Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 47


__ADS_3

Joseph masuk kedalam ruang kerja Dave dan memberikan beberapa dokumen pada Sila untuk di pelajari. Selain jadwal Dave, Sila ternyata juga di beri daftar nama-nama anggota keluarga Dave bahkan foto dan juga data diri mereka, beserta apa yang mereka sukai dan tidak.


Sila dengan serius membaca tiap detail nya karena dia juga pasti cepat atau lambat akan bertemu dengan mereka. Meski saat bertemu dengan mereka nanti Dave hanya akan memperkenalkan nya sebagai sekertaris pribadi Dave, tapi Sila ingin memberikan kesan yang baik juga pada mereka semua.


Sila mulai menghela nafas nya berat ketika membaca data tentang kakak kandung Dave. Jelas tertulis kata warning disana, dan jangan pernah mendekati kakak Dave yang bernama Randy itu, tapi Sila terkekeh kecil ketika membaca tulisan buaya darat di bawah foto Randy.


Dave yang memang sejak tadi hanya pura-pura bekerja saja, padahal dia sedang mencuri-curi pandang pada istrinya itu pun penasaran dengan apa yang di tertawaan Sila.


"Apa yang lucu?" tanya Dave tiba-tiba dan jujur saja itu membuat Sila terkesiap kaget.


Sila langsung menghentikan tawanya dan melihat ke arah Dave.


"Tuan maaf, ti... tidak apa-apa!" ucap Sila ragu.


'Ya ampun, kenapa aku malah tertawa. Tuan pasti akan marah kalau tahu aku menertawakan tulisan tuan Joseph ini!' batin Sila merasa sedikit takut.


Tapi Dave tidak percaya begitu saja dengan jawaban Sila. Dia masih penasaran dengan apa yang membuat istrinya itu terkekeh kecil tadi. Dave langsung berdiri dan menghampiri meja kerja Sila. Sila sudah panik karena Dave berjalan ke arahnya. Tadinya Sila mau menutup lembar yang dia baca tapi gerakkannya kurang cepat, Dave sudah lebih dulu melihatnya.


"Dia... kenapa dia bisa membuat mu tertawa?" tanya Dave dengan raut wajah sama sekali tidak senang.


'Hanya dengan melihat fotonya saja dia bisa tertawa, apa bagusnya Randy di banding aku?' tanya Dave dalam hatinya.


"Apa yang lucu? atau kamu merasa dia lebih tampan dariku?" tanya Dave mulai menyipitkan matanya melihat ke arah Sila.


Sila langsung berdiri dan dengan cepat melambaikan tangan nya berkali-kali.


"Tidak.. tidak tuan, bukan karena itu, tuan tentu saja lebih tampan, aku hanya melihat tulisan ini!" ucap Sila yang langsung melihat ke arah tulisan yang tertera di bawah foto Randy.


"Buaya darat... pfftt!" setelah membaca tulisan itu Dave pun ikut tertawa.


"Joseph benar-benar pandai menilai orang...!" ucap Dave lalu menghentikan kalimatnya.


"Sila, tadi bukankah kamu bilang kalau aku lebih tampan dari Randy?" tanya Dave yang langsung membuat wajah Sila merona merah.

__ADS_1


Sila tertunduk malu, Dave malah sengaja mendekatinya hingga berada sangat dekat dengan Sila.


"Jadi menurut mu aku ini sangat tampan bukan?" tanya Dave yang sengaja menggoda Sila bahkan tangan Dave sudah menarik pinggang Sila hingga Sila berada sangat dekat dengannya.


Baru Sila akan membuka suara, ponsel Dave berdering.


"Astaga!" pekik Dave kesal lalu melepaskan pinggang Sila.


Sila langsung duduk kembali di kursinya dan pura-pura membaca dokumen yang ada di depannya.


Dave juga langsung bergegas ke arah meja kerjanya, karena hanya keluarga dan beberapa orang penting saja yang tahu nomer pribadinya itu.


Dan wajah Dave terlihat semakin masam saja ketika melihat layar ponselnya dan mengetahui siapa yang sedang menghubungi dirinya.


"Dave!!!" pekik Davina di seberang sana.


Dave bahkan sampai harus menjauhkan ponsel yang dia pegang dari telinganya karena teriakan sang ibu.


Setelah Dave tidak mendengar Davina berteriak, Dave baru mendekatkan ponsel itu kembali ke telinganya.


"Oh ya, lalu kenapa kamu tidak mendengarkan ibu?" tanya Davina terdengar sangat kesal.


Sila yang memang tidak bisa mendengar percakapan Dave dan ibunya hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya. Setidaknya dia merasa kalau Dave tidak akan menyembunyikan apapun karena Dave masih menerima panggilan telepon itu di dekatnya, kalau memang Dave mau menyembunyikan sesuatu darinya, pasti Dave akan memilih bicara dengan ibunya melalui telepon itu di luar ruangan atau meminta Sila keluar. Tapi itu sama sekali tidak.


"Ini aku sedang mendengar ibu bicara!" jawab Dave yang sepertinya semakin membuat Davina kesal karena Dave bisa mendengar Davina berdecak kesal dan mendengus marah.


"Heh, Dave Hendrawan apa yang sudah kamu lakukan pada calon menantu ibu? apa kamu benar-benar tidak mendengarkan apa yang ibu katakan?" tanya Davina dengan nada marah.


"Memangnya apa yang aku lakukan, wanita manja itu mengadu apa pada ibu?" tanya Dave dengan begitu santai. Dia bahkan berkata sambil duduk di kursinya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kenapa menyebutnya seperti itu? dia itu calon istrimu! Dave hentikan tingkah konyol mu, ibu sudah bosan mendengar semua gosip yang beredar kalau Mhysophobia yang kamu alami hanyalah pengalihan untuk menutupi kalau kamu tidak suka pada wanita, Dave setidaknya pikirkan reputasi ayah mu dan juga keluarga kita. Luna itu gadis baik, dia bahkan bersedia tidak punya anak dan mau menunggu hingga Mhysophobia mu sembuh, tidak akan ada lagi keluarga uang jelas bibit, bebet dan bobotnya seperti dia, mengerti lah Dave!" seru Davina yang sudah mulai merasa emosinya.


Dave malah terus melihat ke arah Sila yang terlihat sangat serius.

__ADS_1


'Aku bahkan sudah menemukan seseorang yang mampu menyembuhkan penyakit ku Bu, tapi aku harus membuktikan kalau dia tidak bersalah dulu baru aku bisa membawanya pada ibu, karena jika aku bawa dia sekarang padamu, akan banyak orang yang akan menghinanya di rumah itu!' batin Dave.


"Dave... Dave... kamu dengar tidak sih apa yang ibu katakan?" tanya Davina lagi dengan nada suara yang meninggi.


"Ck... ibu, aku benar-benar akan tuli jika ibu terus berteriak begitu!" protes Dave lagi pada ibunya.


"Dave, jangan buat ibu kesal! kenapa bukan Luna yang satu ruangan dengan mu, kenapa malah sekertaris mu yang lain?" tanya Davina dengan nada tegas.


Dave mengangguk paham, ternyata Luna mengadu pada ibunya tentang yang terjadi antara dia dan Sila barusan.


"Ibu, wanita manja itu kan disini untuk bekerja dan perlu ibu tahu, dia bahkan tidak mengerti apapun tentang pekerjaan seorang sekertaris. Karena itu aku memintanya untuk belajar dari Anita, kalau dia berada satu ruangan dengan Anita bukankah itu akan lebih mudah untuknya belajar!" seru Dave.


Davina terdiam sejenak,


"Benarkah begitu?" tanyanya yang mulai percaya pada alasan Dave.


"Lalu ibu pikir apalagi alasannya?" tanya Dave.


"Tapi setidaknya ajak lah dia makan siang bersama atau...!"


"Ibu, ibu juga tahu kan selera ku dan wanita manja itu sangat berbeda, apa yang aku makan akan membuatnya alergi, dan apa yang dia makan akan membuat ku muntah. Ibu ingin seperti itu?" tanya Dave pada Davina.


Ketika Dave mengatakan hal itu Sila langsung meletakkan dokumen yang dia pegang dan melihat ke arah Dave.


Dave yang menyadari kalau Sila melihat ke arahnya malah sengaja mengedipkan sebelah matanya menggoda Sila membuat Sila kembali salah tingkah dan kembali pada dokumen yang tadi dia baca.


"Baiklah, baiklah. Aku juga bingung kenapa bisa begitu. Ya sudah, aku akan bicara dengan Luna nanti. Tapi ingat untuk tidak mengacuhkan nya ya!" pinta Davina pada Dave.


"Tidak janji Bu!"


"Dave..!"


Belum selesai Davina bicara Dave sudah mematikan ponselnya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2