
Dave dan Sila juga menuju ke kamar Dave yang lama. Kamar saat Dave masih tinggal di kediaman Hendrawan.
Di sana Sila langsung mengajak Dave untuk duduk. Sebelumnya juga Sila sudah minta pada seorang pelayan untuk mengambil kotak P3k untuknya.
Sila langsung membersihkan luka di buku-buku bagian punggung tangan suaminya dengan perlahan.
"Kamu sudah tahu bukan?" tanya Dave yang tiba-tiba mengeluarkan suaranya.
Sila hanya bisa menghela nafas panjang. Sambil terus membersihkan luka Dave, Sila pun menjawab.
"Iya mas, Karina yang memberitahu ku!" jawab Sila.
"Sejak kapan?" tanya Dave lagi dengan suara yang terkesan sangat dingin pada Sila.
"Beberapa hari yang lalu, saat Joseph tertembak!" jawab Sila lagi.
Dave pun memejamkan matanya. Dia merasa seperti seseorang yang buta, sama sekali tidak bisa melihat apa yang terjadi di depannya. Apalagi pada dua orang yang begitu penting dalam hidupnya.
"Mas, aku minta maaf ya. Aku tidak mengatakan ini sebelumnya padamu. Karena aku merasa ini bukan kapasitas ku!" jelas Sila sambil mengoleskan krim di luka yang ada di tangan Dave.
Sila menjeda kalimatnya, dia tahu Dave masih syok atas apa yang terjadi barusan. Setelah mengoleskan krim, Sila pun duduk di sebelah Dave dan merangkul suami nya itu dengan lembut.
"Mas, aku tahu kamu pasti merasa terluka atas semua ini. Aku tahu kamu pasti merasa sangat sedih dan kecewa pada Shafa dan Joseph. Termasuk juga padaku kan? tapi mas. Shafa dan Joseph benar-benar saling mencintai. Kamu tidak melihat betapa paniknya Shafa saat tahu Joseph tertembak. Saat itu dia bahkan tidak perduli pada keselamatan dirinya sendiri dan pergi dengan cepat mengemudikan mobilnya ke rumah sakit!" jelas Sila.
Dave pun hanya diam dan mendengarkan. Dia ingat kala itu memang Shafa datang sendiri ke rumah sakit. Tapi lagi-lagi Dave merasa sedih, kenapa dia tidak menyadari hal itu.
"Sama halnya dengan Joseph, Karina mengatakan padaku. Mereka pernah terlibat sebuah kejadian yang bisa di bilang kecelakaan kecil, sebuah motor melaju dengan cepat ke arah Karina dan Shafa. Dan saat itu juga tanpa pikir panjang, Joseph menarik Shafa dan membahayakan dirinya sendiri! Mereka berdua benar-benar saling mencintai mas!" tambah Sila lagi.
"Aku tahu kamu marah karena Joseph merahasiakan ini darimu, orang yang tidak pernah menutupi apapun darimu sekarang merahasiakan hal sepenting ini darimu, aku tahu bagaimana perasaan mu. Tapi semua itu karena dia merasa dirinya tidak pantas. Dia sudah berkali-kali menolak Shafa, karena dia tahu diri. Perbedaan dirinya dan Shafa memang antara langit dan bumi, tapi Shafa tidak menyerah mas. Dan itulah kekuatan cinta, kekuatan cinta Shafa yang akhirnya melelehkan kerasnya hati Joseph!" jelas Sila dengan panjang lebar berusaha membuat Dave mengerti.
__ADS_1
Dave menarik dirinya sedikit dari Sila.
"Aku tidak tahu kalau pria yang Shafa kejar-kejar itu adalah Joseph, aku melihatnya mencium Shafa dan aku sangat marah. Pria yang seharusnya menjaga dan melindungi Shafa malah menciumnya, aku... !" Dave terdiam dan kemudian melihat ke arah Sila.
"Apa ini juga idemu?" tanya Dave.
"Maafkan aku mas, aku hanya bisa memikirkan hal ini. Masalahnya ayah dan ibu mertua akan mengumumkan perjodohan Shafa dan Jimmy. Aku tidak mau kalau semuanya akan terlambat, dan ketiga orang itu akan menderita nantinya!" jelas Sila.
Dave mengernyitkan keningnya.
"Perjodohan? ck... ibu kenapa sih, tidak sadar juga. Ini bukan jaman Siti Nurbaya. Yang benar saja! Aku sampai membuat Joseph babak belur, bodohnya aku!"
Dave merasa sangat bersalah pada Joseph saat dia mendengar semua penjelasan dari Sila. Kalau dia tahu Shafa dan Jose saling mencintai. Dia tidak mungkin melakukan hal itu pada Joseph. Sesungguhnya saat dia memukul Joseph tadi dirinya juga merasakan sakit yang sama.
Sila menghela nafas lega. Dia memang mengenal betul suaminya. Dave memang sangat pengertian.
Sila langsung memeluk erat suaminya lagi.
Dave tersenyum lirih.
"Kamu ini, kamu juga tahu kan kalau aku akan memukulnya?" tanya Dave.
Sila pun mengangguk.
"Iya, tapi Joseph mengira kamu hanya akan memukulnya sekali. Tapi tenang saja mas, aku bahkan sudah katakan padanya paling tidak kamu akan memukulnya beberapa kali. Aku kan sangat mengerti dirimu mas!" jawab Sila tersenyum puas karena ternyata tebakannya memang benar.
"Kalau begitu apa kamu tahu, apa yang akan aku lakukan sekarang?" tanya Dave.
Sila diam dan berpikir.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu akan ke kamar Shafa dan meminta maaf pada Joseph, iya kan?" tanya Sila dengan penuh keyakinan.
Dave pun mengangguk. Tapi kemudian dia berkata.
"Kamu benar sayang, aku akan kesana dan meminta maaf pada Jo. Tapi setelah aku menghukum istri ku yang sudah membuatku sport jantung ini dulu!" ucap Dave yang langsung menyambar bibir merah Sila.
***
Sementara itu pesta resepsi yang tadinya akan berakhir pada pukul sepuluh malam sedang di rundingkan oleh Rizal dan Davina. Apakah akan seperti rencana, atau harus mengakhiri pesta demi menyelesaikan masalah Joseph dan Shafa.
Sebelumnya Rizal dan Davina juga mengatakan semuanya pada Marlina. Kalau terjadi sedikit masalah antara Joseph dan Dave. Hingga membuat mereka harus meninggalkan tempat itu.
Tapi karena para undangan masih banyak yang baru datang. Marlina pun mengatakan kalau biar dia, kedua putrinya, Jimmy dan Oman saja yang menjadi perwakilan keluarga.
"Ayah, aku...!"
"Kamu di sini saja nak. Banyak tamu yang akan memberi selamat padamu, mereka sudah datang dari jauh. Maaf ayah dan ibu akan menyelesaikan masalah ini dulu. Jika bisa diselesaikan dengan cepat, ayah dan ibu akan kembali kemari!" ucap Rizal.
Randy pun mengerti, Karina juga menggandeng tangannya sebagai dukungan kalau dia juga tidak apa-apa ayah dan ibu mertuanya menyelesaikan masalah Shafa dulu.
Rizal dan Davina pun bertanya pada pelayan. Dan pelayan mengatakan kalau Shafa membawa Joseph ke kamar Shafa. Rizal memijit kepalanya yang terasa pusing.
"Kamar tamu kan ada, kenapa malah ke kamarnya?" tanya Rizal yang sangat tidak suka dengan cara Shafa itu.
Sementara Shafa di kamarnya juga terus menangis sambil mengobati luka-luka Joseph di bantu oleh mbok Darmi.
Joseph benar-benar tanpa ekspresi, ketika alkohol di atas kapas itu menyentuh lukanya yang terbuka. Dia bahkan hanya diam tanpa ekspresi. Matanya merah, tapi bukan karena marah. Joseph merasa sangat sedih.
Bagaimana pun dia sangat menghormati keluarga ini, dan kali ini dia sudah mengecewakan mereka. Joseph benar-benar merasa dirinya adalah orang yang paling buruk di dunia.
__ADS_1
***
Bersambung...