Kembalinya Perempuan Buangan

Kembalinya Perempuan Buangan
BAB 72. Rencana terakhir Laila


__ADS_3

"Aku minta di cium!" Teriak Laila.


Mendengar teriakan perempuan itu, Samudra yang sudah berusaha menahan diri menghadapi Laila yang kini hampir polos akhirnya tak kuat lagi!


Segera, Samudra membungkam bibir perempuan itu dan menjatuhkannya ke belakang hingga mereka saling tindih.


"Mmmhh,," terdengar suara Laila sangat menikmati ciuman mereka, tangan perempuan itu berkeliaran kemana-mana sementara tangan Samudra terkepal kuat menggenggam rambut hitam perempuan itu.


Meski pria itu mencium Laila dengan agresif, tapi tubuhnya yang lain berusaha terkontrol agar tetap kaku dan tidak liar kemana-mana.


Namun, Samudra tersentak kaget saat kaki Laila yang berada di bawahnya meronta-ronta untuk dilepaskan.


Pria itu menghentikan ciuman mereka sebelum mengangkat tubuhnya membiarkan kaki Laila bebas.


"Lagi!" Ucap Layla melingkarkan tangannya di leher Samudra dan menarik lelaki itu turun hingga bibir mereka kembali menyatu.


Kaki yang bebas langsung melingkar kuat di pinggang Samudra dan menarik pinggang Samudra yang semula berjarak kini merapat.


Menghadapi sikap Laila, Samudra berusaha mempertahankan pendiriannya dengan tidak bertingkah lebih jauh menyentuh perempuan itu.


Samudra takut, takut bila Laila mengingat kejadian 5 tahun yang lalu dan bahkan akhirnya menyadari bahwa pria di malam kelam itu adalah dirinya.


Apalagi, ia baru beberapa waktu bersama Laila, sungguh kemajuan yang sangat cepat dalam hubungan mereka jika sudah mengarah pada hal sensitif.


"Hah,, hah,, hah,," Laila melepaskan ciumannya saat ia sudah tersengal-sengal di penuhi hasrat, namun pria itu tidak melakukan tindakan apapun.

__ADS_1


Menatap pria yang kini menatapnya juga, ia merasa tak berdaya menghadapi Samudra.


Ia kalah!


Dirinya tak lebih baik dari Selin yang sudah gagal menaklukkan Samudra!


"Aku harus mandi sebentar." Kata Laila dengan suara berat memberi isyarat pada lelaki di atasnya supaya menyingkir darinya.


"Baiklah," jawab Samudra menyingkir dari tubuh Laila membiarkan perempuan itu meninggalkannya.


'Maaf, sekarang belum saatnya. Jadi bisakah kau tidak merontah?' gumamnya menghela nafas sembari memperhatikan adik kecilnya yang kini tegang menantang.


Sementara Layla yang berada dalam kamar mandi, perempuan itu memandangi dirinya di cermin.


Mengingat kembali ucapan Selin, Laila menggigit kukunya dalam kegeraman.


'Jelas tubuhku lebih baik dari Selin dan juga, aku berhasil membuat miliknya berdiri tegak.


Tapi,, apa yang salah?' gumamnya merasa frustasi tidak bisa memecahkan teka-teki tentang Samudra.


'Tidak,, jawabannya tidak mungkin impoten!


Lalu apa?


Mengapa pria itu lebih sulit dari aritmatika logaritma?!' gumam Laila tak berdaya.

__ADS_1


Tak ingin berlama-lama panas dengan sikap Samudra, Laila akhirnya mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Di sela-sela mandinya, Laila memikirkan cara terakhir untuk menghadapi Samudra.


Keluar dari kamar mandi, Laila sengaja tidak membalut rambutnya dengan handuk dan membiarkan air itu menetes membasahi tubuhnya yang dibalut oleh handuk kecil.


"Sayang, aku sudah selesai." Katanya pada Samudra yang kini berdiri di jendela apartemen memandang ke luar.


Berbalik melihat kekasihnya, Samudra menyipitkan matanya sebelum menutup semua tirai jendela.


"Kenapa tidak membungkus rambutmu?" Ucap Samudra mendekati Laila setelah menutup tirai di belakangnya.


"Handuknya jatuh," Ucap Laila dengan wajah memerah karena air hangat yang ia gunakan setelah mandi air dingin.


"Cepat pakai bajumu dan gunakan handuk itu untuk-"


"Tidak bisa, ini satu-satunya handuk yang kering dan kau masih harus menggunakannya saat mandi." Ucap Laila.


"Tidak perlu, kau gunakan saja un--"


"Kau juga tidak mau menggunakan handuk bekasku?" Tanya Laila kini dengan mata memerahnya.


Terlihat air mata Laila terbendung di kelopak matanya yang tipis.


"Aku akan membantumu berpakaian lalu mengeringkan rambutmu dengan hairdryer." Kata Samudra mengangkat Laila dan membawanya ke ruang ganti.

__ADS_1


__ADS_2