
Setelah keributan itu, semua orang sudah berada di dalam pesawat.
Pesawat yang membawa mereka adalah pesawat pribadi milik Morgan hingga pesawat itu didesain layaknya untuk satu keluarga besar dengan fasilitas paling nyaman.
"Kakek, siapa lelaki yang sudah meneriaki ibu? Kenapa dia berkata kasar pada Ibu?" Tanya Andra saat mereka baru saja duduk.
Laila yang mendengar pertanyaan anaknya Langsung menoleh pada pria itu dan tersenyum mengulurkan tangan memberi kode pada Andra supaya mau mendekat ke arahnya.
Melihat ibunya, Andra langsung berlari pada Laila dan memeluk perempuan yang sudah duduk di sofa.
"Maafkan Ibu, apa kau terkejut?" Tanya Laila.
"Aku hanya marah karena dia sudah berani meneriaki ibu dengan kata-kata yang tidak pantas." Jawab Andra menatap Laila.
"Jangan dipikirkan, dia hanya orang lewat yang salah orang." Ucap Laila.
"Tapi Bu,"
"Sudah, ibumu perlu beristirahat. Kemarilah bersama ayah dan temani Ayah bercerita." Ucap Samudra membuat Andra meninggalkan Laila dengan tidak rela lalu pergi bersama Samudra ke dekat jendela pesawat.
Pria kecil itu masih sesekali menoleh pada Laila yang kini pergi bersama Adelin memasuki kamar.
__ADS_1
"Ibu, maaf, aku sudah membuat ibu malu di depan banyak orang." Ucap Laila pada Adelin ketika mereka tiba di dalam kamar.
"Tidak perlu minta maaf. Pria seperti itu tidak patut untuk kamu khawatir kan." Ucap Adelin.
"Benar, aku sudah memerintahkan semua orang untuk membuatnya tidak pernah lagi bertemu denganmu. Kamu tidak perlu kuwatir." Ucap Morgan yang menyusul.
"Terima kasih Ayah." Jawab Laila.
"Sama-sama sayang," ucap Morgan.
"Ya sudah, kamu istirahatlah, Ayah dan Ibu akan keluar." Ucap Adelin lalu ia dan suaminya meninggalkan Laila.
"Setelah kondisinya menjadi semakin membaik. Kalau kita memberitahunya saat ini, bisa jadi ia kembali drop dan tertekan. Kalau sampai itu terjadi, maka aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena sudah gagal menjadi ibu." Ucap Adelin.
"Aku mengerti, tapi semakin kita menundanya, Laila akan segera sadar." Ucap Morgan.
"Aku akan mengerti. Aku akan memikirkannya." Jawab Adelin yang sebenarnya tidak tega memberitahu Laila, tapi memang soal kehilangan rahim tidak bisa disembunyikan dari seseorang.
Karena begitu rahim seorang perempuan diangkat, maka Sang Perempuan tidak akan mengalami siklus menstruasi yang selalu datang setiap 28 hari.
"Kalau kau tidak sanggup memberitahunya, kau bisa lebih dulu memberitahu Samudra dan meminta tolong padanya supaya dia yang mengatakannya pada Laila. Bagaimanapun, Samudra dan Laila memiliki hubungan yang jauh lebih intim." Ucap Morgan.
__ADS_1
"Aku mengerti, aku akan mencari waktu yang paling tepat." Ucap Adelin.
Sementara di jendela pesawat, pria kecil dan pria dewasa yang duduk berhadapan. Mereka juga membicarakan sesuatu.
"Jadi kau bilang, semua yang kita alami di pulau adalah rencana Dewa?" Tanya Samudra pada putranya.
"Hm, aku mendengar mereka berbicara seperti itu. Tapi Kakek Dewa melakukan semua itu untuk menguji apakah Ayah benar-benar mencintai ibu atau tidak. Aku juga mendengar pembicaraan kakek Dewa yang bicara dengan asistennya kalau Kakek Dewa Sudah menyesal melakukannya." Ucap Andra.
"Baiklah, jangan memikirkannya. Juga, jangan memberitahu ibumu." Ucap Samudra.
"Aku tahu." Jawab Andra lalu pria kecil itu mengambil sebuah buku diatas meja dan menenggelamkan dirinya ke dalam buku itu.
'Aku harus menanyakan ini pada Dewa. Beraninya dia melukai Laila dan keluargaku lalu berpura-pura menjadi penolong untuk kami!' geram Samudra dalam hatinya.
@Interaksi
Kan kekayaan orang tua Laila semuanya terjadi berkat ijin otor.. Coba ortunya Laila minta jadi kaya ke reder, pasti gak bakal terkabul tuh..!
Gimana? Kalian pada mau minta juga gak? Nanti otor adain hujan linggis emas ke bumi.. Hehe...
__ADS_1