
Dua orang yang sedang berada di atas tempat tidur terus bergelut sampai akhirnya satu persatu pakaian mereka telah berhamburan di sembarangan tempat.
Laila masih menikmati sensasi baru yang ia temukan dalam permainan mereka saat tiba-tiba saja ia menjadi sangat kuatir ketika tangan Samudra meraba di area kakinya.
Tangan pria itu menyapu dari lutut hingga ke daerah terlarang Laila.
"Tunggu!" Ucapnya mendorong Samudra hingga melepaskan ciuman mereka berdua.
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Samudra mengabaikan ucapan Laila dan beralih mencium leher perempuan itu dengan tangan ditarik dari area bawah ke perut Laila.
Sementara Laila, hasrat yang sedari tadi memenuhinya kini menghilang seketika saat ia baru teringat kalau saat ini ia akan ketahuan oleh Samudra.
Semua tentang,, tentang ketidaksuciannya lagi!
Entah bagaimana, tapi dalam hati paling dalam nya, perempuan itu merasa tak pantas dan merasa bahwa Samudra terlalu sempurna untuknya.
Apalagi kemah dalam pengalamannya mengenal lelaki, semua pria menginginkan seorang perempuan masih suci!
Entah apa alasannya, tapi itulah yang ia tahu!
"Sayang,, aku,, aku rasa kita harus menghentikannya." Ucap Laila sekuat tenaga mendorong pria itu, tapi Samudra sama sekali tidak mendengarkannya.
"Aku sudah bilang, kau harus bertanggungjawab!" Jawab Samudra kembali membungkam bibir Laila sembari ngelayap kan tangannya di sekujur tubuh Laila.
Berusaha memberontak, usaha Laila sama sekali tidak membuahkan hasil karena tenaga Samudra yang terlalu kuat.
Samudra ingin saja menghentikan aksinya seandainya ia melihat ada gejala trauma yang ditampakkan oleh perempuan di bawahnya.
Namun begitu, ia sama sekali tidak melihatnya.
Laila hanya terlihat takut biasa seperti perempuan yang takut melakukan hubungan untuk pertama kalinya.
"Mmmh,," Laila menggigit lidah Samudra saat perempuan itu sangat takut.
__ADS_1
Berada dalam nafas yang terengah-engah, Samudra diam menatap Laila.
"Aku rasa,, aku rasa ini tidak seharusnya terjadi.
Aku,, aku,,"
"Kenapa? Apa kau punya trauma?" Tanya Samudra memastikan tebakannya.
"Bukan,, bukan itu, tapi,, tapi aku tidak pantas untukmu.
Aku,, aku bukan permepuan suci lagi. Aku,, aku sudah pernah melakukannya, dulu,, dulu aku hamil,, aku,, aku ras-" ucapan Laila berhenti sesaat Samudra kembali mencium dengan hangat.
"Aku tidak perduli, aku sudah bilang, aku menerimamu dengan semu kekuranganmu.
Apa kau mengerti?" Tanya Samudra merasa sangat lega.
Ternyata,, apa yang ia pikirkan tidaklah benar!
"Tunggu, apa? Apa mungkin kau sudah tahu?" Tanya Laila menatap Samudra dengan mata berair.
"Bagaiman bisa,, bagaimana bisa aku begitu beruntung mengenal seseorang sepertimu?
Aku pikir,, hikss" Laila tidak sanggup lagi berkata-kata karena air matanya dan nafasnya yang terengah karena perasaan emosionalnya membuat perempuan itu menjadi sangat lemah di dalam pelukan Samudra.
Menangis 30 menit sudah cukup membuat Laila kelelahan hingga perempuan itu tidak punya tenaga bahkan sekedar menggerakkan jadinya.
"Apa kau sudah tenang?" Tanya samudra.
"Hmm,, maafkan aku, aku sudah menuduhmu macam-macam." Kata Laila dengan suara yang sangat pelan karena sebenarnya perempuan itu sangat malas untuk berbicara.
Tapi karena rasa bersalahnya, Laila masih berusaha mengumpulkan semua tenaganya untuk mengakui kesalahannya.
"Aku pikir kau tidak mau melakukannya dengan ku karena kau adalah pria impoten." Pengakuan pertama Laila langsung membuat pria itu terbatuk-batuk karena sesuatu yang begitu memalukan dituduhkan padanya.
__ADS_1
"Ada apa?? Maaf, maafkan aku," Laila yang tidak bertenaga tiba-tiba merasa sangat bugar saat Samudra batuk-batuk begitu keras.
"Uhuk,, aku baik-baik saja!" Ucap Samudra menenangkan diri sebelum menarik nafas dalam-dalam dan kembali memeluk perempuannya.
"Apa lagi yang kau tuduhkan padaku?" Tanya Samudra ingin mengklarifikasi semuanya!
"Ahh, itu,, aku pikir kau sama dengan mantan-mantanku, mereka semua menginginkan perempuan yang-"
"Jangan pernah mengatakannya lagi!" Ucap Samudra tidak mau mengetahui hinaan yang dilontarkan orang-orang untuk perempuannya.
Jika tidak, mungkin dia akan sangat marah dan membuat mereka satu persatu bersujud di kaki Laila.
"Jika sudah, bisakah kita melanjutkan yang tadi?" Tanya Laila menatap Samudra dengan wajah penuh harap, rasa penasarannya kembali menggerogoti kulit, daging hingga ke tulang-tulangnya.
"Tidak! Lihat tubuhmu, kau mungkin remuk jika kita melanjutkannya." Ucap Samudra membuat Laila ternganga dengan ucapan pria itu.
Sekuat apakah mereka akan melakukannya hingga dia sampai remuk?
'Aku harus banyak berolahraga!' gumam Laila saat ia menurunkan pandangannya dan melihat dada bidang serta perut kotak-kotak Samudra.
Sungguh wujud kekuatan!
Kekuatan di atas ranjang!
Mata Laila berbinar-binar.
@Interaksi
Baik hati banget ni reder satu, baik hatinya Sampe LV keterlaluan, bikin saran di kolom komentar trus komentarnya di hapus lagi, untung otor jago bisa ngembaliin lagi.
Apa alasannya coba?
__ADS_1
ðŸ¤