Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 91. Secepatnya menikah


__ADS_3

Tiba di dapur, Laila terkejut melihat Silas sudah menunggu di sana.


"Selamat pagi Ayah." Ucap Laila pada Silas yang sudah duduk di meja makan.


"Selamat pagi, duduklah," ucap Silas seraya pria itu sedikit melirik ke perut Laila.


Lirikan Silas tidak luput dari perhatian Laila, apalagi saat ia hendak duduk dan Weleni ternyata menarikan kursi untuknya.


'Apa ini? Mengapa aku merasa tidak enak?' gumam Laila memandangi makanan di depannya.


"Ayo makan." Kata Weleni menaruh makanan di piring lalu menukar piring berisi makanan di tangannya dengan piring kosong di depan Laila.


"Ibu, aku bisa sendiri," ucapan Layla dengan panik saat melihat Silas pun belum di layani oleh Weleni, tapi malah dialah yang pertama dilayani.


Situasi Itu berasa sangat canggung bagi Laila.


"Tidak perlu, Ibu tahu di benar makanan seperti apa yang cocok untukmu.


Porsi di piring mu sudah cukup." Ucap Weleni sambil menaruh makanan di piring suaminya.


Laila berhenti bernafas sejenak melihat makanan di depannya sangatlah banyak dan bisa membuatnya menjadi lebih gemuk!


"Tapi Bu, makanan ini,,"


"Laila, jangan membantah, ini demi kebaikan kalian berdua." Kata Weleni kembali membuat Laila tidak tahu harus menjawab apa.


Kata 'kalian berdua' membuat Laila kini mengerti, 'Astaga,, mereka pikir aku hamil? Ini harus diperjelas!'

__ADS_1


Laila baru saja akan berbicara saat seorang pria kecil tiba-tiba muncul dari belakangnya.


Andra berlari ke arah Laila itu langsung memeluk Laila.


"Selamat pagi sayangku, kemarilah," kata Laila menarik Andra untuk duduk di pangkuannya.


"Bantu Mama menghabiskan semua makanan ini." Ucap Laila.


Melihat Laila sedang memangku cucu mereka, Weleni dan Silas menjadi sangat panik.


Silas langsung berdiri menarik kursi untuk Andra "Andra sayang, duduklah di kursi ini."


"Cucuku, duduklah di sini." Ucap Weleni membujuk Andra.


Tapi, pria kecil di pangkuan Laila hanya bisa menggeleng dan mempererat pelukannya pada Laila.


"Tapi-"


"Kalian mau membuat cucu kalian merajuk?


Ck,, ck,, selalu mencari mati,," ucap Kendra yang sedari tadi berdiri di sana sambil menganga melihat kedua orang tuanya kini memperlakukan Laila seperti anak emas.


Sementara dirinya sendiri yang merupakan anak kandung kedua orang itu selalu diperlakukan lebih buruk dari orang asing!


"Diam!" Laila, Silas dan Weleni kompak memaki Kendra yang tidak tahu menjaga mulut itu.


"Sayangku, Jangan dengarkan ucapan pamanmu. Sangat buruk untuk di tiru." Ucap Laila di jawab anggukan Andra.

__ADS_1


"Iya,, cucuku sayang, kakek dan nenek menyuruhmu duduk di kursi ini supaya mamamu tidak kelelahan.


Jadi,," Weleni belum selesai berbicara saat Anda langsung turun dari pangkuan Laila dan dengan patuh duduk di kursi yang disiapkan Weleni.


Pria kecil itu memang selalu patuh jika apa yang ia lakukan menyangkut kebaikan Laila.


Melihat sikap Andra, Weleni dan Silas merasa sangat puas. Kedua orang itu kembali ke tempatnya.


Weleni mengambil piring di depan Andra dan mengisinya dengan makanan bergizi untuk cucu kesayangannya.


Sementara Kendra, pria itu masih setia berdiri di tempatnya, ingin dirinya sendiri.


Sungguh konyol!


Merasa tak dihargai disana, pria itu akhirnya meninggalkan keempat orang yang sedang makan dengan harmonis.


'Sebaiknya aku ke kantor dan menyiapkan sesuatu untuk menyenangkan Samudra!' gumamnya bersemangat.


@Interaksi



Kalo otor bilang cowok nanti para ibu-ibu malah cerein suaminya karena ngebet sama otor.


Pada hal, kalo ibu-ibu pasti pelit+cerewet kek emaknya otor 😭


Ya udah, cewek ajah ya, siapa tau ada yang minta nomor rekening, lumayan cuan,, cuan,, cuan,,,

__ADS_1


__ADS_2