
Selama 3 hari menunggu hasil tes DNA, Layla dan Samudra menjalani serangkaian pemeriksaan dan semua tindakan yang dilakukan pada Laila dan Samudra dipimpin langsung oleh Adelin.
Setelah mendapatkan hasil tes DNA nya, Adelin tidak membuka amplop itu dan memilih membawanya ke kamar Layla dan Samudra untuk disaksikan semua orang.
"Ibu," Laila langsung menyapa Adelin ketika perempuan dengan jubah putih itu memasuki kamarnya.
Entah kenapa, sejak mendengar semua penjelasan Morgan, Laila tidak bisa berhenti memanggil Adelin dengan sebutan ibu.
Mulutnya seolah berbicara dengan spontan dan tidak dapat dikendalikan.
"Halo sayang," ucap Adelin lalu perempuan itu berjalan mendekati Laila.
Ia duduk di samping Laila dan tersenyum kearah Samudra yang sedang memandang padanya.
"Hasil pemeriksaan kalian berdua sudah keluar." Ucap Adelin.
"Lalu, bagaimana suamiku Bu? Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Laila dengan kecemasan memenuhi wajahnya karena sudah berapa lama mereka berada di rumah sakit dan suaminya bahkan belum bisa bangun sendiri ataupun hanya untuk mengubah posisi tidurnya tanpa dibantu oleh orang lain.
Mendengar pertanyaan Laila, Adelin meringis dalam hatinya.
'Cinta Laila pada Samudra begitu besar hingga perempuan itu bahkan tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri dan lebih mengkhawatirkan suaminya. Padahal, Laila belum tahu kalau salah satu organ pentingnya telah hilang dari tubuhnya.' Gumam Adelin.
__ADS_1
"Sayang maafkan Ibu, Samudra mengalami kelumpuhan pada setengah badannya dibagian kiri. Tapi kamu jangan kuatir, dengan terapi menggunakan alat yang Ibu kembangkan di pulau putih dia akan sembuh dalam beberapa bulan." Ucap Adelin.
Wajah Laila yang semula terlihat sangat suram langsung dipenuhi kelegaan saat mendengar kata kesembuhan.
"Terima kasih Bu," ucap Laila dengan lega langsung memeluk Adelin.
Dia sudah menduganya, Dia sudah menduga kalau suaminya mungkin mengalami kelumpuhan pada beberapa bagian tubuhnya.
"Aku tidak menduga kalau pertolongan kami datang di saat-saat terakhir bersama dengan kebahagiaan ku menemukan orang tua kandungku." Ucap Laila dengan suara penuh syukur.
"Sayang, justru ibu lah yang merasa sangat bersalah. Seandainya dulu ibu melakukan tes DNA pada putri yang kami bawa dari rumah sakit, ibu pasti akan lebih cepat menemukanmu dan tidak perlu mengalami semua penderitaan ini." Ucap Adelin yang merasa sangat menyesal setelah mendengar semua cerita Samudra tentang masa kelam Laila.
"Tidak Bu, ini bukan salah Ibu." Ucap Laila.
Adelin memberikan amplop yang ia bawa supaya Layla yang membuka amplop itu.
"Aku juga merasakan hal yang sama dengan ibu, entah kenapa, aku sangat yakin bahkan tidak ada sedikitpun keraguan. Bahkan jika sering negatif, Aku tidak akan berubah pada Ibu.
"Aku akan terus memanggil ibu sebagai ibu karena aku merasa sangat hangat setiap kali berpelukan dan menatap mata Ibu. " Ucap Laila sambil tersenyum lalu perempuan itu membuka amplop di tangannya.
Membaca surat yang ia pegang, Laila kemudian menangis dengan sangat keras.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" Wajah Adelin menjadi sangat panik saat ia mengambil surat yang sudah dijatuhkan Laila karena perempuan itu menggunakan kedua tangannya menutupi wajahnya.
"Positif," Adelin membaca kata positif pada hasil pemeriksaan itu dan langsung memeluk Laila dengan erat.
Kedua perempuan itu menangis dengan keras membuat beberapa orang yang mendengarnya langsung berlari ke dalam kamar karena kepanikan.
"Ada apa ini?" Tanya Silas.
"Mereka baru saja melihat hasil tes DNA nya." Ucap Samudra dengan wajah tersenyum.
Mendengar kata putranya, Weleni langsung mengambil surat yang sudah jatuh di lantai dan membacanya bersama silas.
"Mereka benar-benar ibu dan anak kandung." Ucap Weleni.
Saat itu juga, Morgan memasuki kamar dan mendengarkan hasil tes DNA nya.
Pria itu dengan wajah melow mendekati Laila dan Adelin lalu memeluk kedua perempuan itu.
Akhirnya, anak mereka sudah kembali.
@Interaksi
__ADS_1
Mahluk bumi bener-bener deh..! Kanibal menjijikkan!