Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 174


__ADS_3

"Aku hanya bercanda!" ucap Shafa yang membuat Jimmy menghela nafas lega.


Shafa yang tadinya sudah terlihat mulai akrab dan sedikit bisa tersenyum kembali menundukkan kepalanya. Shafa terus terang saja dalam hatinya sangat merasa bersalah pada semua orang. Masalah rumah tangganya sudah membuat semua orang terlihat sangat sedih. Shafa bisa melihat dari wajah dan tatapan kedua kakak laki-lakinya itu kalau mereka sangat cemas pada keadaan nya.


Shafa tak bisa bayangkan bagaimana panik dan khawatirnya kedua kakaknya itu saat dia pingsan. Atau bahkan saat melihat kondisi nya ketika Joseph membawanya dari villa milik Vincent itu. Rasanya Shafa ingin berteriak, menangis dan memaki dirinya sendiri yang begitu bodoh percaya pada seorang pria yang sudah berpuluh-puluh kali mengatakan mencintainya tanpa syarat. Pria yang sudah berjanji akan menunggu nya sampai dia menyerahkan hatinya pada pria itu. Pria yang bahkan membuat janji yang bahkan dengan mudah dia ingkari sendiri.


Randy yang melihat adiknya kembali sedih tahu kalau Shafa pasti ingat kembali kejadian saat Vincent memaksakan dirinya pada adiknya itu. Randy sebenarnya sangat kesal pada Vincent. Saat ini juga sebenarnya dia ingin sekali mencari dimana keberadaan Vincent dan menghajarnya hingga babak belur bahkan tidak ingin hidup lagi. Tapi benar apa yang dikatakan ayahnya, ini juga adalah masalah rumah tangga adiknya. Ingin main hakim sendiri juga dia harus ingat kalau Vincent adalah suami Shafa.


Randy lantas mendekatinya dan memegang tangannya lalu mencium punggung tangan Shafa, membuat Shafa lantas mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Randy. Matanya kembali berkaca-kaca.


"Tuan putri, jangan sedih lagi ya. Kedua kakak mu ada di sini, tidak akan ada lagi yang akan menyakitimu!" ucap Randy yang kemudian menyeka air mata yang menetes di sudut mata Shafa.


Dave juga menyikut lengan Jimmy, hingga Jimmy pun langsung menjauh dari Shafa. Dave juga berdiri di sisi sebelahnya lagi, bahkan Dave menunduk dan mengecup kening adiknya itu dengan penuh kasih sayang.


"Orang lain akan berpikir ratusan bahkan ribuan kali, kalau ingin menyakitimu mulai sekarang!" ujar Dave.


Randy yang bahkan merinding mendengar apa yang di katakan Dave langsung menatap tajam ke arah adik laki-lakinya itu.


"Hei, kamu mau menyemangati adikku, atau mau menakutinya? kenapa malah mengeluarkan kata-kata mengerikan begitu?" tanya Randy memprotes apa yang di katakan Dave.


Rizal yang melihat ketiga anaknya saling menegur dan menguatkan, tersenyum bahagia. Dia menggenggam tangan Davina yang sejak tadi sudah meneteskan air mata. Sejak Shafa sadar tadi sebenarnya Davina ingin sekali menghampiri Shafa, tapi tangannya di tahan Rizal. Karena Rizal tahu, Davina yang sangat sedih, dan terus menangis akan membuat Shafa ikut menangis dan sedih juga nantinya.


Maka dari itu Rizal menahan Davina, agar setidaknya Shafa bisa tersenyum terlebih dahulu karena tingkah konyol kedua kakaknya.

__ADS_1


"Ayah, aku ingin memeluk putriku!" lirih Davina.


Melihat Davina yang sangat ingin memeluk Shafa, Rizal pun akhirnya melepaskan tangan istrinya itu.


"Hapus dulu air matamu, ya!" ucap Rizal pelan.


Davina pun langsung mengangguk dan menyeka air matanya. Setelah itu dia mendekati Shafa dan membawakan makanan yang memang sejak tadi sudah dia beli di restoran dekat rumah sakit untuk Shafa.


"Shafa, makan dulu ya nak. Sejak kemarin malam kamu belum makan!" ucap Davina yang memaksakan senyum di wajahnya.


Shafa tahu ibunya baru habis menangis.


"Apa itu nasi campur dengan gulai k4mbing asam pedas?" tanya Shafa.


"Tidak sayang, sudah berapa kali ibu mengatakan untuk jangan makan makanan penuh res1ko seperti itu!" ucap Davina.


Randy langsung menarik kursi ke samping tempat tidur pasien Shafa untuk Davina agar bisa duduk di sebelah Shafa.


"Ini adalah makanan sehat, nasi beras merah dengan sayuran dan steam ikan, ayo buka mulutmu!" ucap Davina yang menyuapkan sesendok penuh makanan untuk Shafa.


Shafa pun makan dengan di suapi ibunya, Randy dan Dave masih terus berada di doing Shafa. Begitu pula dengan Rizal dan dokter Jimmy.


Kenapa dokter Jimmy masih berada disana? itu karena Dave belum menyuruhnya keluar.

__ADS_1


Sementara itu di sebuah rumah sederhana dekat desa nelayan. Tiga orang yang terdiri dari dua orang pria dan satu orang wanita, yang mana satu orang wanita itu adalah wanita paruh baya. Sedangkan dua orang pria itu, satunya juga pria paruh baya, tapi satu lagi adalah pria dew4sa yang usianya sekitar 40 tahun.


Mereka adalah, Vincent. Serta ayah dan ibunya.


"Kenapa kita harus ikutan k4bur sih yah? anakmu ini saja yang tidak becus menjalankan rencana yang sudah tersusun sangat rapi. Bagaimana bisa anak buah Dave itu tahu dimana mereka berada, anakmu ini terlalu lem4h pada Shafa. Kita juga yang tepat kan!" seru ibu Vincent yang sangat kesal karena harus k4bur-kabur4n dan harus terpaksa hidup di tengah rumah sederhana yang tidak ada pendingin ruangan nya gara-gara kecerobohan Vincent.


"Mana aku tahu Bu, Shafa memang bicara dengan seseorang di telepon saat kami dalam perjalan ke villa. Tapi aku tidak menyangka itu adalah pel4yan keluarga Hendrawan itu!" jelas Vincent yang masih terus meringis menahan nyeri akibat luka yang di hadiahkan Joseph padanya.


"Heh, lagipula kenapa sih kamu ceroboh begitu. Dan lagi kenapa harus membuat ibu dan ayahmu jadi terkena imb4s masalahmu. Seharusnya kamu k4bur sendiri, dan jangan bawa-bawa nama ayah dan ibu!" ucap ibu Vincent yang membuat Vincent mengepalkan tangannya.


"Ibu ini gimana sih? semua ide gil4 itu kan dari ibu. Aku hanya menjalankan rencana ibu saja, kalau tidak mungkin saat ini hubungan ku dengan Shafa masih baik-baik saja!" keluh Vincent.


"Heh, anak bodoh. Hubungan mu akan baik-baik saja, kemudian tiga bulan lagi kalian akan bercerai tanpa kamu mendapatkan apapun dari Shafa, tidak tubuhhnya tidak juga kekuasaan yang bisa kita dapatkan dengan mudah karena kamu adalah menantu keluarga Hendrawan? begitu mau mu?" tanya ibu Vincent.


Vincent memukulkan tangannya ke udara. Dia sangat kesal.


"Lagipula kenapa hanya pel4yan itu kamu bisa kalah sih, tidak berguna sekali kamu ini. Kenapa juga harus menunggu Shafa mengijinkan mu untuk menyentuhnya. Paksa saja, toh dia kan istrimu. Tidak mungkin kan dia menuntut mu karena kamu menyentuhnya. Yang benar saja!" kesal ibu Vincent.


"Ibu! aku dan dia punya perjanjian pernikahan. Surat itu ada padanya, kalau dia menuntut ku, aku juga tidak akan lolos dengan mudah!" sanggah Vincent.


"Sama saja, sekarang juga kita tidak akan lolos dengan mudah. Ck... menjadi pel4rian begini benar-benar menyebalkan!" kesal ibu Vincent.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2