
"Tuan, ini meeting kedua kita yang juga merupakan seorang klien penting dari Australia.
Tuan Daff dari Fration Group.
Kerjasama ini sangat diharapkan oleh Tuan Silas karena menyangkut perluasan perusahaan kita di Australia.
Semua tim sudah menyiapkan berkas-berkasnya dan menunggu di ruang meeting.
Lagi, waktu Tuan Daff sangat singkat dan harus dipergunakan sebaik-baiknya karena setelah ini, mereka juga akan melakukan meeting dengan perusahaan baru dari FF.
Dewa juga mengincar kerjasama dengan Tuan Daff." Ucap El selagi mereka berjalan ke ruang meeting di mana para staf sudah berada di sana.
Samudra hanya mengangguk mendengarkan ucapan Ell lalu dia memasuki ruangan dan duduk di kursi yang sudah disiapkan.
Ia perlu berbicara dengan para bawahannya sebelum bertemu dengan tamu penting mereka.
Sementara Ell, pria itu turun ke lantai dasar untuk menyambut Daff sebelum memasuki ruang meeting bersama Daff.
"Selamat datang di Anderson group, Tuan Daff," sambut Samudra pada pria berambut pirang itu diikuti oleh semua karyawannya yang juga membungkuk pada Daff sebagai pemberian salam tanpa berbicara.
"Terima kasih atas sambutannya. Saya merasa terhormat disambut langsung oleh seorang Samudra yang terkenal sangat sukses dalam dunia bisnis." Ucap Daff.
Akhirnya setelah sesi perkenalan, meeting segera dimulai.
Samudra menyambungkan ponselnya ke layar utama untuk melihat data yang sudah diberikan Ell padanya.
__ADS_1
Memproyeksikan data di hp-nya, Samudra mulai menjelaskan bagaimana ia dan timnya akan menangani proyek yang akan mereka kembangkan.
Namun, di tengah-tengah meeting yang sangat serius dan sangat penting itu, sebuah panggilan tiba-tiba saja masuk.
Daff yang merupakan orang yang selalu serius langsung mengeryit saat melihat ke arah proyektor yang menampilkan dua kata 'ISTRI TERCINTA'
"Tuan Daff, saya harus menerima telpon ini." Ucap Samudra tanpa berpikir meraih ponselnya sembari melihat ke arah Daff.
Daff yang tak menyangka Samudra akan menerima telepon itu ketimbang melanjutkan penjelasannya mengenai proyek mereka, pria itu hanya bisa tersenyum mengejek.
"Silahkan angkat telpon itu dengan catatan kerjasama ini kita batalkan.
Saya tidak mau bekerja sama dengan orang yang tidak tahu menempatkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan." Ucap Daff tersenyum mengejek pada Samudra bahwa pria itu akan mengambil pilihan yang mana.
Sebab dia sangat tahu, bahwa saat ini Dewa dan Samudra sedang bersaing untuk mendapatkan kontrak kerjasama dari perusahaanya.
Tidak mungkin Samudra menyia-nyiakan kesempatan itu demi sebuah urusan pribadi yang menurutnya tidak terlalu penting!
"Kerjasama kita di batalkan!" Ucap Samudra mencabut ponselnya dari sambungan proyektor lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.
Beraninya pria itu mengejek istrinya dengan senyuman menjijikkan dari wajah banditnya itu!
BANDIT (Banci Genit)
Keluar dari ruangan, Samudra meninggalkan Ell dengan wajah yang sudah membiru karena darah yang sudah tidak mengalir.
__ADS_1
'Tuan, tidak bisakah,,' pria itu mulai sesak sembari duduk beku di kursinya memandangi Daff yang kini tersenyum sembari mengumpulkan berkas-berkasnya.
Apa yang harus ia lakukan?!
Cambuk milik Tetua sudah disiapkan untuk Samudra saat pria itu gagal mendapatkan kerjasama dengan Daff.
Dan yang lebih parah, tidak mungkin dia membiarkan Samudra menerima cambuk itu, jelas tubuhnya lah yang akan menggantikan Samudra menerimanya!
"Tuan Ell, semoga perusahaan Tuanmu masih bisa berdiri kokoh setelah Apa yang terjadi hari ini." Ucap Daff sebelum meninggalkan ruangan itu dengan penuh kekesalan.
Daff yang akhirnya merupakan resiko dari kehilangan kerjasama itu langsung mengejar pria berpirang itu.
Siapa tahu jika dia masih bisa membujuknya.
Tapi nihil, dua pengawal yang awalnya bersama Daff sudah mencegahnya di depan Lift.
"Mati aku!" Katanya dengan kepala hampir meledak.
@Interaksi
Yang komen ini,, otor benar-benar gak ngerti!
Gak perlu dingertiin juga sih,,😒
__ADS_1
Gak ada uangnya! 🤢