
"Berhentilah, Melinda ikuti aku." Ucap Laila setelah Melinda sudah cukup lama memukuli Andra.
"Baik Bos!" Ucap Melinda masih memberikan tatapan peringatan pada ke Kendra sebelum mengikuti Laila ke dalam rumah.
Sementara Weleni yang melihat Melinda sudah pergi bersama Laila, perempuan itu akhirnya tersenyum.
"Ibu,, bagaimana bisa kau membiarkan perempuan itu terus memukuliku? Bagaimana kalau dia membunuhku? Apa kau juga akan diam saja melihat kematianku?" Tanya Kendra pada ibunya.
Menoleh melihat anaknya dengan tatapan kesal, "Mengapa kau sangat kekanak-kanakan? Lihat dirimu, kau masih sehat seperti ini, jadi untuk apa Ibu kuatir?!" Ucap Weleni sebelum pergi meninggalkan putranya.
Kendra tediam.
'Astaga,, sekarang aku benar-benar tidak percaya kalau ibuku masih menganggapku sebagai putranya!' gumam Kendra tak habis pikir dengan ucapan ibunya.
Sementara di ruang kerja Laila, Laila menerima berkas-berkas dari tangan Melinda dan membacanya satu persatu sebelum membubuhkan tanda tangannya.
Setelah selesai, ia mengembalikan berkas berkas itu pada Melinda.
"Bagaiman situasi kantor?" Tanya Laila.
"Semuanya aman terkendali," jawab Melinda.
"Baguslah, pokoknya kalau ada berkas yang perlu ditandatangani, kau bisa datang membawanya ke sini. Tapi jangan memberitahu siapapun kalau aku tinggal di sini." Ucap Laila.
__ADS_1
"Saya mengerti." Jawab Melinda.
"Ok,, sepertinya sudah tidak ada lagi." Ucap Laila.
"Masih ada satu Nyonya," ucap Melinda membuat Laila melihat kearah perempuan itu.
"Apa itu?" Tanya Laila.
"Ini Bukan soal kerjaan, tapi saya melihat Nyonya Bos cukup dekat dengan pria yang ada di luar tadi. Saya hanya mau memperingatkan Nyonya bos Kalau pria itu tidak cukup baik, Tolong jangan tertipu oleh pria itu." Ucap Melinda dengan wajah yang sangat meyakinkan.
"Dari mana kau tahu?" Tanya balik Layla yang tidak percaya bahwa Kendra memiliki hubungan dengan seorang perempuan biasa-biasa saja seperti Melinda.
"Saya tidak bisa mengatakannya, tapi saya hanya mau memperingatkan Nyonya Bos supaya berhati-hati, bahkan sebaiknya Nyonya Bos menjauhinya saja!" Ucap Melinda.
"Jadi, apa kau mengenalnya?" Tanya Laila.
"Baiklah, aku akan mengingat nasihatmu. Kau boleh pergi sekarang, dan sekali lagi kku ingatkan, supaya tidak ada satupun orang yang tahu kalau aku tinggal di sini. Mengerti?"
"Mengerti Bu!" Ucap Melinda sebelum keluar dari ruangan lainnya.
Begitu menutup pintu di belakangnya, Melinda terkejut melihat Kendra dan Weleni berdiri menatapnya.
'Kenapa pria ini ada disini?' kesal Melinda dalam hati namun tidak menampakkannya.
__ADS_1
"Nyonya, Saya permisi pulang dulu." Ucap Melinda memberi hormat pada Weleni.
"Sebelum pulang, saya ingin berbicara denganmu sebentar." Ucap Weleni berjalan meninggalkan Kendra diikuti oleh Melinda.
'Apa yang akan mereka bicarakan?' Kendra sangat penasaran, tapi dia masih punya tugas dari kakaknya.
'Sial..!' Gerutu Kendra membuka pintu kerja Laila dan menemui kakak iparnya.
"Kau juga datang menemuiku?" Ucap Laila.
"Aku dapat perintah dari kakak untuk menyerahkan ini padamu." Ucap Kendra menyerahkan sebuah pulpen pada Laila.
"Ini?" Laila kebingungan, hanya sebuah pulpen dan Samudra sampai menyuruh Kendra mengantarnya?
"Jangan di dengarkan dulu, Kakakku bilang aku tidak boleh mendengarnya." Ucap Kendra menghentikan Layla yang hendak menekan tombol kecil di bagian atas pulpen.
"Lalu kau bisa keluar." Ucap Laila yang sudah tidak sabar untuk mendengarkan rekaman apa yang disimpan di dalam pulpen itu.
"Baik!" Langsung jawab Kendra lalu berlari keluar dari ruangan Laila untuk mencari Weleni dan Melinda yang sedang berbicara berdua.
@Interaksi
__ADS_1
Salam kenal...
Otor gak pernah cerewet kalo lagi tidur, jadi santuy ajah ya.......!!