
"Pak polisi, apa maksudnya ini?" Tanya Irmawati seolah-olah dia tidak tahu jika Laila yang mencuri ponselnya.
Polisi yang bertugas mengambil ponsel yang sudah dibungkus dengan sapu tangan dan memperlihatkannya pada ketiga orang yang duduk di 1 sofa panjang.
"Apakah benar ini adalah ponsel yang hilang?" Tanya Sang Polisi.
"Benar!! Ini ponsel saya!" Kata Irmawati dengan wajah berseri-seri hendak meraih ponsel yang ditunjukkan oleh sang polisi.
Tapi polisi yang bertugas langsung menjauhkan ponselnya dari jangkauan tangan Irmawati.
"Maaf Nyonya, ponsel ini adalah barang bukti, jadi tidak dapat dipegang oleh sembarang orang.
Ponsel ini kami temukan di dalam tas milik Nona Laila." Ucap polisi itu membuat ketiga orang yang duduk menjadi sangat terkejut dan menoleh pada Laila.
"Laila?! Bagaimana bisa?!" Irmawati pura-pura tidak percaya.
"Ayah, Ibu, inilah sebabnya aku melarang kalian untuk berhubungan terlalu dekat dengan Layla.
Sudah dari dulu dia memang tidak menyukaiku, dan sekarang dia berniat buruk pada keluarga kita!
Ini pasti karena dendamnya padaku!" Kata Anita mencibir Laila dengan wajah jijik melihat Laila.
"Tunggu sebentar," ucap Rizal berusaha menilai sikap Laila yang terlalu tenang.
"Laila, Apa benar ponsel ini ditemukan di dalam tas mu?" Tanya Rizal.
"Benar," jawab Laila membuat Rizal langsung menghela nafas dan mengalihkan pandangannya dari Laila.
__ADS_1
Anita yang mendengar pengakuan Laila langsung tersenyum dan menoleh pada petugas polisi.
"Tuan, Saya mau kasus ini diproses secara hukum.
Karena sudah dari dulu perempuan ini selalu berniat mencelakai ku, dan sekarang dia berniat merampas barang berharga milik ibuku.
Aku tidak akan meloloskannya!" Ucap Anita.
"Benar, ponsel itu adalah barang berharga dan sangat berarti untuk saya karena diberikan langsung oleh suami saya. Meskipun sudah ditemukan sekarang, saya tidak mau kejadian seperti ini kembali terulang pada beberapa orang malang seperti saya.
Jadi saya berharap supaya kejadian ini diproses dengan hukum untuk memberi peringatan bagi orang-orang supaya tidak melakukan hal yang sama lagi!" Irmawati mendukung Anita.
"Tuan Rizal, bagaimana menurut Anda?" Sang polisi kini bertanya pada Rizal yang terlihat berada di posisi yang sangat berat.
"Tuan, Saya sudah menganggap Laila sebagai anak saya, jadi kami akan menyelesaikannya secara kekeluargaan." Ucap Rizal setelah menimbang dengan matang.
Paling tidak, ini sudah menjadi sebuah pelajaran berharga bagi Laila!
"Ayah! Bagaimana mungkin seperti itu?! Aku tidak setuju!
Tidak pernah setuju!" Ucap Anita bersikukuh karena dia tahu saat kejadian ini diproses secara hukum, maka otomatis identitas Laila akan dipertanyakan dan akan membongkar bahwa Irmawati adalah ibu Layla.
"Tuan Rizal, saya sama sekali tidak keberatan dengan keinginan Anita dan Nyonya Irmawati.
Saya setuju kalau kereka menginginkan kasus ini diproses secara hukum.
Bagaimanapun, bukan saya yang menaruh ponsel itu di dalam tas saya, dan sidik jari pada ponsel itu akan diperiksa tentang siapa saja yang sudah pernah memegang ponsel itu.
__ADS_1
Dan saya yakin, sidik jari saya tidak mungkin ditemukan pada ponsel itu, karena saya tidak pernah memegangnya!" Ucap Laila membuat Anita tersentak.
'Sial!! Ponsel itu hanya pernah dipegang oleh aku dan ibu tiri sialan ini.
Bagaimana kalau,,' Anita mengepalkan tangannya berusaha mencari celah lain supaya tetap bisa menjatuhkan Laila.
Sementara Rizal, pria itu memandangi Laila dan menemukan keyakinan dan rasa percaya diri yang besar dibalik wajah tentang Laila.
Benar, hilangnya ponsel Irmawati bersamaan dengan hilangnya tas Laila.
Maka ada kemungkinan bahwa seseorang menaruh ponsel itu di tas Laila saat Laila kehilangan tasnya.
Rizal kemudian menoleh pada polisi yang bertugas "Tuan, Apakah sidik jari bisa membuktikan bahwa bukan Laila yang mengambil ponsel itu dan kemungkinan ada seseorang yang berniat jahat padanya lalu menaruh ponselnya di tasnya?" Tanyanya.
"Tidak menutup kemungkinan, kalau sidik jarinya tidak ditemukan pada ponsel ini maka jelas dia tidak pernah memegang ponselnya dengan tangan telanjang kecuali kalau dia mengambil ponsel itu menggunakan kaos tangan.
Tapi, kami masih harus memeriksa CCTV di gedung ini dan bertanya pada saksi-saksi." Jawab Sang petugas.
"Kalau begitu, tolong selidiki masalah ini." Ucap Rizal.
"Tentu, masalah ini akan dibawa ke ranah hukum." Kepala Polisi yang baru saja tiba mengagetkan semua orang yang ada di ruangan itu.
Bagaimana mungkin, hanya kasus kehilangan ponsel dan Kepala Polisi turun tangan langsung menangani kasusnya?!
@Interaksi
__ADS_1
Sayangnya, pria di foto profil otor gak minat sama jablay, biar pun hanya kenalan doang....!