
Laila sementara meminum jus semangkanya saat Andra melihat ke sampingnya karena merasakan sebuah gerakan.
"Mama," ucap Andra saat melihat mata Samudra sedikit mengerjap.
Laila langsung menghentikan seruputan nya pada sedotan dan melihat ke samping.
"Pergi beritahu nenek." Ucap Laila.
Andra Langsung melompat dari tempat tidur dan berlari memberitahu dan Silas tentang kejadian yang ia lihat.
Weleni kemudian menekan nurse bel di dalam kamar lalu berjalan ke sisi lain tempat tidur melihat putranya yang sudah membuka mata.
"Laila," langsung ucap Samudra dengan suara serak dan pelan.
"Sayang, aku di sini." Ucap Laila berusaha mendekat pada Samudra.
"Laila jangan, tetap di situ, luka operasi mu juga belum sepenuhnya sembuh." Ucap Weleni memperingatkan menantunya.
"Mama," Andra memegang tangan Laila memberi kode pada Laila supaya tetap diam di tempatnya.
"Tidak sayang, mama baik-baik saja." Ucap Laila berusaha keras mendekati samudra dan memegang tangan pria itu.
__ADS_1
"Aku disini sayang," ucapnya dengan nafas tersengal karena kelelahan setelah bergeser mendekati suaminya.
"Baguslah," ucap Samudra merasa sangat lega saat ia bisa merasakan kehangatan tangan istrinya sedang menggenggam tangannya.
Weleni memejamkan matanya berusaha menahan diri supaya tidak terbawa emosi, apalagi saat dokter memasuki ruangan dan mulai memeriksa kondisi Samudra.
"Silahkan ikut saya." Ucap Dokter setelah menyelesaikan serangkaian pemeriksaan nya dan hendak memberitahukan hasilnya pada Weleni dan Silas.
"Baik Dok." Ucap Weleni lalu dia dan suaminya segera mengikuti dokter meninggalkan 3 orang di dalam kamar.
Andra berdiri memandangi dua orang yang terbaring di atas ranjang. Yang satu terbaring dengan kaku sementara yang lain terlihat penuh kerinduan memeluk tangan Samudra.
"Mama, aku akan pergi sebentar." Ucap Andra tanpa menunggu jawaban Laila lalu pria itu menyambar ponselnya dan keluar dari kamar Laila.
Pria kecil itu kemudian mengikuti kedua kakek dan neneknya yang masuk ke ruangan dokter.
"Sayang, kenapa di sini?" Tanya Weleni yang terkejut melihat cucunya mengikutinya ke ruangan dokter.
"Aku tidak mau mengganggu Ayah dan Mama." Ucap Andra.
"Tidak apa, anak kecil tidak akan mengerti dengan apa yang akan kita bicarakan." Ucap sang dokter sambil tersenyum hangat pada Andra.
__ADS_1
"Tapi Dok, cucu saya adalah cucu yang sangat pandai dan dia sangat cepat tanggap pada sesuatu yang ia dengar dan saksikan." Ucap Weleni hendak membawa Andra keluar dari ruangan dokter.
"Nenek, Aku janji tidak akan membuat keonaran. Tidak akan menceritakannya juga pada ayah dan mama, Tapi aku tidak mau sendirian di luar." Ucap Andra.
"Sudah, biarkan saja. Cucu kita anak yang baik dan penurut." Ucap Silas menarik Andra ke pangkuannya lalu mengarahkan fokusnya pada dokter yang siapengatakan hasil pemeriksaannya.
Weleni menghela nafas lalu perempuan itu ikut duduk di samping suaminya.
"Dari pemeriksaan sementara, kami menemukan adanya kemungkinan putra kalian mengalami kecacatan pada beberapa bagian tubuhnya." Kata Dokter mengejutkan ketiga orang itu.
"Dok, lalu, apakah ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mencegah atau mengobatinya?" Tanya Silas berusaha bersikap tenang dan mempercepat pembicaraannya dengan dokter.
Dia terlalu takut kalau sampai Andra menjadi histeris mendengarkan semuanya.
"Ini belum pasti, karena kami masih harus melakukan serangkaian pemeriksaan lagi setelah kondisi pasien menjadi lebih baik." Jawab dokter.
@Interaksi
Makasih bunganya. Nanti dibalas pakai cabai biar makin kepedasan..!
__ADS_1