Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 208. Merindukan Mama


__ADS_3

Andra makan malam bersama Dewa didampingi Geral yang menjadi pelayan untuk kedua orang itu.


'Biasanya, akulah yang duduk bersama Dewa dan dilayani oleh para pelayan. Sekarang, Andra sudah merebut posisiku bahkan menyingkirkanku ke tingkat seorang pelayan.' Gerutu Geral dalam hati meski dia tidak punya nyali untuk melawan 2 orang yang ada di meja makan itu.


"Apakah kau sudah mendapat akses untuk mengunjungi pulau putih?" Tanya Dewa ketika Geral sedang menuang air putih di gelas memiliki Andra.


"Maaf tuan, saya sudah menggunakan koneksi dan bahkan melakukan berbagai penawaran, tapi tidak membuahkan hasil apapun. Saya hanya bisa mendapatkan nomor ponsel untuk dihubungi, tapi keamanannya terlalu sulit, sehingga Saya memerlukan lebih banyak waktu." Ucap Geral dengan beberapa bulir keringat sudah memenuhi keningnya.


Bagaimana tidak, meski dia berhasil melakukan satu misi tapi misi yang lain telah gagal, itu bisa menjadi penyebab kehancurannya.


"Berikan nomornya padaku." Ucap Dewa.


"Baik Tuan." Jawab Geral.


Setelah berbicara dengan Geral, Dewa mengalihkan perhatiannya pada Andra yang sedang makan dengan tenang.


"Apa kau akan kembali ke rumah sakit?" Tanya Dewa.


Pria kecil yang sedari tadi duduk dengan tenang mengangkat wajahnya dan menatap Dewa dengan tatapan yang rumit.


Dia merindukan mamanya, dan jelas dia tidak bisa tidur tanpa mamanya apalagi saat berada di rumah orang asing.


Tapi dia juga tidak bisa kembali ke rumah sakit karena kehadirannya hanya akan mengganggu Laila.

__ADS_1


"Kau punya ponsel, telpon mamamu untuk bertanya." Ucap Dewa saat melihat kedilemaan di wajah Andra.


"Baik." Jawab Andra lalu pria kecil itu melanjutkan makan malamnya.


Barulah setelah selesai makan malam lalu Andra menelepon Weleni.


"Halo cucuku sayang, kau dimana? Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja 'kan? Apakah Nenek perlu menjemputmu?" Langsung tanya Weleni dengan nada kekuatiran menyertai setiap kata yang diucapkan oleh perempuan itu.


"Mamaku? Apa yang dilakukan Mama?" Tanya Andra seolah ia tidak mendengar semua pertanyaan yang baru saja diajukan Weleni untuknya.


"Oh, iya, mamamu sedang tidur bersama ayahmu. Tunggu, nenek akan mengirim foto." Ucap Weleni lalu beberapa detik kemudian sebuah foto masuk ke ponsel Andra.


Foto di mana Laila sedang tidur bersama Samudra dan perempuan itu masih setia memeluk erat lengan milik Samudra.


"Nenek, aku akan menginap di rumah paman Geral." Ucap Andra lalu pria kecil itu langsung menutup teleponnya dan berjalan ke arah tempat tidur.


Duduk di pinggir tempat tidur, Andra merasakan tempat tidur itu seperti batu yang mengganjal. Sangat tidak nyaman!


'Aku tidak bisa tidur tanpa mama!' gumamnya memandangi Laila di layar ponselnya.


Dalam sekejap, air mata Andra menggenangi pipinya.


Ia ingin pulang memeluk Laila dan terlelap dalam pelukan Laila!

__ADS_1


Sementara di ruangan lain di kamar itu, Dewa baru saja menutup panggilan teleponnya saat ia kembali teringat pada pria kecil di samping kamarnya.


Dewa lalu pergi ke kamar Andra dan pelan-pelan membuka pintu kamar.


'Kenapa dia menangis?' gumam Dewa.


Dewa kembali menutup pintu kamarnya lalu mengetuk pintu kamar itu.


Andra yang sedang menangis langsung mematikan layar ponselnya dan mengusap air matanya lalu berjalan ke arah pintu.


"Ada apa?" Tanyanya.


Berpura-pura tidak menyadari bahwa mata Andra terlihat sangat sembab, Dewa kemudian menyambar pria itu ke gendongannya lalu membawa Andra ke kamarnya.


Ia meletakkan Andra di atas tempat tidur.


"Aku tidak bisa tidur sendirian." Ucap Dewa lalu pria itu dengan entengnya membaringkan diri di atas tempat tidur.


@Interaksi



Salam kenal dari mars. Jangan lupa pendatang baru duduknya di kolong ya,,,

__ADS_1


__ADS_2