
Melihat ayahnya mulai curiga, Anita mengepal tangannya, iaberusaha menenangkan diri supaya bisa mengendalikan diri untuk menutupi kesalahannya.
"Ayah, maksudku, kalau kita membawa perkara ini ke ranah hukum, semua orang akan menertawakan keluarga kita!
Lagipula,
Siapa yang berniat menjebak Laila?
Mana mung-"
"Benar, di pesta ulang tahun Tuan Rizal, tidak ada satupun orang yang kukenal selain kalian bertiga, jadi tidak mungkin ada orang yang memiliki dendam padaku hingga menjebakku dengan cara yang keji!" Ucap Laila membuat Anita dan Irmawati mematung dengan keringat memenuhi kening mereka.
"Ka,, kau! Apa sekarang kau sedang menuduhku?!" Ucap Anita melototi Laila yang terus bermulut tajam seperti 5 tahun lalu.
Tidak dapatkah perempuan itu menjadi lebih bodoh dari 5 tahun yang lalu?!
"Laila! Meskipun Anita membencimu, dia tidak mungkin melakukan hal memalukan seperti itu!" Ucap Irmawati membela Anita.
Kalau kelakuan Anita terbongkar, maka dia juga akan terseret bersama Anita.
"Benar ayah! Aku adalah Putrimu! Jadi ayah seharusnya mempercayaiku!" Anita menatap ayahnya dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Kalau kau benar-benar tidak melakukannya, maka kau tidak perlu membantah jika kasus ini dibawa ke ranah hukum." Jawab Rizal membuat Anita semakin berkeringat dingin hingga bajunya kini menempel di punggungnya.
'Sial!! Laila benar-benar bisa menjebakku! Tapi, aku tidak boleh kalah dengannya! Masih ada satu kartu yang bisa kugunakan untuk menolong diriku sendiri!' Gumam Anita menatap Laila bergantian dengan Irmawati sebelum menjatuhkan dirinya ke lantai.
__ADS_1
Bersujud di kaki ayahnya, Anita terisak sambil berkata "Ayah,, maaf,, maafkan aku!! Aku salah!!!"
"Bangunlah,, bangun dan bic-"
"Tidka Ayah!! Aku tidak pantas duduk disampingmu!
Bahkan menatap matamu saja aku tidak pantas!
Aku mengaku, aku mengakuinya, akulah yang memasukkan ponsel itu ke dalam tas Laila untuk menjebaknya!" Ucap Anita sambil sesegukan dalam aktingnya.
"Anita, apa yang kau katakan?!" Irmawati menjadi sangat panik karena dia tidak percaya bahwa Anita begitu lemah dan langsung mengakui kesalahannya.
"Tidakkah kita harus mendengarkan nya dulu?" Ucap Laila sambil tersenyum menatap Irmawati.
Sekarang dia tahu, kedua perempuan itu bekerja sama untuk menjebaknya.
'Perempuan bodoh!! Lihat bagaimana bodohnya kamu digigit oleh ular yang sudah kamu besarkan selama 5 tahun ini!' Cibir Laila dalam hati, merasa sangat puas dengan tontonan di depannya.
"Iya,, apa yang dikatakan Laila itu benar. Duduklah di sini dan bicarakan baik-baik." Ucap Rizal kini menarik Anita untuk duduk di sampingnya.
"Sayang, aku rasa, kita harus kembali ke rumah dan membicarakan ini baik-baik.
Anita mungkin merasa tidak nyaman untuk menceritakannya di sini." Ucap Irmawati dalam ketakutannya, mungkin saja ia tidak bisa mencegah Anita mengatakan fakta yang sesungguhnya.
"Tidak! Aku akan mengatakannya sekarang!" Ucap Anita mengusap air matanya dan menatap Irmawati penuh makna.
__ADS_1
"Tapi,, aku ras-"
"Aku akan mengatakannya! Ayah,, dengarkan aku!
Aku disuruh meletakkan ponsel ibu ke dalam tas Laila untuk menjebak Laila!
Dan orang yang menyuruh ku tak lain adalah ibu tiriku sendiri!" Ucap Anita sambil melototi Irmawati.
"Anita! Bagaimana bisa kau begitu kejam?!" Ucap Irmawati balas melototi Anita sebelum menitikan air matanya dan memeluk Rizal dengan erat.
"Sayang,, sudah 5 tahun aku berada di keluargamu dan merawat putrimu dengan baik.
Bahkan aku rela kelaparan supaya dia tetap makan, tapi apa yang dibalas Putrimu padaku?
Ternyata selama ini, dia tidak pernah menganggapku sebagai ibunya!" Ucap Irmawati sambil tersedu-sedu di dalam pelukan Rizal.
'Hmm,, pemandangan yang bagus,, seharusnya kami tidak berada di ruang privat dan seharusnya ponsel itu ketahuan di tempat umum tadi.
Jadi, semua orang bisa melihat pemandangan menakjubkan ini.' gumam Laila menyayangkan sikap Rizal yang terlalu bijaksana hingga mau melindungi orang yang telah mencuri ponsel istrinya.
@Interaksi
Seterkenal otor pun sangat mustahil, apa lagi mau nyaingi? Mimpi!
__ADS_1
😎😎✌️