
Selesai mengantar Samudra Laila dan Andra kerumahnya, Kendra tidak bisa menahan diri untuk segera pergi ke kuil menemui kedua orang.
Berada di dalam mobil yang dikendarai oleh asistennya, Kendra sibuk memilah-milah foto dan video yang akan diperlihatkan pada orang tuanya.
"Hmm, kira-kira, apa yang harus kuminta dari ayah dan ibu?" Ucap Kendra sembari memikirkan imbalan yang paling pas untuk usahanya selama 2 hari itu.
Dan akhirnya, setelah perjalanan Kendra selama 2 jam, pria itu tiba di kuil menggunakan helikopter yang kemudian mendarat di depan kuil.
Semua orang yang ada di situ sangat terkejut melihat seseorang yang berani membawa helikopter ke kuil suci tersebut.
"Astaga, Siapa orang bodoh itu? Apakah dia tidak takut dikutuk oleh Buddha?" Ucap sala seorang berbisik-bisik dengan yang lainnya.
"Sungguh berdosa, semoga kita semua di ampuni."
Dan akhirnya, orang yang mereka tunggu-tunggu turun juga dari atas helikopter dengan wajah penuh kesombongan.
"Hah,, tempat ini benar-benar kuno! Aku tidak yakin apakah ayah dan ibuku sudah dipelet hingga mau tinggal di tempat ini selama beberapa hari!" Ucapnya sambil berdecak.
Berjalan meninggalkan helikopternya, ia mendekati seorang biksu yang kini berjalan ke arahnya juga.
"Om Swastyastu," ucap sang biksu pada Kendra.
"Halo Pak Tua, saya datang kemari mencari ibu dan ayah saya!
__ADS_1
Namanya ahhh!!!" Kendra tiba-tiba menjerit saat seseorang datang menarik telinganya dengan keras.
"Anak Berandal!! Beraninya kau membuat keributan di tempat suci ini!" Ucap Weleni menarik telinga Kendra hingga rasanya daun telinganya hendak berpisah dari pangkal telinganya.
"Ahh!!! Ibu!! Tolong berhenti!!! Aku salah!! Aku salah!!!" Teriak Kendra menahan kesakitannya.
"Saya minta maaf, ini adalah putra bungsu saya yang sangat susah diatur.
Tolong maafkan keributan besar yang sudah ia ditimbulkan." Ucap Silas membungkus 90° pada biksu yang selalu tenang itu.
"Jangan memarahi putramu. Sebuah kemajuan yang sangat besar ketika dia mau datang ke kuil ini.
Bukankah Sudah dari lama kau dan istrimu datang mendoakannya?" Ucap Sang Biksu.
"Ayah,, tidak!!! Jangan suruh pergi!!!" Ucap Kendra mencegah Ayahnya.
Tapi apapun yang dikatakan pria itu, Silas tidak mau mendengarnya dan helikopter sudah terbang jauh meninggalkan kuil yang berada di atas puncak gunung.
"Ayah,, bagaimana kita akan meninggalkan tempat ini jika helikopternya sudah pergi?" Ucap Kendra tak percaya.
"Anak muda, kita sudah dikaruniai sepasang kaki untuk berjalan.
Kuil ini memiliki tangga yang bisa kau lalui untuk pulang." Ucap Biksu membuat Kendra hampir muntah paku!
__ADS_1
Anak tangga menuju kuil itu terdiri dari 3000 anak tangga.
Kalau ada kendaraan untuk mempermudahnya meninggalkan tempat itu, mengapa harus mencari jalan yang susah.
Tapi mengingat kembali tujuan awalnya datang ke situ, maka Kendra berusaha mengendalikan diri supaya tidak membantah sang biksu.
"Terima kasih telah mengingatkan saya. Lagipula, 3000 anak tangga tidak terlalu melelahkan untuk diturunin." Ucap Kendra sambil mengepalkan tangannya berusaha menahan emosinya.
"Anak muda yang bijak." Ucap Sang Biksu.
Setelah menyelesaikan keributan yang dibuat oleh Kendra, ketiga orang itu akhirnya berdoa di dalam kuil.
Duduk dilantai membuat kaki Kendra menjadi kesemutan hingga ia bahkan tidak bisa merasakan sakit yang di timbulkan oleh cubitan tangannya sendiri.
'Astaga,, aku datang kemari untuk mencari sebuah kebahagiaan mengapa malah mendapat siksaan seperti ini?' gumamnya hendak menangis.
Kendra terus melirik kedua orang tuanya yang masih terus berdoa, 'Tak habis pikir, mereka berada dalam posisi ini selama berjam-jam?
Bukankah posisi ini akan membuat mereka tambah sakit?' gumam Kendra merasa frustasi.
@Interaksi
Komen di bawah ini hanya bikin mata sakit, di skip ajah ya...
__ADS_1