
Sudah pukul jam 7 malam saat Andra tiba di kediaman Dewa.
Seperti kebiasaannya, pada jam seperti itu Dewa menghabiskan waktunya berada di ruangan yang yang dikhususkan untuk mengatur strategi dalam peperangan.
Meski Dewa bukanlah seorang tentara atau pasukan khusus kemiliteran, namun pria itu memiliki hobi menghabiskan waktunya mengasah keterampilannya dalam mengatur strategi perang.
Dewa baru mengangkat sebuah miniatur helikopter saat panggilan darurat yang disediakan di ruangan itu tiba-tiba berdering.
Memang, ruangan itu kedap suara dan Dewa hanya bisa dihubungi saat berada di ruangan itu jika ada hal yang sangat mendesak.
"Katakan!" Ucapnya mengangkat panggilan itu.
"Andra di sini untuk bertemu dengan bos." Ucap Geral.
"Suruh dia menemuiku." Ucap Dewa.
Mendengar jawaban Dewa, Geral tidak langsung menutup teleponnya.
Pria itu memandangi teleponnya beberapa detik sebelum terdengar nada sambungan yang diputuskan.
'Astaga,, jadi Dewa benar-benar memenuhi janjinya untuk menjadikan Andra sebagai temannya?' gumam Geral meletakkan gagang teleponnya.
Semua orang tahu kalau belum pernah ada satu pun orang yang masuk ke ruangan itu, termasuk Laila.
__ADS_1
Tapi kini,,,
"Aku akan mengantarmu." Ucap Geral lalu keduanya berjalan ke ruang bawah tanah dan berhenti di sebuah pintu besi.
"Aku tidak bisa memasuki ruangan ini, jadi masuklah sendiri." Ucap Geral membukakan pintu untuk Andra lalu membiarkan pria kecil itu memasuki ruangan.
"Kau kembali lagi, ada apa?" Tanya Dewa yang kini duduk di sebuah kursi di dalam ruangan.
Andra memperhatikan telinga Dewa yang dibungkus dengan perban lalu pria kecil itu tanpa bicara berjalan ke kursi di depan Dewa dan duduk menatap Dewa.
"Aku datang untuk menagih janji." Ucap Andra.
"Tentu saja, mulai sekarang kita adalah teman." Ucap Dewa meski pria itu masih terlihat dingin dengan cara duduk dan tatapan yang terlihat tak acuh pada Andra.
Percakapan kedua Tetua dengan dokter yang menangani Samudra.
"Aku sudah tahu. Aku juga tahu kalau rahim mamamu sudah diangkat. Jadi kau jangan bermimpi lagi untuk memiliki seorang adik." Ucap Dewa terus terang.
"Apa itu rahim?" Tanya Andra kemudian.
"Kau tidak tahu? Itu adalah bagian tubuh perempuan yang menghasilkan anak. Kau juga lahir dari rahim seorang perempuan. Kalau perempuan sudah kehilangan rahim, maka dia tidak bisa lagimemiliki anak." Jelas Dewa.
Mendengar penjelasan Dewa, Andra tertegun dan tertunduk memikirkan Laila.
__ADS_1
"Kau cemas mengetahui kalau kau tidak bisa memiliki adik lagi atau kau cemas karena Mamamu yang kesakitan karena kehilangan rahimnya?" Tanya Dewa saat melihat pria kecil yang berada di depannya kini dipenuhi dengan kabut kesedihan bercampur marah.
"Semua ini salah ayahku, harusnya dia bisa melawan semua orang yang ingin menyakiti mamaku. Tapi dia malah gagal, bahkan sekarang mamaku harus menderita memikirkan ayahku juga." Ucap Andra.
'Anak kecil ini, bagaimana bisa dia lebih mengkhawatirkan Laila yang bukan siapa-siapanya ketimbang Samudra yang merupakan ayah kandungnya? Padahal, dia tidak tahu saja kalau akulah yang menjadi dalang disemua kekacauan itu. ' Dewa memikirkan perkara itu dalam hatinya sebelum kembali membuka mulutnya untuk berbicara.
"Jadi, apa yang bisa kubantu untukmu?" Tanya Dewa.
"Aku mau kau mencari cara untuk menyembuhkan ayah dan mamaku." Ucap Andra.
"Menyembuhkan ayahmu juga? Mengapa bukan mamamu saja yang disembuhkan? Bukankah semua ini sudah terjadi akibat ayahmu?" Tanya Dewa.
"Tapi mamaku jadi menderita saat melihat ayah ku menderita." Ucap Andra dengan wajah yang murung kembali mengingat bagaimana sikap Laila setiap kali melihat Samudra.
"Bocah nakal, kau membuatku kesulitan. Tapi aku akan mencari cara." Ucap Dewa lalu pria itu berdiri dan kembali menghampiri meja besar di tengah-tengah ruangan.
@Interaksi
Reder nih suka bikin bingung, di buat sadis marah, gak sadis protes,, maunya apa sih?
Ngomong dong.! Jangan ngetik..! Jadinya gak kedengaran ke telinga otor kan..?! 👀👀😜
__ADS_1