
Resepsi pernikahan yang digelar di aula utama sudah dimulai dan semua orang sudah berkumpul di meja yang disiapkan untuk keluarga Anderson kecuali Kendra dan Melinda.
"Sayang, suruhlah seseorang untuk mengecek mereka berdua. Aku takut sesuatu terjadi pada mereka." Bisikan Laila pada Samudra yang duduk disampingnya.
"Mereka baik-baik saja." Jawab Samudra memegang tangan istrinya.
"Tapi aku kuatir, sebab tadi aku melihat wajah Melinda sangat pucat." Ucap Laila yang sebenarnya kuatir jika saja Kendra sudah macam-macam pada Melinda.
Karena waktu pertama kali ia bertemu dengan Kendra, lelaki itu dengan terus terang berbicara bahwa Kendra menginginkannya.
"Apa yang kalian bicarakan sampai bisik-bisik seperti itu?" Tanya Weleni saat melihat kedua orang itu berbisik-bisik.
"Ah, ini Bu, Kendra dan Melinda belum datang juga, aku hanya takut sesuatu terjadi pada mereka." Ucap Laila.
"Tenang saja, Ibu sedang menyuruh seseorang memeriksanya dan mereka baik-baik saja. Mungkin mereka tidak istirahat ketika di pesawat karena mereka tidur di kamar yang sama." Ucap Weleni.
"Benar juga, mereka tidak pernah akur," ucap Laila tidak mau membantah Weleni meskinya dalam hatinya ia masih terlalu kuatir.
Sementara, di kamar lantai 5, Melinda baru saja membuka matanya dan mendapati dirinya berada di dalam bak mandi yang berisi air dingin.
Beberapa bulir es batu pun melayang-layang di atas permukaan air.
"Mmh?" Melinda mengeryit dengan tubuh gemetaran karena kedinginan.
__ADS_1
Perempuan itu segera keluar dari bak mandi dan berjalan ke arah arah shower, menyalakan shower dengan air hangat.
"Sial..! Apa yang terjadi padaku?" Melinda melepas gaun biru safir yang masih melekat di tubuhnya.
Setelah mandi singkat, Melinda keluar dari kamar mandi menggunakan selilit handuk yang disediakan pihak hotel.
Ia terkejut kalau kamar itu kosong dan tidak ada koper dan barang-barangnya yang diletakkan di sana.
"Dimana semua milikku?" Ucapnya menahan kedinginan sembari mencari barang-barangnya.
Karena tak menemukannya, Melinda meraih telpon hotel di kamarnya dan menelepon resepsionis hotel.
"Halo, saya dari kamar 515, Saya ingin bertanya tentang barang-barang saya yang belum sampai di kamar saya." Kata Melinda dengan terburu-buru tanpa mau menunggu sang resepsionis berbicara lebih dulu.
"Kamar 515 oleh Nona Melinda?"
"Ya betul," jawab Melinda.
"Semua barang-barang Nona sudah kami antarkan ke kamar 516 sesuai permintaan Nona." Jawab sang resepsionis hotel membuat Melinda menganga di tempatnya.
Tapi dia sudah terlalu kedinginan untuk berdebat dengan pihak resepsionis jadi dia langsung menutup telepon itu dan keluar membuka pintu kamarnya.
Setelah memastikan koridor itu kosong, ia lalu menekan bel pada pintu kamar di seberang kamarnya.
__ADS_1
Saat itu, Kendra baru selesai bersiap untuk pergi menghadiri resepsi pernikahan.
"Siapa itu?!" Gerutunya berjalan ke arah pintu dan melihat Melinda sedang menekan-nekan bel kamarnya dengan hanya memakai sehelai handuk saja.
"Gadis bodoh..!" Gram Kendra langsung membuka pintu dan menarik perempuan itu ke dalam kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Kendra tak dihiraukan oleh Melinda karena perempuan itu memilih memasuki kamar Kendra untuk mencari barang-barangnya.
"Apa yang kau cari?" Tanya Kendra.
"Dimana koperku?" Tanya Melinda.
"Kepermu?! Haha,, Apakah aku terlihat seperti pencuri? Lagipula, Apa yang kau lakukan berkeliaran dengan hanya berbalut sehelai handuk seperti itu?" Tanya Kendra sembari memalingkan wajahnya dari Melinda supaya bisa menahan dirinya.
Bagaimanapun, beberapa waktu yang lalu ia sempat berciuman dengan Melinda bahkan sampai meraba-raba tubuh Perempuan itu.
Bahkan, ia hampir sampai ke tahap terakhir saat ia menyadari bahwa perempuan itu masih perawan, jadi dia tidak tega menyakiti Melinda dan memilih kembali ke kamarnya menyelesaikan masalah pribadinya di bawah shower.
@Interaksi
Beruang menunggumu di kutub Utara..!
__ADS_1