
Randy kini sudah berada di kamarnya, setengah jam setelah dirinya dan Karina resmi menjadi sepasang kekasih. Joseph datang dan membawakan mereka berdua payung. Joseph terlihat tersenyum melihat Karina yang juga membalas genggaman tangan Randy padanya.
Setelah mandi dan ganti pakaian, Randy sudah bersiap untuk tidur. Tapi dia kemudian, meraih ponsel nya yang ada di atas meja di samping tempat tidurnya dan mengetik pesan yang kemudian dia kirimkan pada Dave. Isi pesan itu kurang lebih seperti ini.
'Terimakasih Dave, berkat apa yang kamu katakan tadi tadi sore. Sekarang hubungan ku dengan Karina semakin dekat, kami bahkan sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Terimakasih, adikku!'
Seperti itulah pesan yang di kirimkan Randy pada Dave.
Flashback On
Sore hari ketika Shafa dan Karina membantu Hasnah menyiapkan makan malam. Dave menghubungi Randy, dia mengatakan kalau dirinya sudah menemukan Vincent.
"Lalu apa yang kamu lakukan padanya, kamu sudah patahkan tangan dan kakinya kan?" tanya Randy yang terlihat sangat geram.
"Hei, apa kamu lupa. Istriku sedang hamil. Bagaimana mungkin aku mematahkan kaki dan tangan seseorang, membuatnya babak belur saja aku sudah ketar-ketir!" seru Dave dari ujung telepon.
"Itu tahayull Dave!" bantah Randy.
"Mau itu tahayull atau bukan, kalau istriku yang bilang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa tidur di luar kamar aku nanti!" seru Dave lagi membuat Randy nyaris tidak bisa menahan kekehannya.
"Jangan tertawa, nanti kalau sudah menikah. Kamu akan tahu berapa takutnya berpisah dari istri yang sangat kamu cintai... maaf, aku lupa kamu duda!" ucap Dave yang akhirnya menyadari kalau kakaknya itu lebih berpengalaman darinya.
Suasana pun hening seketika. Tapi Randy hanya bisa menghela nafas panjang. Tidak ada yang lebih tahu dari dirinya, bagaimana rasanya berpisah dari orang yang sangat dia sayangi. Tidak ada yang tahu seberapa dalam rasa sakitnya, selain dirinya sendiri.
"Dave, apa kamu sudah tanya pada Sila. Kira-kira apa yang bisa aku lakukan untuk membuat Karina membuka sedikit hatinya untukku?" tanya Randy.
"Sudah kak, dengarkan ini baik-baik ya. Istriku bilang Karina itu berbeda dengan kebanyakan wanita lain, dia semakin di kejar maka dia akan semakin menjauh, merasa tidak nyaman dan memilih menjauh. Sila bilang, Karina itu orangnya sangat mudah tersentuh, sangat mudah merasa kasihan dan bersalah. Dan kata Sila, cobalah kakak jujur saja padanya tentang taruhan kita waktu itu, dan katakan dengan tulus kalau kamu lakukan semua itu karena cintamu padanya. Mungkin dia malah akan kasihan padamu!" terang Dave panjang lebar.
Randy terdiam.
"Baiklah, aku akan lakukan hal itu!" sahut Randy dengan cepat.
Flashback Off
__ADS_1
Keesokan harinya...
Saat akan sarapan bersama di ruang makan, Randy sedikit terkejut karena tidak melihat Shafa di sana. Padahal biasanya dia akan tampil lebih dahulu. Joseph yang memang mengetahui kenapa Shafa tidak berada di sana pun hanya bisa diam.
"Jo, kamu sudah cek ke kamarnya? apa Shafa baik-baik saja. Atau tangannya bertambah parah?" tanya Randy dengan raut wajah khawatir.
"Aku sudah mengetuk pintu kamar nona, tapi dia hanya bilang, kalau dia lapar dia akan turun. Dia mau tidur seharian!" jawab Joseph sesuai dengan apa yang Shafa katakan tadi saat Joseph mengajaknya untuk sarapan pagi.
"Aku akan ke atas!" ucap Karina yang khawatir pada keadaan Shafa.
Randy pun hanya menganggukkan kepalanya pertanda dia setuju dengan apa yang akan di lakukan Karina.
Sementara itu di dalam kamarnya, Shafa masih bersembunyi di balik selimutnya. Pernyataan Joseph semalam membuatnya tidak bisa tidur dan merasa canggung ketika bertemu dan berdekatan dengan Joseph. Bahkan semalam, setelah Joseph mengatakan kalau nanti Shafa resmi bercerai maka Joseph akan mengejarnya, setelah Joseph mengatakan hal itu Shafa terdiam beberapa saat, sampai kemudian dia malah melepaskan pelukan Joseph dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Shafa bahkan tidak bisa tidur karena ucapan Joseph itu terus menerus terngiang di telinga nya.
Bahkan tadi pagi saat Joseph mengetuk pintu kamarnya dan mengajaknya sarapan pagi. Dia malah merasa perasaannya seperti akan menghadap guru BP saat sekolah. Dia benar-benar merasa sangat canggung, deg degan gitu kalau mau ketemu Joseph.
Dengan kesal Shafa bahkan memukul kasur tempat dia berbaring.
Duk Duk Duk
Di saat Shafa sedang kesal dan memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Karina pun mengetuk pintu kamar Shafa.
Tok tok tok
"Shafa, apa aku boleh masuk?" tanya Karina dari luar pintu.
Mendengar suara Karina, Shafa pun segera membuka selimutnya dan bergegas turun dari tempat tidur. Kemudian Shafa membuka pintu kamarnya perlahan.
"Kak Karina!" sapa nya pelan.
Karina lantas tersenyum, dan memperhatikan Shafa.
"Apa kamu baik-baik saja?" hanya Karina yang melihat sepertinya ada kantung mata di bawah mata Shafa.
__ADS_1
Shafa membuka pintu kamarnya lebar, dan mereka berdua pun duduk di tepi tempat tidur bersebelahan.
"Semalam kamu tidak bisa tidur ya, kenapa?" tanya Karina lembut.
Shafa cukup terkejut, dia semakin panik.
"Hah, bagaimana kak Karina tahu?" Shafa bertanya dengan gugup, tapi tidak mungkin kan dia melihat semua kejadian itu, saat Shafa bersama Joseph bukankah Karina masih bersama dengan Randy di gazebo depan.
Karina kembali tersenyum lalu berkata sambil menunjuk ke arah mata Shafa.
"Terlihat jelas, itu kantung mata di bawah matamu menjelaskan semuanya!" jawab Karina.
Shafa menghela nafasnya lega.
"Iya kak, aku tidak bisa tidur. Tapi jangan cemaskan aku, kakak dan kak Randy bisa main ski bersama Joseph. Aku tidak apa-apa di sini. Aku akan tidur sebentar, setelah aku merasa lebih baik aku akan menyusul kalian!" terang Shafa.
Karena rencana hari ini memang adalah rencana mereka untuk bermain ski air. Dan Shafa tidak mau yang lain menundanya karena dia.
"Baiklah, tapi aku akan meminta Randy agar Joseph bisa tinggal dan menjagamu..."
Belum selesai Karina mengatakan apa yang mau dia katakan, Shafa malah melambaikan tangannya berkali-kali di depan Karina.
"Tidak usah kak, suruh saja pak tua itu ikut kalian. Aku mau tidur, tidak perlu penjaga!" ujarnya beralasan.
'Jantung ku bisa terus main genderang kalau pak tua itu di dekat ku, lantas bagaimana aku bisa tidur kalau begitu!' batin Shafa.
"Kak Karina, aku serius. Aku hanya akan tidur. Jangan cemaskan aku!" ucap Shafa.
Karina pun mengangguk paham.
"Baiklah, tapi kalau kamu butuh apapun. Langsung telepon aku ya!" ucap Karina dan Shafa pun mengangguk dengan cepat.
***
__ADS_1
Bersambung...