
Menaiki lantai 2, Samudra langsung membuka kamar Andra dan melihat dua orang sedang terlelap di atas tempat tidur.
Dua orang itu berpelukan dengan erat dan terlihat Andra sepertinya tidak mau lagi kecolongan hingga pria kecil itu Bahkan dalam tidurnya tetap menggunakan kekuatan untuk memeluk Laila.
Tersenyum dengan kelakuan putranya, Samudra naik ke tempat tidur dan mencium pipi Laila beberapa kali.
"Hmm, sayang," ucap Laila saat perempuan itu terbangun karena terusik dengan tingkah Samudra.
"Ayo pindah ke depan." Ucap Samudra berbisik.
"Hmm? Tidak! Kita sedang ada di rumah ayah dan ibumu.
Jangan berpikir macam-macam!" Kata Laila yang tidak mau membiarkan calon mertuanya berpikir buruk tentangnya.
Akan sangat mengerikan jika orangtua Samudra memergokinya sedang tidur bersama putranya!
Padahal, mereka tidak memiliki hubungan apapun!
"Kalau begitu, biarkan aku memelukmu sebentar." Ucap Samudra disanggupi oleh Laila.
Melepas pelukan Andra, Laila mengganti tubuhnya dengan guling untuk dipeluk oleh Andra lalu dia bergeser pelan ke pinggir kasur dan duduk di pangkuan Samudra.
"Kau terlihat kelelahan. Apa kau sudah makan malam?" Tanya Laila meraba wajah Samudra yang terlihat kusam karena stress.
__ADS_1
"Aku baik-biak saja. Aku juga sudah makan." Kata Samudra segera berdiri membuat Laila terkejut dan memeluk Samudra dengan erat supaya ia tidak jatuh.
"Kau mau kemana?" Tanya Layla dengan panik saat Samudra berjalan ke arah pintu dan mereka berpindah kamar ke seberang kamar Samudra berada.
"Aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu." Kata Samudra meletakkan Laila di atas tempat tidur dan ikut juga berbaring memeluk perempuan itu.
"Kau tidak mandi?" Tanya Laila kini baru pasrah mengikuti apapun yang diinginkan kekasihnya.
"Sebentar," kata Samudra dengan suara malas sambil menenggelamkan wajahnya di dada Laila.
Mengusap rambut hitam milik Samudra, Laila membiarkan pria itu bermalas-malasan di pelukannya hingga Laila pun tanpa sadar tertidur.
Malam berlalu dengan cepat, di pagi hari Laila bangun pada pukul 7 pagi dan tersentak meninggalkan Samudra yang masih lelap dalam tidurnya.
Perempuan itu baru saja keluar dari kamar Andra.
'Mampus!! Aku ketahuan.' gumamnya menghembuskan nafasnya dengan pelan.
"Selamat pagi Tan, Ibu." Ucap Laila mengubah nama panggilannya pada Weleni karena kemarin siang dia sudah diperingatkan oleh Silas supaya memanggil mereka dengan sebutan ibu dan ayah.
"Selamat pagi sayang." Jawab Weleni bersemangat.
Itu adalah kedua kalinya ia memergoki Laila berada di kamar yang sama dengan Samudra.
__ADS_1
Ditambah kejadian yang diceritakan suaminya, Weleni kini bisa memastikan kalau cucu keduanya sudah ada di perut Laila!
"Maaf, aku bangun terlambat dan-"
"Tidak masalah, perempuan memang biasa seperti itu.
Ayah turun ke bawah, Ibu sudah menyiapkan makanan bergizi untukmu." Ucap Weleni merangkul Laila sembari menuntun perempuan itu dengan hati-hati menuruni tangga ke lantai 1.
Berjalan dengan kaku dan dalam kebingungannya pada Weleni, Laila merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Bagaimana mungkin perempuan terhormat seperti Weleni sama sekali tidak marah padanya saat mengetahui, di pagi hari seorang perempuan keluar dari kamar anak laki-lakinya!
'Sial! Aku harus tenang, tidak boleh menebak-nebak sembarang!' gumam Laila terlalu gugup karena baru pertama kalinya menghadapi seorang calon mertua.
Menghadapi calon mertua jauh lebih sulit dari pada menghadapi Dewa!
@Interaksi
Kalo lihat wajah Dewi jadi lebih ngakak lagi,
Pantas ajah di profil cuma ada D, menghindari ke_ngakak_an sejagad novel....😂🤭✌️
__ADS_1