
Laila menoleh ke samping saat melihat kedua orang yang ia bicarai menoleh ke samping.
"Syukurlah," ucapnya meneteskan air mata.
"Dia baik-baik saja, dia terkenal 10 peluru dan semuanya sudah dikeluarkan. Dokter bilang dia juga akan sadar hari ini, tapi mungkin lebih lambat darimu." Ucap Weleni dengan suara berat.
"Mama jangan menangis," ucap Andra mengulurkan tangan kecilnya menyeka air mata Laila saat perempuan itu terus mengeluarkan air matanya.
"Maafkan mama sayang, maaf." Ucap Laila memejamkan matanya dan berusaha mengatur nafasnya yang sangat berat.
"Oh, dokter, tolong, menantu saya sudah siuman." Ucap Weleni langsung memberi jalan bagi dokter.
Dokter memeriksa Laila.
"Bagaimana Dok?" Langsung tanya Weleni saat dokter selesai memeriksa Laila.
"Dia baik-baik saja. Tubuhnya yang tidak bisa digerakkan masih dalam pengaruh obat bius." Ucap Dokter.
"Suami saya?" Tanya Laila pada Dokter.
"Luka tembaknya cukup serius, hampir saja mengenai organ pentingnya. Tapi, semua masa kritis sudah dilalui. Sekarang kita hanya perlu menunggunya bangun dan memeriksa ulang kondisinya. Nona tidak perlu kuwatir." Ucap Sang Dokter pada Laila lalu dokter pria itu berbalik melihat Weleni dan Silas.
__ADS_1
"Saya perlu mendiskusikan beberapa hal dengan Tuan dan Nyonya. Silakan ikut saya." Ucap Dokter.
"Baik," jawab Weleni lalu perempuan itu melihat sekali lagi ke Laila sebelum keluar dari ruangan.
'Semoga saja tidak seserius yang kubayangkan.' gumam Laila yang jelas tahu bahwa semua ucapan dokter yang baru saja ia dengar adalah semua kebohongan yang digunakan untuk menenangkan pasien.
Tapi sesungguhnya, keadaan yang sebenarnya akan dijelaskan ketika Weleni dan Silas sudah berbicara secara pribadi dengan dokter.
"Mama," ucap Andra saat melihat raut kesedihan masih memenuhi wajah Laila.
"Sayang, mama hanya sedih karena tidak bisa bangun dan menemanimu bermain." Ucap Laila.
"Tidak sayang, mama hanya mau di peluk." Kata Laila lalu Andra langsung memeluk perempuan itu sembari menjaga kekuatannya agar tidak menyakiti Laila.
Beberapa saat memeluk mamanya, Andra akhirnya jatuh terlelap karena pria kecil itu masih kelelahan setelah menangis beberapa waktu.
Saat Andra tertidur dan Weleni beserta Silas tidak ada di ruangan itu, Geral menggunakan kesempatan itu memasuki kamar Laila.
Laila terkejut melihat pria itu.
"Kau? Apa yang kau lakukan disini?!" Langsung tanya Laila yang belum belum tahu kalau Geral lah yang sudah menolongnya.
__ADS_1
"Aku membutuhkan anak itu. Biarkan aku meminjamnya." Ucap Geral tanpa basa basi.
"Apa katamu? Kau gila?!" Ucap Laila memberikan tatapan mematikannya pada pria yang berdiri di depannya.
"Hah,, kau bahkan tidak bisa bersikap sopan pada orang yang sudah menolongmu!" Geram Geral.
"Kau?! Cepat jelaskan!" Ucap Laila sembari meringis karena kesakitan saat ia menggunakan terlalu banyak tenaganya untuk berbicara.
'Sial..! Jelas Laila tidak akan membiarkan aku mengambil Andra. Mungkin, baru sedetik saja aku keluar dari kamar ini selalu kedua dua orang tua itu kembali kemari. Tapi kalau aku menceritakan yang sebenarnya, Dewa mungkin akan membunuhku.' gumam Geral.
"Aku akan mengatakannya kalau kau berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun, termasuk pada Dewa." Ucap Geral dijawab Laila dengan cara menyipitkan matanya berusaha menerawang pria didepannya.
"Ok, setuju!" Jawab Laila.
"Tapi aku punya satu syarat, kau harus membiarkan aku membawa anak kecil itu. Aku janji tidak akan melukai nya, aku hanya membutuhkannya sebentar saja." Lagi kata Geral membuat Laila tertawa dalam hatinya.
Lebih baik ia mati menjadi arwah penasaran daripada menyerahkan putranya pada pria yang merupakan tangan kanan Dewa.
@Info.
Otor tidak punya telinga untuk mendengar bacot kalian, tidak punya mata untuk melihat kemarahan kalian dan tidak punya hati untuk dibaperi kata galau karena novel ini tidak update..!
__ADS_1