
"Sayang?" Laila memanggil Samudra setelah ia lama memeluk lengan pria itu, tapi Samudra belum bersuara walau sedikit pun.
"Hm?" Jawab Samudra dengan suara berat seolah pria itu sudah sangat kelelahan hanya karena menjawab Laila.
Mendengar suara suaminya, hati Laila menjadi semakin teriris karena dia bisa membayangkan kesakitan yang dialami suaminya.
Rekaman video saat Samudra digebuki dan ditembak beberapa kali dan pria itu masih mengendarai sepeda motor untuk melawan Rizal demi menyelamatkannya terus terputar dipikirannya.
"Kau tidak usah berbicara lagi, simpan tenagamu supaya kau lebih cepat sembuh." Ucap Laila.
Tapi setelah berbicara, Laila terkejut saat merasakan genggaman tangan Samudra menjadi lebih erat.
Kehangatan membungkus tangan kecilnya yang digenggam erat oleh Samudra.
"Suamiku, terima kasih." Ucap Laila dengan nafas yang berat.
Perempuan itu kemudian terus memeluk lengan Samudra sampai akhirnya tertidur.
Sementara Andra dan kedua tetua sudah menemui dokter.
__ADS_1
Ketiga orang itu keluar dari ruangan dokter.
"Aku akan pergi sebentar." Ucap Andra langsung berlari meninggalkan kakek dan neneknya membuat kedua orang itu menjadi panik.
Keduanya mengikuti Andra ke dalam lift.
"Cucuku sayang, kau mau kemana?" Tanya Weleni.
"Aku tidak mau di rumah sakit, hanya mengganggu ayah dan mamaku. Aku akan pergi ke rumah paman Geral." Ucap Andra.
"Tapi,"
Weleni mendengarkan ucapan suaminya dan menghela nafas lalu kembali menatap cucunya.
"Cucuku sayang, biarkan nenek dan kakek mengantarmu ke rumah paman Geral." Ucap Weleni yang sebenarnya tidak mau membiarkan Andra pergi meninggalkan mereka.
Bagaimanapun, Andra belum terbiasa bersosialisasi dengan orang-orang luar. Meski selama ini dia semakin membuka diri, namun biasanya pria kecil itu selalu bersama Laila.
"Aku bisa sendiri. Sopirnya sudah menjemputku di bawah." Ucap Andra yang bersikukuh tidak mau mengikutkan kakek dan neneknya.
__ADS_1
'Sebaiknya membiarkannya saja, lagipula Laila dan Geral saling kenal. Aku juga tidak mau kalau aku semakin menekan cucuku dan cucuku kembali membenciku lagi.' Gumam Weleni akhirnya menyetujui ucapan cucunya.
Kedua Tetua mengantar Andra sampai pria kecil itu menaiki sebuah mobil yang dikirim oleh Geral.
Setelah Andra pergi, Weleni menggenggam tangan suaminya.
"Jangan terlalu memikirkannya, kita bisa menggunakan semua yang kita punya untuk menyembuhkan Putra kita." Ucap Silas memeluk istrinya karena perempuan itu sudah menangis.
"Aku tidak percaya kalau kepergian kita untuk berlibur malah menjadi sebuah malapetaka untuk keluarga kita. Anak kita terancam mengalami kelumpuhan, dan menantu kita harus kehilangan rahimnya.
"Kalau sampai aku bertemu dengan putri dari pria yang sudah menendang perut menantu kita hingga mengakibatkan rahim menantu kita diangkat, aku akan membuatnya merasakan hal yang sama! Kalau perlu, dia harus mendapatkan balasan yang lebih buruk untuk perbuatan ayahnya!" Isak Weleni tanpa ada rasa malu saat beberapa orang yang lalu-lalang di sekitar mereka kini memandangi mereka berdua.
"Aku mengerti, tapi jangan pernah mengungkit hal ini lagi, kalau sampai Samudra dan Laila mengetahui hal ini, keadaan mereka bisa semakin memburuk." Ucap Silas menepuk pelan punggung istrinya supaya perempuan itu menjadi lebih tenang.
"Aku tidak bisa membayangkan kesakitan yang dialami oleh Laila saat dia mengetahui hal ini. Apalagi ketika dia tahu suaminya harus menderita cacat karena sudah menolongnya." Ucap Weleni kembali terisak.
@Interaksi
__ADS_1
Penipu di tipu𤦠Lah,, sekarang mau minta tolong sama Laila, beda level dong..!