Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 197. Meladeni anak kecil


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Padma, Dewa kembali ke ruangan di mana Laila dan Samudra sedang berbaring di satu ranjang ukuran king.


Weleni dan Silas yang menunggu disana langsung berdiri saat lelaki itu memasuki ruangan.


"Tuan Dewa, terima kasih telah menyelamatkan kami, kalau bukan kar-"


"Saya tidak melakukannya untuk kalian. Setelah putra kalian sembuh, saya akan menagih semua biaya yang sudah saya gunakan untuk menyelamatkan kalian." Kata Dewa membuat Weleni terkejut.


Baru kali ini seorang pria yang lebih muda darinya berani memperlakukannya seperti itu.


Sangat tidak sopan!


"Sudah, biarkan saja. Nasib Putra dan menantu kita berada di tangannya." Ucap Silas membuat Weleni menggertak namun perempuan itu kembali duduk bersama suaminya dan hanya memandangi Dewa yang berjalan ke sisi Laila.


Sementara Dewa, pria itu menyimpan kekesalannya dalam hati saat melihat tiga orang yang terbaring di atas ranjang besar di depannya.


Samudra di sebelah kanan, dan Laila di sebelah kiri lalu seorang pria kecil yang tertidur nyenyak sambil memeluk lengan Laila berada di tengah-tengah kedua orang itu.


'Kenapa mereka bisa tidur di ranjang yang sama?' gumamnya sambil heran karena dia belum tahu kalau Samudra dan Laila sudah menikah.


Dia hanya tahu kalau mereka berdua masih dalam tahap saling kenal.

__ADS_1


Lagipula, Laila sudah berjanji padanya untuk mengundangnya di hari pernikahan mereka.


Tapi sampai hari ini belum ada undangan ataupun berita dari perempuan itu.


"Kalian yang mengatur mereka tidur di sini?" Dewa tiba-tiba berbalik memandang Weleni dan Silas.


Karena Weleni terlalu kesal pada Dewa, perempuan itu hanya membuang buka tak mau menatap pria di depannya.


Silas_lah yang akhirnya menjawab "Kami yang mengaturnya karena cucu kami-"


"Haha,, karena anak kecil itu?" Dewa tertawa mengejek melihat ke arah Andra dimana pria kecil itu tertidur dengan mata sembab dan beberapa luka menodai wajahnya yang mulus.


Tidak menanggapi Dewa, Silas hanya menghela nafas, kalau bukan karena sekarang mereka berada di wilayah kekuasaan pria itu, sudah dari tadi Dia menyuruh seseorang menyeret pria itu keluar dari kamar putranya.


Melihat seorang pria yang berwajah dingin sama seperti ayahnya, Andra Langsung duduk karena merasa terancam lalu pria kecil itu langsung memeriksa Laila.


"Aku tidak melakukan apapun pada pelayanmu!" Ucap Dewa hendak berbalik meninggalkan kamar itu saat ia berhenti karena mendengar suara Andra.


"Dia bukan pelayan! Dia mamaku!" Ucap Andra dengan suara penuh penekanan.


Dewa berbalik menatap pria kecil itu dan melihat wajahnya yang sangat otoritas dan penuh dengan keagungan.

__ADS_1


Ia terpaku, namun saat ia melihat pria yang berada di belakang Andra, Dewa menertawakan dirinya sendiri.


Dia tidak mungkin terpukau pada pria kecil yang merupakan anak kandung dari musuhnya sendiri!


"Pelayan atau mamamu, aku tidak perduli!" Jawab Dewa.


Melihat cara Dewa berbicara pada Andra Weleni menjadi geram dan perempuan itu berdiri untuk menegur pria itu supaya berbicara lebih lembut pada seorang anak kecil.


Tapi ia baru mendekat ke arah Dewa saat Weleni menghentikan langkahnya karena Andra menjawab Dewa.


"Tapi aku tidak suka caramu melihat mamaku! Kau tidak boleh menyukainya!" Ucap Andra.


'Astaga, Andra bisa berbicara panjang lebar seperti itu pada pria ini?' Weleni tidak percaya, karena selama ini meskipun Andra bisa berbicara dengan orang lain dia hanya berbicara sangat singkat kecuali pada Laila.


"Kalau aku menyukainya, kau mau apa?" Tanya Dewa.


Pria itu sendiri juga tidak yakin menyapa dirinya malah ingin meladeni anak kecil itu, sementara dia merupakan sosok yang juga sangat jarang berbicara.


Tapi anehnya, seorang pria kecil baru umur 5 tahun mampu menarik perhatiannya hingga membuatnya menjadi sangat kesal.


"Kau akan menyesal!" Ucap Andra lalu kembali tidur di samping Laila sembari memeluk lengan Laila menandakan dia sudah muak berbicara dengan Dewa.

__ADS_1


'Dasar anak kecil! Bisa-bisanya dia mengancam ku!' geram Dewa dalam hati lalu pergi meninggalkan ruagan itu.


__ADS_2