Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 166. Kelelahan dan stres


__ADS_3

Setelah tiba di kediamannya, Samudra menemukan kepanikan di depan kamar Andra saat Andra tidak membiarkan siapapun masuk menyentuh mamanya.


"Akhirnya kau kembali juga, putramu tidak mengijinkan dokter memeriksa Laila. Bahkan kami tidak diperbolehkan menyentuh!" Ucap Weleni yang sedari tadi panik berusaha menelpon Samudra tapi putranya tidak pernah mengangkatnya karena sedang berada dalam perjalanan pulang.


Melihat dokter yang ada di samping ibunya, Samudra mengerti mengapa putranya tidak mengizinkannya memeriksa mamanya.


Semua ini tentang jenis kelamin!


Samudra memasuki kamar dan mendekati Laila, Samudra menatap putranya "Apa yang terjadi?" Tanyanya.


Wajah Laila terlihat pucat dan suhu badannya sangat tinggi dengan keringat di sekitar keningnya.


Andra duduk di samping Laila sambil memegang tangan perempuan itu dan sesekali menyeka keringat Laila yang terus keluar.


Air mata pria kecil itu terus bercucuran namun diabaikan olehnya karena dia lebih fokus mengurusi Laila.


Mendengar pertanyaan ayahnya, Andra yang sedari tadi terus menangis menjadi semakin terlihat muram.


"Mama sakit!" Ucapnya berusaha menahan diri supaya tidak terisak di depan ayahnya.


"Ayo ke rumah sakit." Ucap Samudra langsung mengangkat Laila untuk membawa perempuan itu ke rumah sakit.


Tapi ia berhenti saat Andra memegang erat tangan Laila seolah pria kecil itu tak terima jika ayahnya lah yang mengangkat Laila.

__ADS_1


"Mau membuat ulah dan membuat mamamu menjadi semakin sakit karena lambat ditangani oleh dokter?" Langsung tanya Samudra tanpa sedikit belas kasihan pada putranya.


Andra dengan berat hati melepas tangan mamanya dan menyeka air matanya lalu Ia berlari menyusul ayahnya yang sudah berlari membawa Laila ke mobil.


Mereka segera tiba di rumah sakit dan Laila ditangani oleh semua dokter perempuan yang sudah disiapkan oleh Samudra.


"Apa yang terjadi Dok?" Tanya Weleni pada dokter saat dokter selesai memeriksa Laila.


"Pasien mengalami kelelahan dan stres berlebihan," jawab dokter.


"Apa?!" Weleni memegangi keningnya yang terasa berat setelah mendengar ucapan sang dokter.


"Duduklah," ucap Silas menuntun istrinya untuk duduk di kursi.


"Bagaimana kondisi istri saya?" Tanya Samudra.


"Tuan tidak perlu kuatir, dia akan baik-baik saja setelah dirawat beberapa hari. Tapi kami menganjurkan supaya lingkungan yang ditempati pasien selalu terjaga untuk menghindari pasien semakin merasa tertekan.


"Sebaiknya, apapun yang diinginkan pasien, untuk sementara ini tolong dipenuhi dulu." Ucap Dokter.


Samudra tidak mengatakan apapun tapi pria itu mengerti apa yang membuat Laila mengalami stres.


Selain Andra, Laila juga dibuat stres oleh Weleni yang berubah sikap padanya.

__ADS_1


Setelah berpisah dengan dokter, Samudra kembali ke kamar Laila dan memegang tangan perempuan itu.


"Mamamu baik-baik saja, dia hanya sedikit kelelahan dan butuh istirahat." Ucap Samudra menanggapi ekspresi bertanya-tanya yang ditunjukkan Andra.


Setelah mendengar ucapan ayahnya, Andra menjadi semakin merasa bersalah.


Mamanya kelelahan karena menjaganya!


Melihat putranya merasa bersalah, Samudra menjadi tidak tega.


Jangan sampai putranya malah menyalahkan diri sendiri dan mengambil keputusan yang salah hingga kembali melukai Laila.


"Ini bukan salahmu, ini salahku karena sudah sibuk bekerja dan membiarkan mamamu mengurus rumah sendirian." Ucap Samudra membuat Andra menatapnya dengan mata memerah.


"Aku tidak bohong," Lagi kata Samudra yang bisa mengetahui kalau putranya tidak mempercayai ucapannya.


"Bukan, ini salah Nenek." Tiba-tiba ucap Weleni yang masuk ke kamar.


"Nenek sudah menuduh Laila yang bukan-bukan, jadi Laila kepikiran hingga membuatnya sakit." ucap Weleni penuh rasa bersalah.


@Interaksi


Dua BAB lagi nanti sore ya.. mata otor udah gak mau kompromi...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2