Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 28. Tersiram air panas


__ADS_3

Setelah menutup pintu kamar Andra, kedua Tetua langsung melototi Samudra seolah meminta penjelasan.


"Namanya Laila, Dia bekerja sebagai pengasuh Andra." Ucap samudra dengan berat karena dia sama sekali tidak mau memperkenalkan Laila sebagai pengasuhnya.


Tapi tentu saja kedua Tetua lambat-laun akan mengetahuinya.


Bahkan jika bukan dari bibirnya, maka Laila sendirilah yang akan mengatakannya.


"Tapi, bagaimana Andra bisa dekat dengannya? Sampai terlihat sangat intim seperti itu!"


"Aku juga tidak tahu, semuanya terjadi begitu saja." Jawab Samudra yang tidak mau memberi kedua tahu dua orang tuanya tentang hubungan sebenarnya Laila dan Andra.


"Lalu,, cucuku, mengapa dia sangat tidak mau bertemu dengan kami?" Ucap Weleni dipenuhi kesedihan.


"Sayang, jangan terlalu sedih. Bahkan ini adalah pertama kalinya cucu kita menginjakan kaki di rumah kita setelah 3 tahun berlalu.


Biarkan secara pelan-pelan dia membiasakan diri." Kata Silas menyemangati istrinya.


Karena biar bagaimanapun sudah sebuah kemajuan yang sangat besar kalau Amdra mau meninggalkan rumah apalagi menginjakkan kakinya di rumah tua.


"Aku sudah berbicara dengan Laila supaya dia membujuk Andra. Tapi,, Jangan berharap terlalu banyak kalau dia mau mendatangi pesta ulang tahun Ibu."


"Tidak,, tidak masalah! Cucuku sudah mau datang ke rumah ini pun aku sudah sangat senang.


Kalau perlu pesta ulang tahun itu di batalkan saja supaya tidak mengganggu cucu kesayanganku!" Ucap Weleni dengan perasaan sedih bercampur senang.


"Tidak perlu, aku sudah menyiapkan hadiah yang akan mereka berikan pada ibu.


Laila pasti bisa membujuknya." Ucap Samudra.


"Baiklah,, baik,, semoga pengasuh itu bisa mempengaruhi pikiran cucu kesayangan kita." Ucap Weleni penuh harap.

__ADS_1


Sementara di dalam kamar, Andra dan Laila duduk di samping tempat tidur dengan Andra terus memeluk Laila sambil menutup matanya karena ia merasa sangat asing dengan tempat itu.


"Sayang, aku ada di sini, jadi jangan takut." Ucap Laila dengan lembut sembari mengusap rambut pendek Andra.


Andra tidak menunjukkan reaksi apapun, pria kecil itu tetap terdiam sambil memeluk Laila.


Namun beberapa saat terus diam, Andra mengangkat kepalanya saat mendengar suara perut Laila yang keroncongan.


"Maaf sayang, kita kan belum sarapan jadi perutku berbunyi." Ucap Laila.


Andra melihat Laila dengan perasaan iba lalu dia segera turun dari tempat tidur dan menarik tangan Laila, mengisyaratkan pada perempuan itu supaya mereka keluar dari kamar untuk mencari makan.


Laila akhirnya tersenyum karena bisa membuat Andra mau meninggalkan kamar itu.


Keduanya keluar dari kamar dengan Andra terus memeluk erat lengan kanan Laila sembari berjalan bersama.


"Cuc," Weleni hendak memanggil cucunya saat ia tersadar kalau lelaki kecil itu semakin ketakutan saat melihatnya.


"Aah, baiklah, baik,, cucuku pasti lapar." Ucap Weleni lalu dia memberi isyarat pada Layla supaya mengikutinya ke ruang makan.


Begitu tiba di ruang makan, Laila melihat makanan diatas meja adalah makanan-makanan yang tidak disukai Andra.


"Nyonya Tua, bisakah saya meminjam dapur?" Tanya Laila.


Saat itu, Weleni baru saja sadar kalau makanan diatas meja adalah makanan yang paling dibenci oleh Andra.


Makanan dengan santan dan juga gula merah.


"Ah,, baiklah. Aku akan emebantumu memasak untuk Andra." Kata Weleni lalu mereka bertiga pergi ke dapur.


"Sayang, kami mau memasak, kamu sebaiknya duduk di meja makan dan tunggu masakannya siap.

__ADS_1


Kamu masih kuat menahan lapar 'kan?" Tanya Laila.


Terlihat keengganan di wajah Andra karena dia sama sekali tidak mau berpisah dengan Layla,apa Lagi di tempat asing seperti itu.


Tapi mengingat kembali kalau Laila telah menahan lapar, pria kecil itu menjadi sedih dalam hatinya.


Andra akhirnya mau melepaskan Laila tapi tidak mau berpisah ruangan dengan Laila, dia duduk disalah satu kursi yang diletakkan di sudut dapur.


Laila memasak dengan cekatan, bahkan Weleni hanya melakukan pekerjaan kecil-kecil saja seperti mengambil pisau atau sendok.


Perempuan itu sangat kagum dengan kecekatan Laila di dapur. Bahkan ia menjadi lebih senang saat melihat Laila sangat pandai memasak makanan kesukaan anda.


Apalagi ketika ia memperhatikan cucunya yang selalu mengikutkan pandangannya pada Laila seolah tidak ada pemandangan lain yang patut di lihat olehnya kecuali Laila.


Dengan begitu, Laila memberi kesan yang baik pada Weleni.


Tapi,, suasana yang hangat itu langsung berubah saat tiba-tiba saja Selin datang diwaktu yang tidak tepat.


Andra yang awalnya anteng duduk di kursi, dia langsung melompat dan memeluk Laila dari belakang hingga panci berisi air panas yang dipegang Laila tumpah mengguyur tangan Laila.


"Ahhw!!" Jerit Laila meringis.


Weleni pun sangat kaget. Ia bisa membayangkan bagaimana kebencian cucunya pada mereka karena sudah membuat Laila terluka di rumah mereka.


Keringat dingin mengalir di punggungnya membayangkan cucu kesayangannya mungkin saja tidak akan pernah lagi berbicara dengannya bahkan menginjakkan kaki di rumah meraka!


@Interaksi



Dari pada yang udah dewasa umurnya tapi masih kekanakan??😂😂🤭

__ADS_1


__ADS_2