Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 192


__ADS_3

Joseph masih berusaha menarik Shafa, Joseph memeluk pinggang Shafa dan merangkul kan kedua tangannya di perut Shafa untuk memisahkan Shafa dari karyawati yang sedang adu jambak dengan nya.


Pertanyaan Shafa yang ketus pada karyawati itu membuat karyawati itu geram dan akhirnya mereka adu mulut. Sama-sama tak terima, Shafa dan karyawati yang tidak tahu siapa wanita yang dia ajak bertengkar itu saling lempar kata-kata kasar. Shafa yang tak terima Karina terus di rendahkan dan di bilang matre pun menarik rambut keriting karyawati itu dengan kuat. Akhirnya adu jambak pun terjadi.


Joseph yang melihat itu langsung berusaha melerai, namun Shafa tak mau mendengarkan Joseph. Alhasil Joseph pun memeluk pinggang Shafa dan menariknya menjauh dari karyawati itu.


"Kamu! pergi kamu dari sini!" bentak Joseph yang juga tidak tahu siapa nama karyawati yang bertengkar dengan Shafa.


Karyawati itu langsung di tarik oleh temannya menjauh dan pergi dari tempat itu.


"Lepaskan aku pak tua, dia sudah menghina calon kakak ipar ku. Akan ku rontok kan rambutnya!" pekik Shafa berusaha melepaskan diri dari Joseph.


"Ini kantor nona, jaga sikap mu!" tegur Joseph yang tidak mau citra Shafa buruk di mata karyawan lain pada hari pertamanya bekerja.


"Lepaskan aku, apa begitu menyenangkan memelukku?" ucap Shafa yang langsung membuat Joseph melepaskannya dengan cepat.


Ketika Joseph menjauh, Shafa berbalik pada Joseph dan merapikan pakaian nya yang berantakan.


"Aku mau naik lift khusus saja, aku tidak mau mendengar gosip tentang mu dan Karina lagi!" seru Shafa dengan nada dingin dan tatapan ingin makan orang pada Joseph.


Joseph tidak berani menatap Shafa yang sepertinya sangat marah padanya. Dia lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah kiri, mempersilahkan Shafa ke arah lift yang biasa di pakai oleh Dave.


"Sebelah sini nona!" ucapnya.


Shafa pun berjalan dengan cepat menuju lift itu. Joseph dengan cepat mengikuti Shafa dan mendahului untuk membuka pintu lift yang hanya bisa di buka dengan kartu akses yang hanya di miliki oleh Dave dan juga Joseph.


Ting


Pintu lift terbuka, Shafa masuk terlebih dahulu di susul oleh Joseph.


Setelah pintu tertutup, Joseph berdiri agak jauh dari Shafa yang terus menatap tajam ke arah nya.


"Ada hubungan apa kamu dengan Karina?" tanya Shafa tiba-tiba pada Joseph.


Mendengar pertanyaan Shafa itu, sontak saja Joseph yang memang pernah menyukai Karina langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Shafa dengan pandangan terkejut.


Shafa yang mengerti reaksi Joseph itu tersenyum lirih.

__ADS_1


"Heh, ternyata benar. Kamu menyukai Karina?" tanya Shafa lagi memastikan apa yang ada di pikirannya.


"Tidak nona, aku tidak berani. Dia adalah calon istri tuan Randy!" jawab Joseph dengan cepat mencoba menghindari kesalahpahaman yang mungkin saja bisa terjadi.


"Jadi sebelum dia menjadi calon istri kak Randy, kamu menyukainya?" tanya Shafa terus mendesak Joseph.


Shafa bisa melihat dari reaksi yang di tunjukkan oleh pria yang sudah dia suka selama lebih dari sepuluh tahun itu kalau pancaran matanya berubah, tak datar dan tak dingin saat mendengar nama Karina.


Saat Joseph memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan kedua yang di layangkan Shafa. Shafa pun mengerti kalau apa yang dia tanyakan itu benar. Joseph sempat menyukai Karina sebelum Karina menjadi kandidat satu-satunya calon istri Randy. Shafa tersenyum lirih.


Sebab dia juga tidak bisa marah pada Karina, dia juga tidak bisa menyalahkan Joseph. Bahkan Randy pun jatuh hati pada Karina, itu artinya Karina memang sangat berkarakter, dia wanita baik, jujur dan mandiri. Cantik itu sudah pasti, di bandingkan dengan dirinya sendiri yang sangat labil dan kekanak-kanakan karena mendapatkan kasih sayang berlebihan dari semua anggota keluarga Hendrawan sebagai anak bungsu. Shafa memang merasa dia kalah jauh, sangat jauh dari Karina.


"Nona...!" Joseph berusaha menjelaskan pada Shafa agar tidak terjadi kesalahpahaman tapi sebelum dia bisa menjelaskan Shafa mengangkat tangannya.


Shafa meminta agar Joseph tidak melanjutkan penjelasannya. Shafa memang sudah tahu kalau Joseph pernah menyukai Karina, tapi dia tidak mau sampai Joseph mengatakan itu padanya. Sebab Shafa tahu rasanya akan sangat sakit bagi hatinya kalau mendengar seseorang yang dia sukai selama bertahun-tahun mengatakan di depannya kalau dia menyukai wanita lain, Shafa tidak sanggup mendengar itu.


Ting


Pintu lift terbuka, Shafa keluar dan di ikuti oleh Joseph.


"Di ruang sekertaris nona, sebagai sekertaris tuan Dave!" jawab Joseph.


Shafa langsung mengernyitkan dahinya.


"Apa?" pekiknya tak percaya.


"Sekertaris? oh ayolah, aku ini lulusan terbaik bisnis manajemen. Kenapa aku jadi sekertaris kakak?" tanya Shafa yang kurang suka dengan jabatan barunya.


"Maaf nona, tapi posisi yang kosong hanya itu saat ini!" jelas Joseph.


Mereka berdua pun masuk ke ruang sekertaris, Anita sedang tidak ada di ruangan itu. Karena sedang menemani Dave meeting.


Melihat ada 3 meja di ruangan itu, Shafa pun bertanya pada Joseph.


"Meja ku yang mana?" tanya Shafa.


"Yang itu nona!" jawab Joseph sambil menunjuk ke arah meja yang ada di dekat meja Anita.

__ADS_1


"Lalu dua lagi, meja siapa?" tanya Shafa lagi.


"Yang itu meja kerja Anita dan yang itu meja kerja ku!" jawab Joseph menjelaskan dengan sabar.


Shafa langsung menoleh ke arah Joseph. Shafa cukup senang karena dia berada satu ruangan dengan Joseph.


"Aku rasa menjadi sekertaris kakak, tidak buruk juga!" ucapnya seraya menjajal kursi kerjanya.


Joseph lalu berjalan ke arah meja kerjanya dan mulai memilah-milah beberapa dokumen. Setelah itu dia mendekati Shafa dan meletakkan dua buah dokumen di atas meja kerja Shafa.


"Nona, tuan Dave ada meeting jam 1 siang nanti dengan perusahaan M. Dan ini adalah berkas yang harus nona pelajari, sebab tuan ingin nona yang menemaninya meeting siang nanti!" jelas Joseph membuat Shafa mengernyitkan keningnya.


Shafa yang memang ingin serius bekerja pun meraih dokumen yang di berikan Joseph. Tapi dia sedikit kurang paham dengan beberapa hal.


"Pak tua, ini apa?" tanya Shafa menunjuk sebuah neraca yang tidak dia mengerti.


Joseph yang memang masih berdiri di samping Shafa pun sedikit menunduk dan melihat dokumen yang tidak Shafa mengerti.


"Ini neraca yang menunjukkan presentase kemungkinan keuntungan yang akan di dapatkan...!"


Deg deg deg


Joseph tidak menyadari kalau ternyata posisi dirinya sangat dekat dengan Shafa. Ketika Joseph menjelaskan jantung Shafa malah berdetak tidak karuan, dia bahkan hanya memperhatikan wajah Joseph dan bukan penjelasan Joseph.


"Apa nona sudah mengerti?" tanya Joseph yang langsung menoleh ke arah Shafa.


Deg


Ketika Joseph menoleh, pandangan mereka bertemu. Jarak yang hanya beberapa centimeter saja membuat jantung Joseph tanpa dia sadari juga berdetak sangat kencang. Pandangan mereka saling mengunci.


Satu detik... dua detik... tiga detik...


Cup


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2