
Sementara pengendara motor yang tersungkur di tanah dan melihat pria itu mendekat kearah Laila, pengendara motor itu segera mendekati Laila untuk menolongnya.
Tapi, ia belum menyentuh Laila saat Eron yang sedari tadi mengawasinya kini melayangkan dua tembakan lagi ke arah kaki pengendara motor itu.
"Akkh!!" Geram pengendara motor namun tidak berhenti dan terus menggunakan seluruh kekuatannya merangkak ke arah Laila dan menyelimuti tubuh Laila dengan tubuhnya.
"Mau menjadi sok pahlawan? Hahha...!" Rizal menggunakan tongkat kayu di tangannya memukul pria yang berada di atas Laila.
"Cepat...!" Teriak Eron saat helikopter yang tadi mereka dengar suaranya semakin mendekat kearah mereka.
Eron berlari kedalam helikopter mereka.
"Aku tidak akan pergi..! Haha....!" Rizal penuh dengan dendam dan tidak memperdulikan keselamatannya lagi, pria itu hanya terus memukul pengendara motor yang berada di atas Laila.
Puas memukul pengendara motor itu, Rizal lalu menendang kepala pengendara motor yang dibungkus dengan helm hingga pria yang sudah tak berdaya itu tak bisa lagi menahan kepalanya untuk melindungi kepala Layla.
"Ini yang terakhir!" Teriak Rizal mengangkat kayunya yang penuh dengan darah dan menggunakan ujung runcing nya untuk ditusukkan ke kepala Laila.
"Matilah Jallang..!" Teriaknya mengangkat tinggi kayu di tangannya.
Namun pria itu belum menghentakkan kayu ke kepala Laila, helikopter yang masih terlihat jauh menembakkan sebuah peluru.
Dor!
Peluru itu langsung menancap di kepala Rizal dan pria itu segera terjatuh bersama kayunya.
__ADS_1
"Hancurkan helikopter itu!" Ucap Geral yang berada dalam helikopter lalu penembak yang bersamanya langsung menembaki pilot helikopter yang menjauh dari mereka.
Dalam sekejap, terbang helikopter di depan mereka menjadi oleng sebelum jatuh ke tanah dan meledak.
Setelah helikopter milik Geral mendarat, pria itu langsung turun dari helikopter dan berlari kearah Laila.
"Sial..!" Geramnya saat membuka helm pengendara motor.
"Angkatt mereka!" Perintah Geral pada anak buahnya lalu kedua orang itu segera dinaikkan ke atas helikopter.
"Biarkan kami ikut!" Teriak Silas yang berlari dari dalam hutan mendekati helikopter sembari menggendong cucunya.
"Baiklah!" Kata Geral lalu semua orang itu naik helikopter dan helikopter pergi meninggalkan pulau itu sebelum tentara negara Mr tiba di pulau tersebut.
Di sebuah rumah sakit besar di kota F.
Buk..! Buk..! Buk...!
3 tendangan mendarat di tubuh Geral saat pria itu gagal menjalankan misinya.
"Beraninya kau membiarkannya terluka!" Teriak Dewa pada pria yang kini bersujud di bawah kakinya.
"Maaf Tuan, Saya tidak menduga kalau Laila akan menembak pilot kami hingga menyebabkan kerusakan pada helikopter kami. Saya harus mengganti helikopter kami sebelum kembali menyelamatkannya." Ucap Geral menceritakan situasi yang sudah ia alami hingga gagal melindungi perempuan itu.
"Dia menembakmu?! Bagaimana bisa kau lengah..!" Lagi bentak Dewa yang sama sekali tidak menerima kegagalan anak buahnya.
__ADS_1
"Maafkana saya Tuan. Saya salah." Lagi kata Geral.
"Jangan memarahinya, dia sudah melakukan yang terbaik." Ucap Seorang Pria tua yang berjalan dari belakang Dewa.
"Tapi-"
"Sudah, aku perlu berbicara denganmu." Ucap pria tua itu lalu membawa Dewa ke sebuah ruangan.
Pria tua itu merupakan rekan kerja Dewa yang menjadi pemilik rumah sakit terbesar di Kota F, namanya Padma.
"Siapa perempuan yang kau selamatkan itu?" Tanya Padma yang juga merasa kebingungan dengan Dewa yang baru kali ini menyelamatkan seorang perempuan, termasuk anggota keluarga Anderson.
"Dia anak buahku." Jawab Dewa.
"Hanya anak buah? Hahaha.... Lucu sekali!" Tawa Padma.
"Ada apa?" Lagi tanya Dewa yang tidak suka berbasa-basi dan ingin pria didepannya langsung berbicara pada intinya.
"Aku hanya terkejut, Dia sangat mirip dengan seseorang yang kukenal waktu muda. Mungkinkah dia anaknya?" Tanya Padma.
"Anak?" Dewa mengeryit, memang sampai saat ini dia belum mengetahui orang tua asli Laila, dia bahkan sudah mencari ke mana-mana namun tidak menemukan informasi apapun.
@Info
Besok hari Rabu.
__ADS_1