Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 218. Berbicara dengan Laila


__ADS_3

Andra mendorong kursi roda Laila kearah semua orang yang kini menatapnya.


Namun, diantara semua orang itu, tatapan Laila lebih fokus pada seorang perempuan yang duduk di samping Morgan tanpa ia tahu alasannya.


"Halo semuanya, maaf baru bisa menyapa kalian." Ucap Laila.


"Ah, tidak masalah, kami semua mengerti kok." Ucap Morgan.


"Sepertinya kalian perlu waktu untuk berbicara secara pribadi, kalau begitu kami akan meninggalkan kalian." Ucap Silas saat melihat tatapan Laila yang sangat lekat pada Adelin.


"Ayahku benar, kalau begitu, kami permisi." Ucap Kendra lalu menggenggam tangan Melinda dan ketiga orang itu segera keluar dari ruangan berpindah ke kamar Samudra.


Membiarkan kepergian ketiga orang itu, Laila menoleh pada Dewa dengan tatapan penuh tanya.


"Ini Morgan Mattew dan Adelin Mattew, mereka adalah sepupu dan sepupu iparku. Ada hal penting yang ingin mereka bicarakan dengan mu." Ucap Dewa lalu pria itu segera berdiri dan membawa Andra dalam gendongannya.


Karena semua orang sudah pergi, Adelin langsung berdiri dan berjalan ke sisi Laila.


"Laila, dapatkan aku melihat lengan kananmu?" Tanya Adelin.


Laila keheranan, namun perasaan nyaman yang ia rasakan saat didekati oleh Adelin membuatnya secara spontan menggulung lengan bajunya.


Di lengan atas Laila terdapat sebuah tanda lahir berwarna merah pudar. Tanda lahir yang sama dengan yang Adelin lihat di bayinya saat baru lahir.

__ADS_1


"Tanda ini,," Adelin langsung memeluk Laila.


"Anakku!" Ucap Adelin sambil terisak.


Laila yang tidak mengerti apapun juga tidak bisa mengendalikan dirinya dan ikut terisak dalam pelukan Adelin.


"Ini anak kita sayang,, Anak kita..!" Ucap Adelin semakin keras menangis.


Akhirnya, anaknya yang tertukar 20 tahun yang lalu kini kembali kedekapannya.


Melihat istrinya yang terlalu histeris, Morgan mendekati Adelin dan mengusap punggung perempuan itu.


"Sayang, Laila jadi ikut menangis padahal dia sedang sakit. Ayo kendalikan dirimu, jangan membuat Laila jadi bingung begini." Ucap Morgan.


"Maaf, Saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dan pun saya tidak mengerti mengapa saya jadi ikut menangis seperti ini." Ucap Laila ikut menyeka air matanya.


Mendengar ucapan Laila, Adelin langsung berlutut di depan Laila dan menatap mata Laila.


"Sayang, ini Ibu, ibu kandung kamu." Ucap Adelin membuat Laila mengeryit.


"Nyonya, apa maksud Nyonya?" Tanya Laila yang setahunya dia hanyalah anak jalanan yang dipungut oleh Irmawati.


Bagaimana bisa ia berubah menjadi anak dari orang-orang yang terhormat?

__ADS_1


"Laila,, ini Ibu,, ini ibu," Adeline berbicara dengan nafas yang sesak.


"Sudah,, sudah," Morgan membantu Adelin berdiri dan memimpin perempuan itu duduk di sofa.


Laila memutar kursi rodanya supaya bisa menghadap ke Adelin dan Morgan yang duduk berdua di sofa.


Pria itu memeluk istrinya yang terus terisak karena tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Laila, maafkan kami." Ucap Morgan.


"Bukan masalah besar," jawab Layla menahan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin Ia lontarkan pada dua orang di depannya.


Tapi dia juga mengerti bahwa saat itu bukanlah saat yang tepat apalagi melihat Adelin yang terlalu sulit mengendalikan emosinya.


"Sayang, tolong jelaskan padanya, aku merasa sesak." Ucap Adelin yang mulai terengah.


"Baiklah, berbaringlah dulu." Ucap Morgan membantu istrinya berbaring.


Penyakit sesak yang diderita istrinya adalah akibat dari penelitiannya pada 10 tahun yang lalu. Adelin terkena radiasi di laboratorium.


"Aku baik-baik saja. Tolong bicara pada putri kita." Ucap Adelin mengatur nafasnya.


"Baiklah, baik, aku akan bicara dengan Laila." Jawab Morgan.

__ADS_1


@Interaksi


__ADS_2