Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 237


__ADS_3

Karena tidak mau di bilang kalah langkah dari Joseph. Randy pun memutuskan untuk menemui tiga orang preman yang sudah membuat rumah kontrakan Karina seperti rumah hantu di pasar malam itu. Sangat menyeramkan juga baunya tidak sedap. Bahkan tak layak huni, meski sudah dibersihkan sekalipun.


Saat Joseph sedang menunggu Shafa untuk mengantarkannya ke kantor Dave. Randy menemuinya di depan teras rumah besar kediaman Hendrawan.


"Hei Jo, dimana para preman yang meneror Karina?" tanya Randy dengan angkuhnya.


Dia masih tidak terima karena tadi ayah dan ibunya sempat membandingkan dirinya dengan pengawal setia dan orang kepercayaan keluarga mereka itu.


"Mereka di gudang tuan Dave, ada Roy yang menjaga mereka!" jawab Joseph tak kalah datar dari wajah Randy tadi ketika bertanya padanya.


Randy masih tetap dalam gaya cool-nya, dia lalu memakai kaca mata hitamnya dan menoleh ke arah Joseph.


"Biar aku yang membuka mulut mereka, hal seperti ini saja kalian tidak becus kan?" tanya Randy sambil melenggang pergi menuju ke arah mobilnya yang berada di depan mobil Shafa.


Joseph hanya diam dan membuatnya keangkuhan Randy itu. Padahal tadi di meja makan dia sudah bilang kalau mereka sudah bicara, tapi mereka memang tidak pernah melihat siapa yang membayar mereka. Joseph hanya gelengkan kepalanya sekilas. Dia bahkan tahu kalau ucapan Davina dan Rizal di dalam tadi, saat mereka berada di ruang makan itu juga cuma omong kosong saja. Tapi Randy malah menganggap nya serius. Kedewasaan seseorang memang tidak bisa di ukur dari usia.


Shafa yang baru saja keluar rumah, sedikit memperhatikan Joseph yang tadi sempat menggelengkan kepalanya sekilas.


"Hei pak tua, kenapa? kepalamu tengkleng?" tanya Shafa mengira Joseph salah urat leher atau bagaimana.


Mendengar pertanyaan Shafa, Joseph malah mengernyitkan keningnya.


"Tengkleng? bukannya itu nama makanan?" tanya Joseph.


Karena setahu Joseph tengkleng itu ya nama makanan sejenis tumis daging kambing berkuah yang rasanya gurih bukan main dengan banyak lemak daging kambing juga tomat dan kubis, rasanya sungguh enak.


Shafa malah memutar matanya malas. Sejak lama dia dan Joseph memang beda frekuensi.


"Bukan! kenapa di pikiran mu hanya ada makanan saja?" tanya Shafa sudah mulai agak kesal pada Joseph.

__ADS_1


"Kamu salah Shafa, di pikiran ku tidak hanya ada makanan. Di pikiran ku juga ada kamu!"


Blusshh


Shafa tertegun, wajahnya langsung menjadi Semerah kepiting rebus. Tanpa berkata-kata dia langsung berlari kecil menuju ke mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil, Shafa memegang dadanya dengan kuat.


'Dalam dua hari kenapa pak tua itu sudah berubah dari Rambo jadi Romeo. Ini sangat berbahaya! jantungku, ya ampun!' gumam Shafa dalam hatinya.


Joseph yang melihat tingkah Shafa yang malu-malu itu tersenyum kecil.


"Hei pak tua, cepat. Aku tidak mau terlambat di hari pertama masuk kerja setelah di skorsing!" teriak Shafa dari jendela mobilnya.


Shafa menutupi rasa malunya dengan berkata seperti pada Joseph. Padahal saat itu jantungnya sedang main orkestra.


Joseph pun segera masuk ke dalam mobil, saat akan menginjak pedal gas, Joseph menoleh sekilas ke arah Shafa yang wajahnya masih memerah. Karena tidak mau semakin gugup akhirnya Shafa memalingkan wajahnya menghadap jendela mobil.


Kurang dari satu jam, Randy sudah menepikan mobilnya di depan sebuah gudang. Di sana ada tiga buah motor dan satu buah mobil yang terparkir. Begitu mobil Randy berhenti, dua orang anak buah Roy langsung menghampiri mobil Randy.


Mereka tidak tahu mobil siapa itu, jadi mereka ingin memeriksanya. Tapi ketika Randy membuka kaca mobil, sikap mereka yang tadinya waspada langsung berubah menjadi lebih menunjukkan sedikit hormat pada Randy.


"Tuan Randy" sapa Umar.


Randy pun hanya menganggukkan kepalanya sedikit. Lalu membuka pintu mobilnya. Masih dengan kaca mata hitam yang masih dia pakai. Randy melihat ke arah pintu gudang tempat dimana tiga orang preman yang telah meneror rumah Karina di tahan.


"Mereka di dalam?" tanya Randy sombong.


Bisa di bilang begitu, karena sejak tadi Randy bicara tanpa melihat ke arah para anak buah Dave. Juga selalu mendongakkan kepalanya ke atas.

__ADS_1


"Iya tuan, mereka bertiga di dalam!" jawab Umar.


Setelah mendengar jawaban Umar, Randy pun bergegas masuk ke dalam gudang. Suasana di dalam gudang itu cukup gelap, namun di tengah gudang terpasang lampu yang sangat terang tepat di atas tiga buah kursi, yang di masing-masing kursi terdapat tiga orang yang sedang di ikat dengan wajah yang sudah lumayan babak belur.


Melihat kedatangan Randy, Roy dan yang lain pun segera bangun dan menghampiri Randy.


"Tuan Randy" panggil Roy.


Ketika nama Randy di sebutkan, dua orang yang sedang di ikat itu malah terlihat semakin ketakutan. Mereka bahkan sudah mengalirkan keringat yang besarnya sebesar biji jagung dari kedua pelipisnya.


"Wan, bagaimana ini? bukankah pria itu adalah pria yang waktu itu? pria yang istrinya...!"


"Diammm!" bisik seseorang yang dipanggil Wan oleh pria yang wajahnya sudah sangat pucat.


"Ada apa? kalian kenal dengan pria itu. Apa dia bisa menolong kita?" tanya pria berkepala plontos yang sudah ketakutan sejak tadi.


"Diam, dia bahkan bisa menghabisi kita!" bisik Iwan lagi pada kedua temannya.


Randy sebenarnya berpura-pura mengobrol dengan para anak buah Dave. Padahal dia juga sedang memperhatikan gerak-gerik tiga preman itu. Randy merasa kalau pria yang lebih muda yang berada di sebelah kiri itu sepertinya sangat ketakutan melihat dirinya. Dan pria yang di ikat di tengah tampak membentaknya agar diam.


Randy sudah mengerti, kalau dia bisa bicara dengan pria yang di sebelah kiri itu. Randy pun memerintahkan pada anak buah Roy, untuk membawa pria yang di ikat di sebelah kiri itu ke ruangan lain di gudang ini.


Randy berjalan terlebih dahulu, kemudian dua anak buah Roy membuka ikatan pria yang ada di sebelah kiri.


"Tuan Randy ingin bicara dengan mu, lebih baik jawab dengan benar apa yang dia tanyakan. Mungkin kamu akan di bebaskan!" ujar Umar pada pria yang di buka ikatannya itu.


Pria yang di tengah malah memasang wajah suram. Dia berusaha memberi kode pada pria yang di buka ikatannya dan di bawa oleh Umar dan salah satu temannya. Tapi Umar sengaja menutupi pandangan pria itu dari Iwan, itu juga atas perintah Randy.


'Gawat, Jupri orangnya sangat penakut. Bisa gawat kalau dia buka mulut tentang peristiwa lima tahun yang lalu!' gumam Iwan dalam hatinya merasa sangat cemas.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2