
Berada di atas helikopter, Geral melihat perempuan yang begitu bodoh keluar dari dalam mobil.
'Laila, Apakah kau benar-benar sudah terpikat oleh pria itu hingga mau mati demi melindungi seluruh keluarganya?' gumam Geral tak habis pikir.
"Fokuskan tembakan ke Rizal dan orang-orangnya." Ucap Geral.
"Baik Tuan."
Sementara Laila yang terkena hembusan angin malam yang sangat menusuk badannya, perempuan itu melihat ke langit ke arah helikopter yang sedang terbang di atas mereka.
'Helikopter ini bukan milik Dewa,' gumamnya saat ia tidak mendapati tanda kepemilikan Dewa di badan helikopter itu.
'Benar, untuk apa mengharapkan pria yang telah kusakiti? Bodoh sekali..!' Laila berbalik dengan langkah yang mantap menghadapi Rizal.
Pria di depannya langsung mengangkat pistol dan membidik dada kiri memiliki Laila.
"Tuan Rizal, Saya tidak menyangka Tuan akan berubah menjadi sejahat ini hanya karena kejahatan yang dilakukan oleh Putri tuan. Sayang sekali, satu lagi orang baik di dunia ini berubah menjadi-"
"Diam..! Jallang kecil!! Dengar ya,, Aku tidak pernah berniat untuk melakukan ini padamu, tapi karena apa yang kau lakukan pada keluargaku dengan menghancurkan perusahaanku, putriku harus menjalani hidupnya dengan keras!" Ucap Rizal penuh kegeraman memikirkan putrinya yang kini berada dalam pelukan seorang pria tua.
"Tuan Rizal, lalu apa mau Tuan?" Tanya Laila dengan wajah yang tenang.
"Mauku? Haha,, Aku mau semua keluarga Anderson hari ini harus mati, dan termasuk dirimu..!" Ucap Rizal menarik pelatuk pistolnya hingga sebuah peluru meluncur dari ujung pistol ke arah Laila.
__ADS_1
"Laila..!" Teriak Weleni dan Silas yang sementara dalam mobil.
"Tuan..!" Pria yang bertugas menembak di atas helikopter juga langsung melihat ke arah Geral, tapi pria itu hanya duduk dengan tenang.
Saat berikutnya, mereka terkejut saat peluruh itu malah tertancap di kaca mobil.
Laila berhasil menghindar!
"Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa kau menghindari peluru ku?!" Tanya Rizal tidak percaya dengan perempuan di depannya.
Laila tidak merespon kata-kata pria itu kemah karena dia memang terkenal lincah dalam bergerak, tapi tidak punya kekuatan saat beradu fisik.
Melihat kelengahan Rizal yang terkejut, Laila langsung mengambil sebuah pistol dari pinggang salah satu bawahan Samudra.
Dalam sekejap, adu tembak antara dua kubu berlangsung dengan sangat sedikit, sementara helikopter yang berada diatas mereka menjadi penonton tanpa ada tindakan.
Silas Weleni yang baru pertama kali menyaksikan adegan seperti itu hanya bisa membungkuk di dalam mobil sembari bersembunyi memeluk cucu mereka.
Untungnya, mobil yang mereka tempati adalah mobil canggih anti peluru, jadi mereka tetap aman selagi mereka terus berada di dalam mobil.
Laila bersembunyi di samping mobil dan sesekali melihat ke arah helikopter.
'Aneh, mengapa mereka diam saja? Tidak,, aku tidak boleh memberi kesempatan pada siapapun!' gumam Laila.
__ADS_1
"Apa kalian punya senjata yang bisa mencapai helikopter itu?" Tanya Laila diantara deretan tembakannya.
Pria yang berada di dekat Laila langsung melemparkan senjatanya dan mengambil senjata cadangannya di pinggangnya.
Sementara, orang-orang Rizal sudah terpukul mudur, dan satu-satunya yang menghalangi mereka adalah helikopter yang terbang di atas mereka.
"Tidak..!" Teriak salah satu orang-orang suruhan Robert saat saudara kembarnya telah ditembak oleh salah satu bawahan Laila.
Pria itu menggeram dengan keras dan penuh tekad melayangkan serentetan tembakannya ke arah musuh.
"Sial..! Mereka punya banyak senjata!" Ucap salah satu pria di dekat Laila saat pria itu sudah kehabisan peluru dan kini hanya bisa menggunakan pistol kecil miliknya.
Sementara Laila, perempuan itu berjongkok melihat keadaan di depan sebelum dengan tiba-tiba mengangkat senjatanya dan menembak ke arah helikopter.
Dor..!
Tembakan yang tiba-tiba tidak mampu dihindari oleh pilot helikopter membuat helikopter itu menjadi oleng karena pilot terkena tembakan di bagian kepala.
"Laila..! Kau akan menyesal saat tahu siapa yang berani kau celakai!" Geral melompat ke depan mengambil alih kemudi.
"Haruskah aku menembaknya?" Tanya salah seorang yang sedang memegang pistol di atas helikopter.
"Jangan tembak! Kita kemari untuk melindungi Laila, bukan untuk melukainya!" Teriak Geral sembari mendorong pilot yang telah mati hingga terjatuh dari helikopter.
__ADS_1
"Sial..!" Mereka lolos!" Ucap Laila menggertakan giginya tapi kemudian mengalihkan perhatiannya dari helikopter itu dan fokus melihat musuh di depan mereka.
Adu tembak belum berakhir, dan beberapa orang-orangnya juga sudah terluka.