Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 224. Berita kehilangan rahim


__ADS_3

Pulau putih, mansion putih.


"Ini kamar kalian berdua, dan di samping kamar Ini adalah kamar Andra." Ucap Adelin saat ia menemani Samudra dan Laila ke dalam kamar.


"Terima kasih Bu," ucap Laila.


"Kalian boleh istirahat, kalau kalian membutuhkan sesuatu, kamar Ibu ada di depan kamar ini." Ucap Adelin lalu keluar meninggalkan sepasang suami istri itu.


"Sayangku, apa kau mau tidur?" Tanya Laila sembari mendorong kursi roda Samudra ke samping tempat tidur.


"Tidak, aku sudah tidur di pesawat. Oya, Apa kau tidak kelelahan berjalan dari depan mansion ke mari?" Tanya Samudra menarik Laila ke atas pangkuannya.


"Kenapa harus kelelahan? Aku baik-baik saja." Jawab Laila memeluk suaminya dan mendaratkan sebuah ciuman hangat di bibir pria itu.


"Baiklah, mandilah sebelum makan malam. Aku akan melihat putra kita sebentar." Ucap Samudra.


Laila segera turun dari pangkuan Samudra dan membiarkan pria itu keluar dari kamar mereka.


'Kenapa aku merasa suamiku menyembunyikan sesuatu?' gumam Laila lalu diam-diam mengikuti Samudra ke kamar Andra.


Tapi perempuan itu sangat terkejut saat melihat Samudra malah terus ke balkon di di samping kamar Andra.

__ADS_1


Di sana juga terlihat Adelin sedang menunggu Samudra.


"Apakah Laila sudah tidur?" Tanya Adelin pada Samudra.


"Tidak, dia bilang dia tidak lelah, dia sedang mandi." Jawab Samudra sembari melihat keluar balkon di mana pantai yang luas dengan pasir putih terbentang memperlihatkan keindahannya.


"Baguslah. Ibu mengundangmu kemari untuk memberitahukan sesuatu yang sangat penting menyangkut Laila." Ucap Adelin langsung menarik perhatian Samudra lalu pria itu berbalik menatap Ibu mertuanya.


"Apakah ini ada hubungannya dengan kesehatan istriku?" Tanya Samudra.


Adelin menghela nafas "Benar, ini tentang salah satu organ tubuh Laila yang sudah diangkat. Organ tubuh yang sangat penting untuk perempuan karena merupakan salah satu cerminan seorang perempuan yang sempurna." Ucap Adelin dipenuhi kesedihan.


Ia bisa menerima apapun keadaan istrinya, tapi dengan Laila, ia begitu takut kalau perempuan itu harus terluka sampai yang kesekian kalinya.


"Laila sudah kehilangan rahimnya." Ucap Adelin.


"Rahim?" Samudra memejamkan matanya.


"Ibu tahu ini berat, tapi kita masih bisa melakukan transplantasi rahim untuk Layla. Namun, transplantasi rahim tidak bisa dilakukan begitu cepat, harus mengikuti beberapa proses. Yang paling penting kita harus membuat Layla siap menerimanya." Ucap Adelin.


"Lalu, apakah transplantasi rahim bisa membahayakan kesehatan istriku?" Tanya Samudra.

__ADS_1


"Banyak komplikasi, misalnya terjadinya penolakan tubuh terhadap rahim cangkokan, dan efek dari obat yang harus dikonsumsi secara rutin oleh pasien. Dan yang paling penting, pencangkokan rahim tidak bisa dilakukan dengan tujuan mendapatkan rahim permanen.


"Karena selama seorang perempuan mendapat rahim cangkokan maka dia harus selalu mengkonsumsi obat, dan obat ini memiliki efek samping jika dikonsumsi dalam jangka waktu panjang." Ucap Adelin.


Laila yang mendengarkan percakapan kedua orang itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu berlari kembali ke kamar.


Laila langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya sebelum jatuh ke lantai dan menangis tersedu-sedu.


Sembari menangis, Laila merangkak ke arah shower dan menghidupkan shower supaya suara air dari shower menyamarkan suara tangisannya.


"Rahimku,," Laila terisak dengan keras saat ia kembali mengingat waktu pertama kali dia mendengar Andra menginginkan seorang adik.


"Maafkan ibu,, ini pasti hukumanku karena pernah menolak Andra, bahkan kembali melakukan penolakan saat Anda meminta seorang adik untuknya." Isak Laila menyesali semua perbuatannya.


Terutama tentang penolakannya pada seorang bayi ketika dia sedang mengandung Andra.


@Interaksi



Namanya juga sultan..! Ya kali sultan kalah mental sama kecebong,,? Ck,, ck,, plis, beda kasta..! Maaf kalo gak kesinggung..!

__ADS_1


__ADS_2