
Setelah menerima pesan alamat dari Laila, Samudra langsung meneruskan pesan itu ke orang-orang miliknya.
Mengendarai mobilnya, Samudra berada dalam kekelaman saat membayangkan Laila baru saja bertemu dengan Dewa.
Dalam perjalanannya menuju alamat yang dikirimkan Laila, ia menerima beberapa foto dari orang-orang suruhan nya.
Laila yang baru saja turun dari sebuah taksi dan memasuki sebuah kafe yang merupakan alamat kafe yang dikirim Laila pada Samudra.
'Dia masih saja berbohong padaku? Apakah sesulit itu mempercayaiku?' gumam Samudra yang merasa kecewa pada Laila karena perempuan itu sudah membohonginya.
Meraih ponselnya, Samudra kembali menelpon seseorang "Lacak taksi yang sudah digunakan oleh istriku dan berikan informasi yang akurat." Katanya.
Setelah tiba di cafe, pria itu melihat Laila sedang menunggu di pinggir jalan dengan dua buah gelas kopi di tangannya.
Menghentikan mobilnya, dan membuka jendela mobil, Laila langsung menyambutnya dengan sebuah senyum hangat lalu berlari ke arah mobil Samudra.
'Syukurlah, tepat waktu.' gumam Laila
Dibukakan pintu oleh Samudra, Laila naik ke mobil lalu mereka berdua meninggalkan cafe.
"Aku membeli kopi." Ucap Laila menyerahkan segelas kopi pada Samudra.
"Terima kasih." Jawab Samudra.
"Sama-sama sayang." Jawab Laila sebelum perempuan itu kembali fokus pada kopi nya.
'Sial! Aku berhasil lepas dari Samudra. Menjaga Samudra tidak mengetahui tempat tinggalku, tapi aku belum tentu lolos dari mata-mata dewa.
__ADS_1
Berada diantara dua pria berkuasa, mengapa sekarang aku berpikir lebih baik menjadi Putri Belle?' Gumamnya.
Tiba di kediaman Samudra, Laila dengan patuh turun dari mobil mengikuti Samudra ke dalam rumah.
Laila bisa merasakan sikap dingin pria itu seolah ada sesuatu yang mengganjal hati yang biasanya selalu hangat saat berada di dekat Laila.
Sejak perjalanan, Samudra tidak berkata apa pun.
"Sayang?" Ucap Laila menghentikan langkahnya diikuti Samudra.
Samudra berbalik menatap Laila "Ada apa?" Tanyanya.
'Pria ini, apakah dia sudah tahu? Tidak dapatkah aku menghindarinya lebih lama?
Mencegah Dewa melukai Samudra?' Gumam Laila merasa takut jika saja Samudra dan Dewa bertemu lalu kedua orang itu saling melukai.
"Ada apa sayang?" Tanya Samudra yang bisa membaca kesedihan Laila.
"Maaf,, aku sudah terlalu jatuh cinta padamu.
Apa kau sudah meracuniku dalam beberapa hari ini?" Tanya Laila terisak.
'Mengapa? Mengapa aku menjadi lemah oleh Samudra?
Bahkan saat orang-orang melukaiku, aku selalu berhati dingin menerimanya, tapi ini,, lelaki ini,,' Laila tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Apa kau merasa sedih karena aku sudah membuatmu terlalu mencintaiku?" Samudra mempertanyakan cara Laila mengakui perasaannya.
__ADS_1
Mengatakan sesuatu yang bahagia sambil menangis?
Apa maksudnya?
Di dalam pelukan Samudra, Laila menggelengkan kepalanya dan semakin memeluk erat Samudra.
"Apa kau sudah tahu? Itu sebabnya kau berperilaku aneh?" Lagi tanya Laila membuat Samudra mematung.
Jadi, perempuan itu menangis karena dia sudah bersikap dingin selama perjalanan mereka?
"Maaf, aku tidak bermaksud memata-mataimu, tidak bermaksud bersikap dingin padamu." Ucap Samudra.
"Hiks,, aku yang salah,, tidak seharusnya aku menyembunyikan sesuatu yang sangat tidak penting seperti itu.
Tapi,, aku hanya takut kalau kau terluka karena mereka.
Mereka selalu mengawasi ku saat aku berada di luar rumahmu." Isak Laila.
"Aku mengerti,, maafkan aku." Ucap Samudra kini berusaha menenangkan Laila.
Menghirup nafas panjang, Laila melepaskan pelukan mereka dan menyeka air mata di pipinya.
"Malam ini, ayo menginap di apartemenku." Katanya menatap Samudra.
"Bukankah mereka-"
"Tidak, mereka pasti sudah pergi." Ucap Laila lalu menarik Samudra keluar dari rumah.
__ADS_1
'Tidak!! Aku tidak mampu kehilangan Samudra! Juga tidak bisa membohonginya!' gumamnya menguatkan tekad.