
Sudah dua hari Laila tidak pergi bekerja karena ia terus berada di rumah untuk menjaga Andra yang tidak mau menemui siapapun kecuali dirinya.
Dan selain memikirkan Andra, Laila juga memikirkan sikap Weleni yang sedikit berbeda padanya.
"Kau sedang membuat makanan untuk Andra?" Tanya Weleni pada Laila yang sedang berada di dapur.
"Iya Bu, aku takut Andra segera bangun dan belum ada sarapan untuknya." Jawab Laila yang sementara membuat pizza sederhana untuk Andra.
"Biarkan aku membantumu." Ucap Weleni mengambil pisau dan memotong sosis yang sudah disiapkan oleh Laila.
"Terima kasih Bu." Jawab Laila berusaha bersikap biasa-biasa saja.
Pada hal, Laila sangat sadar bahwa saat ini Weleni berpura-pura membantunya, padahal perempuan itu ingin mengamatinya dan memastikan makanan yang ia berikan pada Andra benar-benar bersih.
Hal itu terbaca dari mata Weleni yang melihat ke seluruh sisi dapur dan mengamati bahan-bahan yang sudah disiapkan Laila.
Menahan pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya, Laila menyelesaikan masakannya dan membawa pizza buatannya ke kamar Andra.
Meletakkan pizza di atas meja dan keluar dari kamar Andra, ia disambut oleh Weleni yang terus mengikutinya.
"Apakah dia sudah bangun?" Tanya Weleni.
"Belum," jawab Laila.
"Begitu, kau mau kemana?" Lagi tanya Weleni.
"Aku akan membantu Samudra bersiap ke kantor." Ucap Laila lalu dia meninggalkan Weleni dan memasuki kamarnya.
__ADS_1
Melihat Samudra baru selesai mengeringkan rambutnya, Laila langsung berlari ke pria itu dan memeluk samudra dengan erat.
"Selamat pagi sayangku. Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Samudra membalas pelukan istrinya karena kemarin malam Laila menghabiskan waktunya di kamar Andra.
"Tidurku baik, tapi pagiku tidak terlalu baik." Ucap Laila menghela nafas.
"Apa yang terjadi?" Tanya Samudra.
"Aku rasa sikap ibu selama dua hari ini sangatlah berbeda. Dia terlihat sedang mengawasi ku. Bahkan tadi pagi dia mungkin berpikir aku menaruh sesuatu yang salah saat aku memasak untuk Andra.
"Apa menurutmu, aku sudah melakukan sesuatu yang salah sehingga membuat Ibu menjadi berhati-hati padaku?" Tanya Laila pada suaminya.
"Jangan dipikirkan, Ibu biasanya seperti itu karena selalu protektif pada cucunya." Ucap Samudra tidak dapat menenangkan hati Laila.
Bagaimanapun, memenangkan hati mertua adalah salah satu kunci kedamaian dalam sebuah rumah tangga!
"Baiklah," jawab Samudra.
Pagi berlalu dengan cepat dan di siang hari setelah makan siang, Andra dan Laila sedang berada di kamar sembari membaca buku favorit mereka masing-masing.
Tiba-tiba, ponsel Laila berdering.
Sebuah telepon dari sekretarisnya di kantor.
"Halo?" Jawab Laila.
"Halo Bu, Saya memiliki beberapa berkas yang membutuhkan persetujuan dan tanda tangan Nona."
__ADS_1
"Baiklah, berikan berkasnya pada Melinda dan suruh dia menghubungiku." Jawab Laila.
Laila menyuruh Melinda datang ke kediaman Samudra untuk membawa berkas-berkas itu.
"Mama," tiba-tiba sebuah suara yang sangat dirindukan Laila akhirnya terdengar di telinganya.
"Sayang,, sayangku,, kau baru saja berbicara? Kau memanggil mama?" Laila begitu bahagia sampai ia meneteskan air mata harunya.
Akhirnya..!!!
"Mama," lagi kata Andra.
"Terima kasih sayang," Laila memeluk Andra dengan erat.
"Sayangku, apa kau tahu, Mama sangat merindukan suaramu dan akhirnya bisa mendengar suaramu. Mama sangat senang sampai menangis seperti ini." Ucap Laila penuh haru.
"Aku sayang Mama." Lagi kata Andra yang tidak mau menjadi beban mamanya hingga mengurung Laila di kamar dan membuat pekerjaan mamanya terbengkalai.
@Interaksi
Kalo otor mah sukanya dapat notifikasi komentar hate dari reder.. hehe..
Berasa makan paku..!!! crunchi..!!!!
__ADS_1