
Samudra menatap puas pada perempuan di depannya.
Akhirnya, setelah menunggu sepanjang sore hingga malam, akhirnya ia memiliki kesempatan berduaan saja dengan Layla tanpa gangguan Andra ataupun orang lain.
"Ceritakan." Ucapan Laila dengan wajah datarnya, tidak mau berbasa-basi dengan pria di depannya.
"Sepertinya, kaulah yang harus lebih dulu menceritakannya.
Kenapa kau masuk ke rumah ini dan menggodaku?" Tanya Samudra menatap dalam Laila.
Laila tersenyum menyindir, ia datang untuk menggoda Samudra?
Sepotong pun dari perkataan pria itu sama sekali tidak ada benarnya!
"Menggodamu? Ck,, ck,, kau ke-PD-an!" Ucapkan sambil tersenyum meremehkan Samudra.
"Meskipun itu bukan tujuan pertamamu, tapi pada akhirnya kau tetap menggodaku bukan?
Tapi tenang saja, aku menyukaimu, jadi aku membiarkannya!" Ucap Samudra yang masih tersenyum.
Layla tidak bisa membantah ucapan Samudra karena ucapan Samudra memang benar!
"Baiklah, tapi semua itu terjadi karena kau yang memulainya.
Jadi kau tidak mungkin menyalahkanku!" Ucap Laila yang kini terlihat seperti seorang kekasih yang sedang merajuk.
__ADS_1
Hal itu membuat Samudra semakin melebarkan senyumnya.
"Jadi,, apa alasan sebenarnya sehingga kau mau datang kemari untuk kugoda?" Tanya Samudra menikmati wajah kesal yang ditampakkan Laila.
"Aku tidak suka berbagi perasaan dengan orang asing.
Tapi karena sudah terlanjur ketahuan, aku akan mengatakannya." Laila menghela nafas sebelum raut wajahnya menjadi serius.
"Aku seorang anggota mafia. Kau pasti sudah tahu itu.
Untuk mendapatkan kebebasan, aku memiliki misi terakhir untuk menjadi tangga bagi geng mafia untuk menjatuhkanmu.
Yang ku perlukan adalah berkas penting perusahaan dan keluargamu, juga mengawasi pergerakan keluargamu.
Waktuku 6 bulan untuk melakukannya." Cerita Laila membuat Samudra semakin senang karena ternyata Laila melakukan semuanya itu untuk mendapatkan kebebasan dari Dewa.
Melihat reaksi Samudra, Laila menjadi semakin bingung dengan pria itu.
Tidak ada keterkejutan, bahkan tidak ada kemarahan ataupun sedikit kekecewaan.
"Jadi, mengapa kau membiarkanku tetap ada di sini saat kau tahu aku adalah seorang mata-mata?" Tanya Laila.
"Aku sudah bilang, karena aku menyukaimu." Jawab samudra dengan enteng.
Deg..!!!
__ADS_1
Jantung Laila kembali berdetak tak menantu, perempuan itu berusaha menutupi perasaannya dengan tertawa nyinyir.
"Haha,, jadi kau sedang mengatakan bahwa kau rela mengorbankan perusahaan dan keluargamu demi orang yang kamu sukai?" Tanya Laila yang sebenarnya pertanyaan itu sedang digunakan untuk mengejek Samudra.
"Kalau tidak begtu, mana mungkin aku repot-repot membiarkanmu membongkar berkas-berkas penting di kamarku." Jawab Samudra tanpa beban.
Hal itu membuat Laila merasa bahwa pria didepannya cukuplah romantis sebagai seorang pria.
Laila sudah pernah mendengar sejuta kata rayuan, dan semua itu selalu di hadapi dengan hati yang dingin.
Namun, entah mengapa saat ini, hatinya bergetar kuat saat mendengar rayuan samudra yang menurutnya bukan hanya omong kosong belaka.
Pria itu,, membuktikan omongannya sebelum berbicara!
Melihat Layla kini memikirkan kata-katanya, Samudra berpikir ini adalah waktu yang tepat.
Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya.
Sebuah kotak cincin dengan tutup transparan yang memungkinkan Laila dapat melihat cincin di dalam kotak itu.
Cincin yang terlihat manis dengan berlian yang bersinar, itu adalah berlian terindah yang pernah ia lihat bahkan mengalahkan berlian yang pernah ia dapatkan dari seorang Dewa!
Sesaat, Laila tertegun.
Bukan karena berlian pada cincin yang diperlihatkan Samudra, tapi semua ketulusan yang ditampakkan oleh pria didepannya.
__ADS_1
'Apa ini? Mengapa aku,,' Laila menghela nafas, berusaha menenangkan diri.