
Dengan hasil tes DNA yang positif itu maka Adelin dan Morgan tidak memiliki keraguan lagi untuk membawa Laila bersama mereka.
Pada sore hari itu juga mereka memutuskan membawa dua pasien itu ke pulau putih untuk mendapat terapi yang lebih baik di sana.
Sebelum berangkat, Silas dan Weleni terlebih dahulu berbicara dengan Morgan.
"Tuan Morgan, maaf karena kami tidak bisa ikut ke pulau putih, karena situasi di ibukota juga tidak memungkinkan untuk untuk kami tinggalkan.
"Tapi, setelah semua urusan kami di ibukota sudah selesai dan perusahaan sudah terkendali maka kami akan berkunjung ke pulau putih." Kata Silas.
"Suami saya benar, kami mempercayakan mereka berdua pada kalian. Tolong jaga mereka dengan baik." Ucap Weleni.
"Saya mengerti, Kalian tidak perlu sungkan pada kami, karena sekarang kita adalah besan." Ucap Morgan.
Dengan begitu, mereka segera berangkat ke bandara.
"Daa kakek! Daa nenek!" Ucap Andra melambaikan tangannya pada kedua tetua saat mereka sudah berpisah jalur.
"Hati-hati! Nenek akan menyusul kalian saat masalah di ibukota sudah selesai diurus dengan baik." Ucap Weleni dengan wajah yang tidak tega berpisah dengan orang-orang itu.
"Cucuku, kemarilah, biar kakek menggendongmu." Ucap Morgan mengulurkan tangannya disambut oleh Andra lalu pria kecil itu langsung digendong oleh Morgan.
__ADS_1
"Kakek Dewa dimana? Apakah dia tidak pergi bersama kita?" Tanya Andra.
"Dia akan menyusul." jawab Morgan karena Dewa masih sementara mengurus beberapa hal termasuk wanita yang akan melakukan donor rahim pada Laila.
Mereka masih sementara berjalan saat seorang pria tiba-tiba bertabrakan dengan salah satu pengawal Morgan.
"Maaf Tuan," kata pria itu sembari membungkuk minta maaf.
Sang pengawal tidak mengatakan apapun, mereka hanya terus berjalan, Tapi saat pria itu menoleh ke seorang perempuan yang duduk di kursi roda, pria itu langsung mengenali Laila.
"Laila!" Ucap pria itu dengan nada suara kasar mengejutkan semua orang.
"Siapa itu?" Adelin langsung menoleh ke arah Wijaya.
Pria itu terlihat seperti seorang tunawisma.
"Itu benar kau, Laila!" Ucap Wijaya berjalan mendekati Laila dan sedikit dihalangi oleh para pengawal.
Tapi setelah mendapat kode dari Adelin, para pengawal membiarkan Wijaya dan istrinya terus mendekati Laila.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Tanya Wijaya mengamati semua orang yang bersama Laila, dia tidak mengenal mereka semua namun dia bisa melihat bahwa orang-orang itu berasal dari kalangan terpandang.
__ADS_1
"Jadi kau masih mengenaliku?" Laila tersenyum konyol.
"Ha, aku tidak mungkin melupakan seorang anak yang sudah membuat perusahaan ku bangkrut dan menghancurkan masa depanku! Apa yang kau lakukan di sini? Oh,, siapa Mereka?" Wijaya memandangi orang-orang di sekitar Laila sebelum tersenyum menghina ke arah Laila.
"Ck,, dasar ****** kecil! Jadi, setelah hamil diluar nikah dan mempermalukan seluruh keluarga, kau sekarang berusaha menjebak keluarga bangsawan untuk-"
Buk!
Wijaya belum menyelesaikan ucapannya saat dia sudah ditinju oleh seorang pengawal yang berada di dekatnya.
"Beraninya kau menyebut anakku dengan sebutan yang tidak pantas! Bawa dia pergi dan pastikan hidupnya menderita!" Ucap Morgan pada pengawalnya lalu rombongan itu melanjutkan perjalanan mereka.
"Kalian orang-orang bodoh, kalian harus tahu kalau perempuan yang kalian bahwa itu adalah perempuan picik yang rela menjual tubuhnya demi kepuasan semata!" Teriak Wijaya dengan suara yang sangat lantang menarik perhatian seluruh orang di bandara dan memandangi Laila dengan tatapan cemooh.
Hal itu membuat Morgan menjadi sangat marah namun dia tidak mau membuat keributan di tempat umum itu hingga ia menahannya dan terus berjalan bersama rombongannya.
@Interaksi
Gak cuma baca, otor ngasih Like ke semua komen kok. Kalo ada komen yang kelewat, maka otor gak mau minta maaf!
__ADS_1
BTW, otor yang sultan ajah mau nge-like komen kalian 1-1, apa lagi kalian yang cuma kecebong, jangan sok sok pelit jempol sama karya otor lah,, kalo perlu tekan tombol follow di profil otor..!
Ini kesempatan langkah bisa ngefollow sultan dari mars..! Dasar mahluk aneh dari bumi..! ck,,!