
"Sayang, ayo bawa hadiahnya lalu kita pergi menemui kakek dan nenek." Ucap Laila mengambil hadiah yang telah disiapkan Samudra dan memberikannya pada pria berumur 5 tahun itu supaya dibawa sendiri oleh Andra.
Tapi, Andra sama sekali tidak mau menyentuh hadiah itu dan hanya menatap Laila dengan tatapan memohon supaya mereka tidak usah meninggalkan kamar.
Laila kemudian berlutut dan memegang pundak Andra "Sayang, kakek dan nenek akan sangat senang kalau kita pergi ke sana, seorang pria yang baik tidak akan mengabaikan kakek dan neneknya." Ucap Laila.
Memandang Laila beberapa saat, pria kecil itu meraih catatan dan penanya lalu menulis sesuatu di kertas.
APAKAH KAKAK LAILA MENYUKAI PRIA YANG SAYANG PADA NENEK DAN KAKEKNYA?
"Tentu saja! Aku sangat menyukainya!" Ucap Laila dengan wajah meyakinkan membuat Andra akhirnya menoleh pada hadiah yang sudah di letakkan Laila di pinggir tempat tidur.
Memikirkan salah satu cara mendapatkan lebih banyak perhatian Laila adalah membawa hadiah itu pada neneknya, Andra akhirnya mengambil hadiah itu lalu tersenyum dan keluar dari kamar bersama Laila.
Baru saja mereka akan keluar dari pintu samping rumah saat melihat keramaian di luar, nyali Andra langsung menciut lalu menarik Laila ke pojokan.
"Ada apa sayang?" Tanya Laila sambil berjongkok didepan pria kecil itu.
Andra memegang hadiahnya, beberapa saat, tubuh pria kecil itu bergetar seperti orang ketakutan.
Laila menjadi panik dan melepaskan hadiah di tangan Andra lalu memeluk pria kecil itu dengan erat.
__ADS_1
"Tidak apa,, aku di sini,, aku di sini,," ucap Laila berusaha menenangkan Andra yang ketakutan di pelukannya.
'Astaga, Apa yang membuat pria kecil ini sangat takut dengan keramaian?
Kenapa aku merasa iba padanya?
Aku merasa sangat khawatir.' gumam Laila memejamkan matanya berusaha mengalirkan semua energi positif yang ia punya sekaligus menenangkan hatinya yang bergejolak.
Laila masih memeluk Andra saat pria kecil itu akhirnya tenang diperlukannya.
Laila membuka matanya dan melihat Selin sedang berjalan ke atas tangga lantai 2.
'Selin! Apakah dia yang sudah membuat Andra seperti ini?
Tapi, bagaimana bisa ibu kandung bersikap dingin pada anaknya?' gumam Laila menatap tajam punggung Selin sebelum melepaskan pelukannya dengan Andra.
"Sayangku, apa kau takut pada ibumu?" Tanya Laila menatap mata berkaca-kaca milik Andra.
Pria kecil itu mengangguk mengiyakan ucapan Layla.
"Kalau begitu, Kau tidak perlu takut karena ibumu sudah meninggalkan pesta ulang tahun nenek." Ucap Laila dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Andra masih terdiam memandangi Laila seolah pria kecil itu memang tidak sanggup untuk keluar menemui banyak orang.
Melihat itu, Laila menjadi sangat sedih 'Dulunya aku sangat senang saat anakku satu-satunya akhirnya keluar dari perut ku dan tidak menyusahkan ku lagi.
Tapi sekarang, melihat anak kecil yang diacuhkan oleh ibu kandungnya sendiri aku merasa sangat marah.
Aku menyesal karena sudah mengabaikan ank itu, anak kandungku.' gumam Laila kembali ingat peristiwa 5 tahun lalu.
Pria kecil yang melihat Laila terdiam dengan kesedihan meliputi wajahnya, pria kecil itu mengulurkan tangannya dan memegang pipi Laila.
"Aku baik-baik saja sayang. Aku hanya sedih karena mengingat sesuatu, tapi,, maukah kau menghiburku dengan melihat kembang api?
Aku dengar di ujung acara ulang tahun nenekmu akan ada kembang api." Ucap Laila.
Tanpa berpikir lagi, pria kecil itu langsung mengangguk karena tidak mau melihat Laila terus bersedih.
Akhirnya Laila tersenyum lalu mengajak Andra keluar menuju tempat pesta ulang tahun Andra di adakan.
Berjalan keluar bersama seorang pria kecil, semua orang langsung melihat ke arah mereka berdua.
Bahkan Samudra, Weleni dan juga Silas langsung menatap dua orang itu, mata Weleni berkaca-kaca karena cucunya akhirnya mau keluar dari rumah.
__ADS_1
"Siapa mereka?!" Satu kalimat yang sama ditanyakan orang-orang karena mereka belum pernah melihat Andra sejak 3 tahun yang lalu.