
Selama Andra pergi bersama Gerald, Laila berusaha dengan semua kemampuannya menggerakkan tubuhnya hingga berkat latihannya selama beberapa jam ia berhasil menggerakkan tangannya.
Lehernya pun sudah tidak terlalu kaku dan sudah bisa digerakkan meski belum terlalu nyaman.
Saat putranya kembali, perempuan itu meminta tolong pada Weleni supaya menaikkan ranjang pada bagian atas.
"Terima kasih Bu," ucap Laila saat dia merasa nyaman dengan posisi setengah duduk.
Dari posisi itu dia bisa melihat semua tubuh Samudra dengan jelas, bahkan Andra menjadi lebih nyaman membaca disampingnya.
"Ini remotenya, kau bisa minta tolong pada Andra kalau ingin menaikkan atau menurunkannya lagi." Ucap Weleni meletakkan remote di sisi Laila lalu perempuan itu pergi ke ruang makan untuk membicarakan sesuatu dengan suaminya.
Melihat Weleni telah pergi, Laila kemudian menoleh pada Andra di sampingnya.
"Sayangku, buku apa yang kau baca?" Tanya Laila.
"Rahasia Senjata." Ucap Andra memperlihatkan sampul buku nya dimana beberapa senjata seperti pistol dan granat menghiasi sampul buku tersebut.
"Apa kau mau jadi tentara?" Tanya Laila.
"Tidak," jawab Andra.
"Lalu, putraku mau jadi apa?" Lagi tanya Laila.
"Aku akan menjadi bodyguard." Jawab Andra membuat Laila keheranan.
"Bodyguard?"
__ADS_1
"Aku ingin menjaga Mama." Lagi kata Andra membuat Laila tersenyum.
"Oya, Apa yang kau lakukan bersama paman Gerald? Apakah dia membawamu menemui seseorang yang menakutkan?" Tanya Layla.
"Aku belajar menembak menggunakan senjata yang pernah ibu ceritakan padaku. Pria bernama Dewa yang mengajariku menembak, dia juga memberikan senjata milik ibu padaku." Jawab Andra.
"Lalu, Apa kau berhasil menembak tepat sasaran?" Tanya Laila.
"Hm ya, tepat sasaran, senjatanya berat, tapi aku suka." Jawab Andra disambut kekean Laila.
"Tidak akan berat lagi saat kau tumbuh menjadi pria dewasa." Ucap Laila mengelus kepala Andra.
"Aku akan berlatih dengan keras. Oya Bu, Aku akan pergi ke dapur untuk membuat jus semangka." Ucap Andra yang baru sadar bahwa dia belum membuatkan jus semangka untuk mamanya.
"Hati-hati." Ucap Laila saat melihat Andra dengan lincahnya melompat dari tempat tidur dan berlari kearah dapur.
"Sayang, Mengapa kau tidur begitu lama? Tidakkah kau merindukanku?" Tanya Laila memandangi wajah Samudra yang pucat.
"Oh. Video itu," Laila merogoh ponsel yang ia letakkan di bawah selimutnya dan mengambilnya untuk melihat video yang diberikan geral.
Sebelum memutar videonya, Laila memastikan bahwa ruangan itu benar-benar sepi.
Dari layar ponsel yang dipegang Laila, dia bisa melihat seorang pria yang sedang digebuki dan ditembak oleh prajurit-prajurit yang mengelilinginya.
Video itu diambil menggunakan drone kecil yang terus terbang di atas mengambil gambar.
Samudra hanya diam, seolah tak punya tenaga untuk melawan sampai kemudian para tentara berbaju serba hitam itu kembali menaiki tiga kapal yang mendarat di pinggir pantai.
__ADS_1
Sebuah helikopter juga meninggalkan tempat itu lalu hanya tertinggal seorang pria yang berlumuran darah di atas pasir.
"Suamiku," Laila mengerjapkan matanya supaya air matanya tidak jatuh membasahi pipinya.
Cukup lama Laila menunggu video itu dan memilih mempercepatnya sampai pria yang terbaring di atas pasir tiba-tiba saja bangkit dan merogoh sebuah pisau dari kantong sakunya.
Srek..! Srek..!
Samudra merobek pakaiannya sendiri lalu mengeluarkan satu-persatu peluru dari tubuhnya sebelum bangkit dan berlari ke arah Villa.
Terlihat pria itu beberapa kali jatuh namun kembali bangkit dan masuk ke sebuah bagasi lalu pria itu meninggalkan Villa menggunakan sebuah sepeda motor.
Selanjutnya adalah adegan pertempuran Samudra dengan Rizal. (Otor gak jelasin lagi ya, udah ada di bab sebelumnya. Nanti malah dibacotin sebagai pemborosan kata..!)
"Jadi dia membiarkan dirinya dipukuli seperti itu hanya untuk mengecoh semua orang supaya mau meninggalkannya karena dia mau pergi menyelamatkanku?" Laila merasa berkecamuk karena pengorbanan suaminya.
"Mama," suara Andra yang datang sambil membawa segelas jus semangka langsung membuat Laila menghentikan videonya dan kembali menyimpan ponselnya.
"Terima kasih sayang." Ucap Laila mengambil gelas di tangan
Andra.
@Interaksi
Nanti ya,, otor mimpi indah dulu, capek liat wajah kalian. Gak ada bagus-bagusnya..! Dosa semua di sana..!
__ADS_1