Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 104


__ADS_3

Di rumah Prio Utomo, Sila masih merapikan dasi yang dia pasangkan untuk Dave. Sejak tadi Dave terus tersenyum karena semalam mereka memang tidur bersama di kamar Sila. Semua keluarga Sila sudah menerima Dave menjadi suami Sila, bahkan setelah makan malam semalam, Prio Utomo mengobrol cukup lama dengan Dave.


Dan Oman sengaja Dave suruh pulang, agar dia punya alasan untuk menginap dan tidur bersama dengan Sila. Pagi-pagi sekali Oman sudah datang untuk membawakan baju ganti Dave.


Melihat Dave yang tidak melepaskan pandangannya darinya, Sila pun jadi tersipu malu. Melihat Sila tersipu, Dave langsung menarik pinggang Sila agar lebih dekat dengan dirinya.


"Aku mencintai mu!" ucap Dave yang terdengar sangat lembut.


Sila tersenyum dia yang sudah selesai merapikan dasi Dave pun melihat ke arah Dave yang tengah menatap matanya. Ada perasaan begitu istimewa ketika memandang dua manik mata coklat Dave. Pria yang memang bisa di bilang baru hadir dalam hidupnya tapi dia juga sudah merubah hidup Sila yang berantakan karena ulah Hadi yang bahkan sudah dia kenal lebih dari tujuh tahun.


Sila kini menyadari, waktu, lama tidaknya kita bersama dengan seseorang sama sekali tidak bisa menjadi tolak ukur kita sudah mengenalnya luar dalam atau belum. Buktinya dia yang sudah menikah dengan Hadi dulu selama lima tahun bahkan tidak tahu kalau ternyata mantan suaminya menaruh rasa iri pada pekerjaan nya, menaruh rasa kurang puas pada Sila sebagai istrinya. Tapi Sikap dan perasaan nya berbeda, itulah kenapa Sila merasa semuanya baik-baik saja.


"Sayang, apa kamu tidak ingin mengatakan kalau kamu juga mencintai ku?" tanya Dave yang membuyarkan semua lamunan Sila.


Sila langsung gugup. Dia sebenarnya juga ingin membalas pernyataan cinta dari Dave, Sila juga ingin mengatakan kalau dia juga mencintai Dave.


"A.. aku....!"


"Sila, sarapan sudah siap. Ayo kita makan!" seru Niken dari luar pintu kamar Sila.


Yang membuat Dave mendengus kesal karena Sila langsung menarik dirinya menjauh dari Dave.


"Iya kak!" sahut Sila.


Sila lalu tersenyum pada Dave, dan meraih tasnya yang ada di atas meja rias.


"Ayo mas kita sarapan bersama!" ajak Sila pada Dave yang terlihat tidak bersemangat.


'Huh, beginilah kalau tinggal di rumah mertua!' keluh Dave dalam hati.


Ketika Sila dan Dave tiba di rumah makan. Bima langsung berdiri dan menyapa adik iparnya itu.

__ADS_1


"Selamat pagi tuan Dave!" sapa Bima sopan.


"Selamat pagi!" jawab Dave.


Ketika sudah mendengar jawaban Dave, Bima kembali duduk.


"Selamat pagi nak Dave, bagaimana istirahat mu?" tanya Prio Utomo.


Prio Utomo bertanya seperti itu karena dia tahu betul, pasti kamar Dave lebih segala-galanya dari fasilitas yang ada di kamar Sila. Karena di kamar Sila tidak ada pendingin udaranya, hanya sebuah kipas angin yang tergantung di atap yang menjadi penolong di kala cuaca sedang panas.


"Sangat baik ayah...!" ucap Dave yang langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya dalam diam.


"Ada apa?" tanya Dave karena semua orang melihat ke arahnya.


Niken pun terkekeh pelan.


"Tidak apa-apa tuan Dave, tentu saja kamu harus panggil ayah dengan panggilan ayah bukan? kamu kan suaminya Sila!" jelas Niken yang mewakili apa yang ingin di katakan semua orang.


Sila lalu menyiapkan sarapan untuk Dave terlebih dahulu. Setelah semua siap santap di depan Dave, baru Sila kembali duduk di kursinya dan mulai sarapan juga.


Dave yang tak melihat dua keponakan Sila pun bertanya pada Bima.


"Oh ya, dimana Dion dan Tasya?" tanya Dave mencoba untuk berbasa-basi.


Bima langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Dave.


"Mereka sudah berangkat sekolah. Mereka harus berangkat pagi karena sekolah mereka cukup jauh dari sini!" jawab Bima yang membuat Dave kembali mengangguk paham.


Tini sejak tadi hanya tersenyum, dia tak menyangka kalau CEO perusahaan multinasional yang sangat terkenal di kota ini sekarang sedang duduk di samping putrinya dan sarapan pagi bersama dengan mereka. Dan perkiraan Tini yang menyangka Dave itu dingin dan arogan sama sekali tidak terbukti, Dave menantunya itu sangat ramah perhatian. Rasanya seperti mimpi saja bagi Tini yang memang sering melihat acara gosip di televisi yang sering menampilkan wajah tampan Dave yang sering menggandeng beberapa artis papan atas untuk brand ambassador produk perusahaan nya.


Setelah sarapan, Dave dan Sila berangkat bersama ke kantor. Saat mobil yang di kemudikan oleh Oman meninggalkan pintu gerbang, Bima dan yang lain yang ikut mengantarkan Dave ke depan pintu pun kembali menghela nafas berat.

__ADS_1


"Syukurlah, di saat pria breng*sek seperti Hadi mengkhianati nya. Sila malah bertemu dengan malaikat seperti tuan Dave!" ucap Bima yang membuat Prio Utomo juga memikirkan hal yang sama.


Prio Utomo lalu menepuk bahu Bima pelan.


"Bima, ingat apa kata nak Dave. Jangan pernah membuat masalah dengan Hadi kalau kamu bertemu dengannya. Hadi itu pria yang licik. Dia bisa memutar balik fakta, contohnya yang terjadi pada adikmu. Ayah benar-benar menyesal telah percaya pada pria pengecut itu. Dia bahkan sudah mengambil semua hasil kerja keras Sila selama ini, kalau bukan karena Sila apa mungkin dia bisa kuliah, pria itu benar-benar....!" Prio Utomo mulai terbawa emosi.


Tini langsung mengelus lembut lengan suaminya itu.


"Sudah yah, jangan di pikirkan lagi. Nanti ayah bisa sakit lagi. Yang penting sekarang Sila sudah bahagia, ibu bahkan tidak pernah melihat dia tersenyum lepas dan sebahagia ini saat masih bersama Hadi. Apalagi seperti kata nak Dave, tiga hari lagi Mika akan kembali bersama kita. Sudah ya!" ucap Tini masih sambil mengelus lengan suaminya beberapa kali.


Bima juga setuju dengan apa yang dikatakan ibunya. Tapi dia masih tidak yakin kalau dia bisa menahan diri saat bertemu dengan Hadi. Bima hanya berdoa agar dirinya tidak pernah bertemu dengan pria bernama Hadi Tama itu.


Sementara itu di perusahaan T, dimana Hadi Tama kini sudah berada di ruangan barunya. Ruangan wakil CEO. Hadi duduk di kursinya dengan bangga, tangannya meraih papan nama yang ada di atas mejanya. Senyuman puas tergambar jelas di wajahnya.


"Hadi Tama, wakil CEO. Ini sangat bagus!" gumam nya membaca tulisan yang ada di papan nama itu.


Hadi lalu meletakkan papan nama itu kembali di tempatnya. Pandangan Hadi menyapu ke seluruh ruangan yang memang sudah di tata sesuai dengan kemauan nya.


Hadi Tama seperti berada di awang-awang saat ini, dia begitu bangga pada pencapaian nya.


Tapi saat dia sedang merasa senang, tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka dengan keras.


Brak


Pintu terbuka dengan keras membuat Hadi langsung melihat ke arah pintu.


Seorang wanita menghampiri meja kerja Hadi dengan cepat dan menggebrak meja.


"Mas, kamu kemana saja semalaman. Aku menghubungi mu. Apa kamu tahu, ibu mu mengusirku dari rumah?" tanya Susan dengan wajah yang sangat merah karena marah.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2