itu, bukan karena perasaan yang tulus. Ia ingin menguji Samudra.


Tapi sekarang, setelah melihat pengorbanan Samudra untuk Laila, kini dia mengerti bahwa perasaannya pada Laila tidak jauh lebih besar dari ketulusan hati yang diberikan Samudra untuk Laila.


"Anakku! Kau tidak boleh berkata seperti itu! Kau akan sembuh, ibu akan mengupayakannya!" Ucap Weleni.


Semua orang masih terdiam dan tidak bisa menjawab kata-kata Samudra saat Laila dan Andra memasuki kamar.


"Kakek, biarkan ibuku naik ke ranjang," ucap Andra pada Dewa karena pria itu menghalangi jalan.


Dengan wajah sehitam pantat panci, Dewa menyingkirkan tubuhnya yang menghalangi jalan Laila.

__ADS_1


Tidak masalah jika Andra memanggilnya sebagai kakek, tetapi di depan Laila dan Samudra, ia sangat menolak julukan tersebut!


Sementara Layla yang mendengar panggilan Andra untuk Dewa, perempuan itu mengeryit dan menatap putranya "Kakek? Putraku, jangan berkata sepert-"


"Itu memang benar, Dewa adalah Kakek Andra. Pria tua dari kota FF yang berlagak seperti anak muda berumur 17 tahun!" Ucap Kendra penuh kepuasan melihat ekspresi Dewa.


"Kendra, jangan membela yang salah!" Ucap Laila melototi Kendra.


"Laila, Dewa memang Kakek Andra. Dia adalah sepupu Tuan Mattew yang kemungkinan besar adalah Ayah kandungmu." Ucap Weleni membuat Laila menahan diri karena terkejut.


Laila menatap Dewa yang hanya diam mendengarkan percakapan semua orang.


"Bagaimana bisa?" Ucap Laila mencari jawaban dari Dewa.


Kalau dewa adalah sepupu ayah kandungnya, bagaimana bisa pria itu tidak mengetahui apapun tentang hubungan Laila dengan Morgan?


"Ceritanya panjang, Aku akan menceritakannya lain kali." Ucap Dewa lalu pria itu segera meninggalkan kamar Samudra dan Laila.


@Interaksi

__ADS_1



Pikirmu Kucing? Oya, maklum mahluk bumi kan sejenis kucing..!🤭 Ini yang komen pasti budak kucing!


__ADS_2