
Flashback On
Empat bulan yang lalu, di mansion mewah keluarga Hendrawan, Vincent datang bersama kedua orang tuanya untuk melamar Shafa.
Vincent dan Shafa saling mengenal karena saat kuliah, Shafa magang di perusahaan milik keluarga Vincent. Shafa memang tidak tertarik pada Vincent, karena sudah ada yang mencuri hatinya bahkan semenjak dia SMP. Seorang pria yang hampir setiap hari mengantar dan menjemput nya ke sekolah. Seorang pria yang usianya memang jauh di atas Shafa, bahkan lebih tua dari Randy sang kakak pertama. Tapi seperti kata orang love is blind, cinta itu buta, Shafa tak perduli berapa usianya dan apa pekerjaannya dia telah jatuh hati pada Joseph.
Sudah beberapa kali Shafa mengutarakan isi hatinya pada Joseph. Saat Joseph berulang tahun yang ke 25 saat itu usia Shafa baru 12 tahun. Dia sudah memberikan surat cinta pada Joseph. Dan itu hanya di tanggapi kekehan saja oleh Joseph. Siapa yang percaya anak gadis berusia 12 tahun memberi surat cinta pada seorang pria berusia 25 tahun.
Bukan hanya saat itu saja, di ulang tahun Shafa yang ke 17, ketika dia SMA. Shafa juga mengatakan cintanya pada Joseph. Dan harapannya saat meniup lilin ulang tahun ke 17 nya adalah menikah dengan Joseph. Hal itu dia sampaikan pada Joseph. Tapi lagi-lagi hanya di tanggapi dengan kalimat 'Jangan bercanda nona, selamat ulang tahun ' lalu Joseph meninggalkan Shafa.
Seperti itu, bahkan ketika malam Vincent melamar Shafa. Shafa cukup terkejut karena Vincent membawa kedua orang tuanya untuk melamarnya. Shafa belum bisa menjawab, dia lalu bicara terlebih dahulu dengan Vincent. Saat semua orang sedang makan malam, Shafa dan Vincent bicara di teras.
"Vincent, tapi aku tidak menyukaimu. Aku sudah katakan berulang kali padamu kan, aku tidak menyukai mu. Aku sudah memberikan hatiku pada seseorang!" ucap Shafa berusaha menjelaskan pada Vincent.
"Tapi dia menolak mu kan, kamu sendiri yang bilang dia menolak mu. Shafa aku mencintaimu, berikan aku kesempatan untuk bisa membuktikan padamu, kalau suatu saat nanti aku bisa mendapatkan hatimu. Atau terima lah lamaran ku untuk nenek ku yang sedang sakit, untuk menyelamatkannya, memberikan kehidupan padanya lebih lama lagi, memberikan harapan padanya. Dia sangat menyukai mu, dia ingin sekali aku menikah dengan mu!" jelas Vincent.
"Tapi cinta sepihak tidak akan membuat mu bahagia Vincent!" lirih Shafa.
Vincent malah tersenyum lalu mendekati Shafa.
"Aku akan bahagia, asal itu di dekat mu. Asal bersama mu. Tidak masalah sekarang kamu tidak mencintai ku. Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku, menerimaku, yakin suatu saat aku akan bisa mendapatkan hatimu!" ucap Vincent belum menyerah.
"Tidak mungkin, kamu akan menderita nanti. Aku juga tidak mungkin bisa memberikan apa yang seorang istri bisa berikan pada suaminya, karena aku tidak mencintaimu!" ucap Shafa yang bersikeras pada Vincent.
Vincent sudah tahu akan hal ini, dia tahu konsekuensi menikahi wanita yang belum mencintainya. Tapi Vincent tidak menyerah, keinginannya yang kuat untuk menikah dengan Shafa membuat sebuah ide terlintas di kepalanya.
__ADS_1
"Shafa, aku mohon padamu. Menikahlah dengan ku, demi nenek ku. Baiklah, aku akan buat perjanjian, jika dalam waktu enam bulan aku belum bisa membuatmu jatuh cinta padaku, aku akan melepaskan mu, dan selama kamu tidak mengijinkan, aku juga tidak akan menyentuh mu!" tegas Vincent.
Shafa mulai berpikir kembali, nenek Vincent saat ini sedang sakit dan kritis. Satu-satunya yang neneknya inginkan adalah Vincent menikah dengan Shafa.
"Kamu janji?" tanya Shafa.
"Aku janji!" ucap Vincent dengan cepat dan yakin.
Flashback Off
Shafa kembali teringat peristiwa itu, peristiwa dimana Vincent telah berjanji tidak akan menyentuhnya sebelum Shafa mengijinkannya.
Tapi saat ini Vincent malah sedang berusaha mencium Shafa. Shafa berusaha membuka matanya dengan lebar, dia menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah.
Rasa sakit dan pedih di bibirnya membuat Shafa mendapatkan kembali kesadarannya. Shafa lantas segera mendorong Vincent.
"Shafa aku mencintaimu, setelah ini aku yakin kamu juga akan mencintaiku..!" ucap Vincent berusaha kembali mendekati Shafa.
Tapi Shafa malah melemparkan sebuah vas yang ada di depannya ke arah Vincent.
"Pembohong... kamu jahat Vincent!" pekik Shafa yang sudah kembali hampir kehilangan kesadarannya.
Tubuhnya semakin terasa panas dan tidak nyaman, rasa ngilu tidak karuan membuatnya nyaris tak dapat berdiri dengan benar. Dengan nafas tereng4h-eng4h Shafa berusaha untuk keluar, tapi Vincent menarik tangannya dan kembali memeluknya.
"Kamu istriku Shafa, tidak ada seorang pun yang berhak melarang ku menyentuh mu!" seru Vincent yang sudah di selimuti kabut gair4h karena jubah mandi Shafa juga sudah berantakan. Memperlihatkan bagian atas yang sejak tadi menggoda Vincent.
__ADS_1
"Pembohong, kamu licik Vincent. Aku tidak mau... aku tidak mau melakukan nya tanpa cinta. Lepaskan aku...!" pekik Shafa yang benar-benar sudah kewalahan menghadapi gejol4k dalam dirinya sendiri.
Shafa terus berusaha menghindar saat Vincent berusaha menciumnya. Vincent yang mulai tidak bisa menahan lagi keinginannya pun mendorong Shafa hingga jatuh di atas sofa. Vincent mengunci pergerakan tangan Shafa, Vincent menarik kedua tangan Shafa ke atas kepalanya dan menguncinya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya mencengkeram rahang Shafa agar dia bisa mencium bibir Shafa.
"Emmptt...!" Shafa berusaha menutup mulutnya.
Tapi Vincent yang sudah menempelkan bibirnya di bibir Shafa berusaha untuk mendapatkan lebih dari itu. Vincent menekan rahang Shafa, hingga Shafa yang merasa kesakitan membuka mulutnya. Saat itulah Vincent langsung memasukkan lid4hnya yang gesit menari dan berusaha membelit lid4h Shafa.
Air mata Shafa mengalir, karena dia merasa sangat kesal, marah tapi tak berdaya.
'Aku tidak akan memaafkan mu Vincent, tidak akan!' batin Shafa menjerit.
Kaki Shafa yang tadinya berusaha memberontak pun sudah tidak ada tenaga lagi. Tangan Vincent mulai sangat liar, bahkan sudah menyentuh bagian bawah yang memang tidak memakai pelindung apapun. Karena Shafa memang hanya memakai jubah mandi. Ketika tangan Vincent menyentuh bagian sensit1f Shafa. Mata Shafa membulat, dia benar-benar tak terima Vincent melanggar perjanjian yang sudah dia buat sendiri.
Shafa menggigit lidah Vincent. Membuat Vincent melepaskan ciumannya dan menarik tangannya dari bagian sensit1f Shafa.
"Shafa, aku tidak akan melepaskan mu!" kesal Vincent yang langsung membuka paksa jubah mandi Shafa.
Shafa yang sudah tidak berdaya, hanya bisa menangis.Vincent matanya bertambah berkabut, saat melihat dua benda indah di depan matanya, tangannya terarah ingin menyentuh salah satunya.
Brakkk
Suara pintu di dobrak membuat Vincent langsung menoleh ke arah pintu. Tangannya terkepal kuat saat melihat siapa yang datang.
***
__ADS_1
Bersambung...