Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 195. Kayu untuk membunuh Laila


__ADS_3

Helikopter terbang rendah dan akhirnya mendarat di tengah jalan dekat dengan tempat Laila berdiri.


2 pria yang menjadi penumpang helikopter langsung turun dengan mata penuh dendam melihat Laila yang kini berdiri menyerahkan diri.


"Haha,, kau benar-benar berani, membiarkan 3 majikanmu tetap hidup sementara kau menggunakan dirimu disini sebagai umpan? Tidak..! Setelah kau, semua keluarga Anderson itu akan menjadi target kami berikutnya!" Ucap Rizal dengan suara yang sangat keras sembari berjalan mendekati Laila yang berdiri terpaku di depannya.


Sementara Weleni dan Silas yang mendengar ucapan Rizal, kedua orang itu gemetaran memeluk cucu mereka.


Sementara sang supir sedang sibuk memperbaiki alat komunikasinya.


"Kalian tahu kenapa aku di sini? Aku disini hanya untuk mengulur waktu sampai bala bantuan datang. Oya, aku katakan pada kalian, waktu kalian tinggal 3 menit!" Kata Laila berbohong.


Mana ada bantuan? Sedangkan suaminya mungkin sudah meninggal!


Laila hanya berharap supaya mertuanya bisa kabur ke tegah hutan dan mencari tempat persembunyian sampai keamanan negara MR menemukan mereka. .


Namun wajah Laila yang menampakkan keseriusan membuat Rizal semakin geram dan mempercepat langkahnya mendekati Laila.

__ADS_1


Plak..!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Laila hingga perempuan itu tersungkur ke tanah karena tidak kuat menahan tenaga yang digunakan oleh Rizal.


Dor!


Eron tak mau kalah dan melepaskan sebuah tembakan hingga mengenai bahu kiri Laila membuat tangan kiri Laila menjadi kesemutan dan menjadi sulit untuk digerakkan.


Rizal tertawa melihat Laila yang tersungkur di tanah lalu perempuan itu mendekati Laila dan memegang dadu Laila.


"Perempuan laknat!" Ucapnya berdiri lalu menendang perut Laila berkali kali.


Hanya suara sepatu Rizal dan tubuh Laila yang terdengar di telinga semua orang yang menyaksikan penyiksaan itu.


Silas dan Weleni yang bersembunyi di dalam hutan, mereka meringis membayangkan rasa sakit yang diterima Laila dari setiap tendangan Rizal.


"Demi kita, menantu kita,," Silas mengepal kuat tangannya, tapi dia tidak bisa keluar karena saat dia tidak bisa kembali dari pulau itu maka keluarganya, perusahaannya dan segala sesuatu yang mereka miliki, termasuk cucu mereka akan mengalami kehancuran.

__ADS_1


Tendangan Rizal masih terus bergemuruh saat sebuah sepeda motor tiba-tiba melaju dari belakang kedua orang itu dan langsung menabrak Rizal hingga lelaki tersebut terseret menjauh dari Laila.


Eron yang terkejut langsung mengarahkan senjatanya pada pengendara sepeda motor itu namun karena pengendaranya terlalu cepat sepeda motor itu berputar dan kembali menabraknya.


"Siapa kau..! Beraninya menggangguku!" Teriak Rizal bangkit menodongkan pistolnya ke arah pengendara motor dan menembak berkali-kali.


Rentetan tembakan yang terjadi begitu cepat membuat sang pengendara motor tidak bisa menghindar dan dengan segera ia terluka oleh dua peluruh.


Pengendara motor itu akhirnya terjatuh, Eron berdiri mendekati pengendara motor itu dan menembak kedua tangannya.


Dor! Dor!


Suara tembakan berpapasan dengan suara sebuah helikopter yang membuat Rizal menjadi ketakutan tentang bala bantuan yang dikatakan oleh.


"Sial...! Aku tidak boleh mati sebelum perempuan ini!" Geramnya mendekati Laila dan menembak kepala Laila.


"Sial..!" Umpat Rizal saat peluru dalam pistolnya telah habis karena digunakan untuk menembaki pengendara motor yang datang mengganggu acara mereka.

__ADS_1


"Jallang beruntung!" Geram Rizal menendangi perut Laila yang kini sudah pingsan.


Pria itu lalu berjalan ke sebuah kayu yang tergeletak tak jauh dari Laila dan meraih kayu itu untuk memukul Laila.


__ADS_2