
Berpisah dengan ibu kandung dan ayah tirinya, Laila kemudian berjalan ke toilet untuk mencari ketenangan.
Berada dalam salah satu bilik toilet sambil menenangkan diri, Laila akhirnya meraih ponselnya dan menelpon seseorang saat nafas beratnya tidak kunjung tenang karena mengingat kejadian 5 tahun yang lalu dan kejadian yang baru saja ia alami.
"Sayang, aku di depan toilet." Ucap Samudra dari seberang telepon membuat Laila tersentak dan berlari keluar dari toilet menemui lelaki yang menunggunya di sana.
Kekuatirannya langsung reda seketika ia berada dalam pelukan hangat Samudra.
"Aku di sini," ucap Samudra yang sudah tahu bahwa Laila baru saja bertemu dengan ibu kandungnya.
"Aku tidak baik-baik saja, bagaimana ini?" Ucapan Layla terus mengatur nafasnya yang terlalu berat karena beban yang menyertai tarikan nafasnya.
Meski ia tidak kuatir lagi, tapi traumanya masih menguasai setengah dari pikirannya.
Mengusap punggung perempuan itu dan mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Laila, Samudra tidak bisa mengatakan apapun.
Dia sendiri merasa tak terima dengan sikap orangtua Laila, apalagi Laila sendiri yang merupakan anak kandung Irmawati.
"Apa kau ingin menangis?" Tanya Samudra setelah lama memeluk perempuan itu dan dia belum merasakan Laila menjadi lebih tenang.
"Bolehkah?" Tanya Laila yang masih setia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Samudra.
__ADS_1
"Menangislah, aku akan berjaga." Kata Samudra disambut suara tangisan Laila memenuhi lorong di mana mereka berdiri.
Sementara Ell yang berjaga di ujung lorong, pria itu merasa ngilu sekaligus terharu mendengar suara tangisan Laila.
"Astaga, Tuan benar-benar mencintai perempuan itu.
Sekarang aku jadi kuatir kalau masa depan perusahaan mungkin akan hancur karena diabaikan oleh Tuan demi perempuan itu." Ucapnya memegang erat teleponnya yang terus berdering karena di hari itu mereka memiliki 3 rapat yang sangat penting.
Tapi, ketiga rapat itu segera ditunda hanya karena Samudra ingin menghibur perempuannya.
Menunggu 30 menit, akhirnya Ell bisa bernafas lega saat Layla dan Samudra menemuinya.
"Atur penata rias untuk nya," ucap Samudra memandangi mata Laila yang bengkak.
Setelah menutupi mata bengkak nya dengan riasan, Laila kembali ke ruang tunggu peserta.
Menunggu 15 menit, akhirnya semua peserta diperbolehkan memasuki ruangan karena kompetisi akan segera dimulai.
Seorang perempuan yang merupakan salah satu staf berdiri di podium membacakan peraturan kompetisi hari itu.
Setelahnya, semua orang diberi waktu selama 15 menit untuk mengaktifkan program mereka sebelum memasuki babak kompetisi.
__ADS_1
Bekerja sendirian, Laila dengan cepat mengaktifkan komputernya dan mulai menjalankan program yang sudah ia buat.
"Baik, waktu 15 menit sudah habis! Silakan setiap peserta melakukan peretasan pada setiap program yang dibuat oleh peserta lain.
Peserta terakhir yang berhasil bertahan paling lama akan menjadi pemenang akhir dari kompetisi ini!" Ucap staf yang bertugas kembali mengingatkan peserta tentang cara kompetisi berjalan.
Begitu mulai, Laila tidak menargetkan peserta lain dan hanya melakukan peretasan pada satu tim, yaitu tim Anita dan Rama.
Namun saat melihat sistem kedua orang itu, Laila langsung tersenyum, 'Hanya ini kemampuan mereka?' gumam Laila merendahkan.
Memilih mengambil ponselnya dan bermain game, Laila menunggu semua peserta gugur dan meninggalkan dirinya dan tim milik Anita.
Hal tersebut sangat menarik perhatian komentator.
"Peserta 78, permepuan 20 tahun bernama Laila!
Memilih bermain game dari pada memanfaatkan waktunya untuk menyerang program milik peserta lain!
Ini pertama kalinya dalam sejarah!" Teriak komentator membuat semua orang langsung menoleh pada Laila yang benar-benar bermain game dengan ponselnya.
Hal tersebut membuat para peserta yang mendengarnya langsung menargetkan program Layla untuk mereka retas. Namun, karena terlalu sulit memecahkan kode pertahanan Laila mereka beralih pada program-program lain yang lebih mudah.
__ADS_1
"Sial!! Bagaimana bisa Laila membuat kode pengamanan yang begitu sulit?
Lapisan pertama saja sudah menghabiskan waktu kita 10 menit dan belum bisa memecahkannya!" Gerutu Anita yang kini berusaha meretas sistem keamanan program yang dibuat oleh Laila. Kecemasan melingkupi Tim mereka.