
Resa benar-benar tidak habis pikir, kenapa semua yang di ceritakan ibunya dan Davina berbanding seratus delapan puluh derajat dengan kenyataan di depan matanya.
Sementara Davina juga bingung dengan keadaan apartemen Joseph ini. Dia juga bukan tidak pernah ke apartemen Joseph, dan Rizal juga sering video call dengan Joseph saat Rizal sedang bersama nya. Apartemen Joseph yang satu bulan lalu dirinya kunjungi bersama Rizal tidak seperti ini. Benar-benar rapi dan baunya enak. Kenapa jadi seperti ini, Davina sendiri juga bingung.
Tapi Davina mencoba untuk berpikir positif.
'Ya ampun, kenapa jadi seperti kapal pecah begini. Apa karena dia sakit jadi tidak bisa beres-beres dan membersihkan rumahnya sendiri?' tanya Davina dalam hati.
Sementara Resa malah memandang semua sampah bekas minuman dan makanan ringan yang ada di sofa ruang tamu. Bahkan untuk duduk, dia perlu mengambil tissue dan menyingkirkan sampah itu ke bawah, ke lantai.
'Wajahnya sih oke, tapi kalau jorok begini. Aku bisa makan hati tiap hari bertengkar dengannya hanya karena sekedar meletakkan sepatu dan handuk di tempatnya saja!' batin Resa.
Resa pun mulai cemas, masalahnya dia sering melihat film dimana laki-laki nya pemalas dan jorok sementara yang wanita cinta kebersihan. Meskipun dilandasi cinta di awal hubungan mereka. Tapi lama-kelamaan cinta itu akan pudar seiring lamanya usia pernikahan, lalu akan terjadi pertengkaran hanya karena suami yang malas meletakkan handuk di tempatnya, dan lupa memisahkan kaos kaki dari sepatunya.
Resa mulai menggidikkan bahunya sekilas. Dia sudah mulai membayangkan hal yang tidak-tidak. Membayangkan pertengkaran mereka nantinya, yang pastinya Joseph akan selalu menang. Karena dia memang tidak pandai berkata-kata. Resa merasa nantinya dirinya hanya akan makan hati.
Davina yang mulai melihat Resa gelisah. Langsung menepuk punggung tangan Resa.
"Sayang, kamu pasti kaget ya sama ruang tamu yang berantakan ini. Biasanya juga gak begini sayang, Tante juga heran ini. Tapi, ini pasti karena Joseph yang masih sakit. Jadi tidak bisa beres-beres. Sebenarnya Tante juga sudah menyuruh Joseph menginap di rumah saja, supaya ada yang mengurus. Tapi Joseph nya gak mau, dia orangnya selalu gak mau menyusahkan orang lain!" ucap Davina yang ingin memperbaiki image Joseph yang pasti sudah minus di mata Resa.
Resa pun mendengarkan penjelasan Davina dengan seksama. Kalau dia pikir lagi, pasti karena itu alasannya. Karena Joseph sakit dan tidak bisa merapikan rumah.
__ADS_1
Di sisi lain, Joseph sengaja membuat Davina dan Resa menunggu lama. Maksud Joseph adalah agar Resa melihat semua kekacauan yang dia buat tadi setelah menerima telepon dari Shafa. Dia bahkan menumpahkan isi tempat sampahnya ke ruang tamu, bahkan membuatnya berhamburan tak karuan. Jangan tanya aroma tidak sedap apa yang di timbulkan dari hamburan sampah itu.
Dia bahkan melakukan seperti yang Shafa katakan, pakai sarung dan kaos oblong, mengacak-acak rambutnya dan berolahraga agar bisa berkeringat banyak dan terlihat belum mandi.
Joseph bahkan malas melihat dirinya sendiri di cermin.
"Aku harap rencana Shafa ini berhasil, lagipula kenapa nyonya besar menjodohkan aku. Sebelumnya kan tidak pernah seperti ini!" gumam Joseph yang mulai merasakan ada hal yang aneh dari sekedar menjodohkan biasa.
Tapi Joseph melupakan itu dulu, dia harus menjalankan rencana yang kedua. Membuat Resa illfeel dengan sikapnya. Sebenarnya itu bukan saran dari Shafa, Sila ataupun Karina. Itu murni ide Joseph sendiri, karena dia juga tidak mau kalau Shafa sedih karena dia di jodohkan dengan orang lain. Karena jika memang itu adalah perintah dari Rizal, Joseph juga tidak tahu. Entah dia bisa menolak atau tidak nantinya. Karena lagi-lagi ini adalah masalah hutang budi.
Joseph keluar kamarnya. Lalu menuju ke ruang tamu. Dengan kemeja hitam dan celana hitam dia keluar dan kembali menyapa Davina dan Resa. Tapi tetap dengan rambut yang masih berantakan, karena dia sengaja tidak menyisirnya.
(Kalian bisa bayangkan wajahnya Anjasmara saat dia memerankan karakter si Cecep dalam salah satu sinetron dengan judul yang sama. Kira-kira seperti itulah ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Joseph pada Davina dan Resa)
Resa tak bisa untuk tidak terkejut melihat Joseph yang seperti itu. Bayangan Joseph yang dia pikirkan di benaknya benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sosok pria maskulin di depannya itu. Badannya memang bagus, jangan tanya seberapa keras dan berotot Joseph. Tapi kalau seperti ini, Resa pasti akan sangat malu jika membawanya ke kondangan nanti.
"Ekhem... maaf Tante. Sepertinya aku lupa kalau aku ada janji dengan ibuku. Kalau Tante masih mau di sini tidak apa-apa, aku akan pulang naik taksi saja!" ucap Resa yang sudah illfeel setengah mati pada Joseph.
Davina pun terlihat sangat tidak enak pada Resa.
"Tidak Resa, kalau kamu memang ada janji dengan Walida. Tante akan mengantarmu pulang sekarang!" ucap Davina yang benar-benar mulai merasakan sakit di kepalanya.
__ADS_1
Resa mengangguk. Namun Davina memintanya untuk keluar lebih dulu. Karena ada hal yang ingin dia bicarakan sebentar dengan Joseph. Resa mengangguk paham dan langsung keluar dari apartemen Joseph tanpa menyapa atau pamitan pada Joseph. Sesungguhnya dia menoleh ke arah Joseph pun rasanya sangat enggan sekali.
Begitu sampai di luar apartemen Joseph dan menutup pintu apartemen Joseph. Resa segera menggidikkan bahunya seperti seorang wanita anggun yang baru saja melihat ulat bulu dan ingin secepatnya menghindarinya.
"Ih... ibu apa-apaan sih. Masak mau menjodohkan aku dengan pria seperti itu. Wajahnya sih oke, badannya juga bagus, keluarga Hendrawan juga sangat hangat tapi kalau pria yang akan menjadi suamiku otaknya gesrekk dan jorok begitu, ih lebih baik aku jadi jomblo saja!" gumam Resa yang masih tak habis pikir ada pria seperti itu di dunia ini.
Sementara di dalam apartemen, Davina menatap tajam ke arah Joseph.
"Sudah puas sandiwaranya?" tanya Davina dengan ketus.
Joseph pun hanya bisa menundukkan kepalanya dengan kedua tangan saling terpaut di belakang punggungnya. Benar-benar seperti seorang anak SD yang sedang ketahuan gurunya mencontek dan sudah tahu apa kesalahannya. Hingga sikap anak itu benar-benar pasrah menerima hukuman apapun dari gurunya. Begitu pula Joseph. Dia benar-benar sudah pasrah menerima apapun yang dikatakan Davina padanya.
"Kenapa? tidak mau menikah? mau sampai kapan Joseph? kamu juga tetap butuh keluarga, butuh istri yang mengurus mu saat kamu sakit? butuh anak yang akan menjadi penerus mu! aku tidak ingin karena kamu adalah pengawal keluarga Hendrawan, kamu mengabdikan seluruh hidupmu pada kami. Kami, khususnya aku ingin kamu juga punya keluarga kecil mu sendiri Joseph. Randy saja sudah mau dua kali menikah! jangan keras kepala Joseph. Jika memang tidak mau aku yang mencarikan gadis untukmu, maka carilah sendiri. Kami akan dengan senang hati menerimanya, siapapun dia!" tegas Davina.
Joseph mulai berani mengangkat kepalanya.
"Siapapun boleh nyonya?" tanya Joseph.
***
Bersambung...
__ADS_1