Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 223


__ADS_3

Di kantor polisi, Hadi Tama pun di pertemukan dengan pak Kamal, atas permintaan dari pak Kamal. Sebenarnya pak Kamal sangat kecewa dengan apa yang sudah di perbuat oleh Hadi.


Pak Kamal sudah mati-matian membela Hadi Tama saat semua anggota direksi minta agar dia di copot dari jabatan wakil CEO. Bahkan para dewan direksi ada yang meminta Hadi Tama di berhentikan secara tidak hormat. Namun mengingat kinerja Hadi dan juga jasanya pada perusahaan, juga mengingat pak Kamal sudah menganggap Hadi itu seperti anaknya sendiri, pak Kamal selalu membelanya. Bahkan ketika semua dewan direksi meminta pemotongan gajinya lebih besar dari yang sudah di tetapkan oleh pak Kamal. Pria tua itu menolak dan membuatnya harus bersitegang dengan para anggota dewan direksi.


Namun ketika dengan mata kepalanya sendiri dia melihat rekaman, dan mendengar dengan telinganya sendiri pengakuan Susan di dalam rekaman video itu. Pak Kamal merasa dirinya benar-benar telah di tipu mentah-mentah. Mata orang tua itu bahkan sangat merah ketika melihat Hadi Tama masuk ruang besuk tahanan dan duduk di depannya.


"Pak Kamal... aku minta maaf!" lirih Hadi dengan suara terbata-bata.


"Kalau kau memang kekurangan uang, aku sudah katakan beberapa kali padamu kan. Katakan padaku, setidaknya aku akan membantu mu meski sedikit. Kenapa harus membuat dirimu sendiri malu?" tanya pak Kamal dengan suara pelan namun begitu menusuk hati Hadi Tama.


Saat ini Hadi memang sudah menyadari segala perbuatannya. Tak ada sedikitpun di dalam hati dan pikirannya untuk berdalih ataupun membuat alasan untuk menutupi kesalahannya. Hadi benar-benar sudah pasrah akan hukuman yang sudah menantinya.


Dengan mata berkaca-kaca dan penuh penyesalan, Hadi menundukkan kepalanya di depan pak Kamal.


"Aku sungguh minta maaf pak Kamal, aku mengakui dan menyesali semua perbuatan ku, semua kesalahanku. Aku yang di butakan kesenangan akan kekuasaan telah menyakiti hati bapak. Aku sungguh minta maaf!"


Hadi bicara dengan air mata yang sudah menggenang di matanya. Pak Kamal juga sangat sedih, dia yang tua itu sebenarnya melihat ketekunan yang luar biasa dari sosok Hadi Tama. Pria yang bahkan tidak menyerah dengan pendidikan nya, bahkan kuliah lagi demi masa depan yang lebih baik sambil bekerja. Respect pak Kamal sangat besar pada Hadi Tama sejak saat itu. Namun semua itu kini hilang tanpa bekas.


"Aku terima permintaan maaf mu, tapi kau tetap harus mengganti semua kerugian yang di alami perusahaan. Aku sudah membekukan semua aset mu, dan semua properti juga mobil yang kau punya sudah di sita perusahaan...!" pak Kamal menjeda apa yang ingin dia ucapkan sejenak.


Pria tua yang meskipun usianya sudah melewati setengah abad itu namun masih tampak gagah dan berwibawa. Pak Kamal menghela nafasnya sejenak.

__ADS_1


"Aku harus sampaikan kabar ini padamu Hadi, setelah pihak perusahaan dan bank menyita rumah mu, mereka juga harus mengeluarkan kedua orang tua mu dari sana. Tapi aku mendapatkan kabar kalau ayahmu, dia pingsan dan dilarikan ke rumah sakit!"


Hadi Tama langsung pucat mendengar kabar tentang sang ayah yang di larikan ke rumah sakit. Air matanya yang sudah menggenang, kini pun mengalir melewati sudut matanya.


"Ayah masuk rumah sakit, pak... bagaimana kondisi ayah ku pak?" tanya Hadi yang wajahnya di penuhi raut cemas, sedih dan khawatir dalam waktu yang bersamaan.


Pak Kamal terlihat sedih juga, sebenarnya dia tidak bermaksud mengusir kedua orang tua Hadi dari sana. Tapi mau bagaimana lagi, semua itu memang harus di lakukan, karena seperti itulah prosedur nya.


"Saat aku mendengar kabar itu, aku juga langsung ke rumah sakit. Tapi saat aku tiba di rumah sakit, ibumu sudah di ganti seorang yang tampak seperti pengawal, badannya tegap, wajahnya tapi tidak terlalu garang. Ibu mu bilang, Dave Hendrawan sudah membantunya menyesuaikan semua biaya administrasi dan bahkan akan menanggung semua pengobatan ayahmu hingga keluar dari rumah sakit!" jelas Pak Kamal.


Hadi pun terdiam, dia kembali menundukkan kepalanya.


Karena secara tidak langsung, dia juga menyeret kedua orang tuanya dalam masalah. Bahkan nama baik kedua orang tuanya akan rusak karena apa yang telah di lakukan Hadi Tama yang terpengaruh hasut4n Susan.


Hadi Tama melakukan semua ini karena hasut4n dari Susan. Dia selalu bilang jika Hadi kaya dan berkuasa, selain dirinya akan selalu berada di samping Hadi, anak dan kedua orang tua Hadi juga pasti akan hidup enak di masa tuanya. Tapi sekarang semua itu benar-benar hanya sebatas angan semata.


Semua kerja keras jadi bahkan hancur, semua perjuangan nya bahkan sekarang tidak berarti lagi. Bahkan kedua orang tuanya juga ikut menanggung malu dan kesusahan.


Saat Hadi masih menyesali segala perbuatannya, aalah seorang petugas datang dan memberitahu pak Kamal kalau waktu berkunjung sudah habis.


Pak Kamal pun menepuk bahu Hadi yang masih menangis itu perlahan.

__ADS_1


"Menyesal sekarang juga sudah tidak ada artinya. Aku tidak tahu hubungan apa yang kau miliki dengan Dave Hendrawan sampai dia mau membantu mu seperti itu, saran dariku adalah. Akui semua kesalahan mu, semuanya. Lalu jadikan tempat ini sebagai tempat kau belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi. Terimakasih atas semua jasa dan kinerjamu selama ini untuk perusahaan. Aku harus memberitahu mu tentang hal ini, Hadi Tama. Kamu resmi di pecat secara tidak hormat dari perusahaan! aku pergi dulu, ingat kata-kata ku tadi!" ucap Pak Kamal panjang lebar lalu keluar dari ruang besuk tahanan.


Hadi hanya terdiam, dia mendengarkan semua yang di katakan oleh pak Kamal. Menyesal pun memang sudah tiada guna lagi. Tapi satu hal yang ingin dia lakukan adalah meminta maaf pada kedua orang tuanya, pada anaknya Mika, dan pada seorang wanita yang sudah susah payah menjadikan dirinya seorang sarjana, Sila. Hadi Tama benar-benar ingin meminta maaf kepada Sila.


Saat petugas ingin membawa Hadi Tama masuk ke dalam ruang tahanan. Dia pun bertanya pada petugas itu.


"Pak, apa saya boleh minta ijin untuk menghubungi seseorang?" tanya Hadi Tama.


Petugas itu pun berpikir sejenak.


"Akan ku tanyakan dulu pada ketua tim yang bertugas!" ujarnya lalu keluar dari ruang besuk tahanan.


Tak lama kemudian petugas itu kembali dan berkata.


"Baiklah, kamu di ijinkan menelepon. Tapi hanya 1 menit!" ujarnya sambil menyerahkan gagang telepon pada Hadi Tama.


"Terimakasih!" ucap Hadi sambil menerima gagang telepon itu.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2