
"Ayah...!" lirih Shafa yang sudah mengerti maksud sang ayah.
"Tuan be...!"
"Panggil aku ayah, dasar anak bodoh!" ucap Rizal menyela ucapan Joseph dan memeluk pengawal kepercayaannya itu dengan erat.
Joseph melihat ke arah Shafa yang masih berada dalam pelukan Davina. Shafa tersenyum bahagia, karena sang ayah ternyata menerima hubungan mereka.
Davina melepaskan Shafa dari pelukannya dan menyuruhnya mendekat ke ayahnya, setelah Shafa mendekat ke ayahnya. Rizal langsung menarik tangan Shafa perlahan dan menyatukan nya dengan tangan Joseph.
"Sayang sekali penghulunya sudah pulang, jika tidak aku pasti akan menikahkan kalian juga sekarang!" ucap Rizal.
Shafa pun langsung memeluk erat ayahnya. Dia tidak menyangka kalau semua kecemasannya dan kekhawatirannya itu sama sekali tidak terjadi. Sang ayah justru menerima Joseph dengan kedua tangan terbuka.
Shafa kini sadar kalau semuanya itu tidak sama seperti apa yang ada di pikirannya. Karena setiap kepala punya pikiran yang berbeda-beda. Punya pendapat yang berbeda-beda. Cara pikirnya benar-benar tak sama dengan sang ayah. Bahkan saat Shafa melihat ibunya, ibunya pun terlihat ikhlas menerima hubungannya dengan Joseph.
Tangis Shafa memang belum berhenti, tapi ini berbeda dari yang sebelumnya. Ini adalah tangis bahagia. Tangis bahagia.
Dave dan Sila yang juga sudah berada di depan kamar Shafa terlihat menghela nafas lega. Dave bahkan sudah menarik Jimmy yang sedang berusaha mendekati Isnara di tempat acara.
"Ada apa ini?" tanya Jimmy.
Semua orang lalu menoleh ke arah Jimmy. Pandangan Jimmy hanya terfokus pada Joseph. Rizal pun melepaskan pelukannya dari Shafa dan Joseph.
Jimmy mendekati Joseph dan berkata.
"Jo, kenapa wajahmu babak belur begini? preman mana yang bisa memukuli mu sampai seperti ini?" tanya Joseph.
Sila pun merasa sangat bersalah, begitu pula dengan Dave yang menggaruk tengkuknya padahal sama sekali tidak gatal.
"Duduk lah, akan ku periksa!" ucap Jimmy.
Semua terdiam ketika Jimmy memeriksa keadaan Joseph.
"Ya ampun, untung saja tulang rahangmu tidak bergeser. Bukankah kamu ini pandai bela diri, kenapa bisa babak belur begini sih?" tanya Jimmy yang begitu penasaran.
Masalahnya Jimmy tahu kalau Joseph itu ilmu beladiri nya tak tertandingi, hampir sama dengan Randy. Makanya dia kaget kenapa bisa babak belur begitu.
"Sudahlah jangan banyak bicara. Kalau sudah selesai cepat pergi!" seru Dave yang merasa sangat tidak enak hati.
__ADS_1
"Ck... kebiasaan kamu Dave. Aku tadi lagi santai menikmati kue dan minuman kamu tarik kesini, sekarang malah aku disuruh cepat-cepat pergi. Dasar aneh!"
"Apa kamu bilang?" tanya Dave kesal.
"Sudah sudah, bagaimana keadaan nya Jim?" tanya Rizal dengan penuh karisma.
"Lukanya lumayan sih om, tapi akan sembuh dalam beberapa hari. Istirahat saja, dan jangan banyak bicara. Atau rahangnya akan bergeser...!"
"Separah itu?" tanya Dave dengan panik menyela ucapan Jimmy.
"Kamu tidak lihat, matanya saja nyaris tak bisa terbuka dengan benar. Ini parah sekali, kalau pria biasa, atau preman pasar biasa. Di pukuli seperti ini pasti sudah pingsan dan masuk rumah sakit setidaknya satu minggu!" jelas Jimmy yang membuat Dave dan Sila lagi-lagi merasa sangat bersalah pada Joseph.
Shafa terlihat cemas, dan itu sangat diperhatikan oleh Davina. Lalu Davina mendekati sang putri dan berkata.
"Jangan cemas, kamu kan bisa merawatnya di rumah ini!" ucap Davina membuat Jimmy ternganga.
"Hah, apa Tante? apa mereka berdua...?" tanya Jimmy yang melihat ke arah Shafa dan Joseph bergantian.
"Sudah, sudah cepat pergi sana!" seru Dave yang segera ingin minta maaf pada Joseph.
"Ayo Jimmy, aku antar!" ucap Sila yang tahu kalau sang suami ingin meminta maaf pada Joseph tapi tak mau Jimmy ada di tempat itu.
Alasannya sederhana, jika Jimmy tahu Dave yang memukuli Joseph lalu menyesalinya dan minta maaf. Itu akan jadi bahan yang sangat sempurna bagi Jimmy untuk terus menerus mengejek dan menyindir Dave.
Perlahan Dave mendekati Joseph dan mengajaknya duduk.
Rizal, Davina dan Shafa juga duduk di sofa yang lain yang ada di dekat mereka.
"Jo, aku minta maaf. Aku terlalu emosi saat melihatmu...!"
"Tidak tuan, aku yang minta maaf karena tidak mengatakan hal ini pada tuan...!"
Grepp
Dave memeluk Joseph, tanpa perduli dengan Myshopobia-nya. Dave memeluk erat Joseph.
"Maafkan aku, seharusnya aku bertanya dulu. Aku langsung memukul mu begitu saja. Padahal kau bahkan rela mengorbankan nyawa untuk ku. Aku merestui mu dengan adikku Jo, aku berharap dan berdoa agar kamu dan Shafa bisa bahagia bersama selamanya!" ungkapan isi hati Dave telah ia utarakan.
Joseph begitu bahagia, meski dia harus babak belur tapi semua itu setimpal, sangat setimpal dengan semua yang dia dapatkan sekarang. Restu dari semua anggota keluarga, dari ayah, ibu, Dave dan juga Sila. Pastinya juga dari Randy, karena Randy pernah berkata pada Karina saat di rumah sakit. Kalau di juga setuju kalau siapapun yang menjadi istri atau pendamping dari Joseph. Maka wanita itu pasti wanita yang beruntung.
__ADS_1
Sementara itu setelah mengantar kembali Jimmy ke acara. Semua orang terlihat sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Karina bahkan terus melihat ke arah Sila yang masih berjalan menghampirinya.
"Bagaimana?" tanya Karina.
Namun baru Sila akan menjawab pertanyaan Karina, Jimmy terlebih dahulu menyela.
"Wuih, Joseph babak belur. Rahangnya nyaris bergeser!" seru Jimmy membuat Marlina sampai menoleh ke arah mereka.
"Ck... Jimmy. Diam!" tegur Sila.
"Apa salahku, aku mengatakan yang sebenarnya?" tanya Jimmy.
Randy yang sudah di ceritakan masalah ini oleh Karina pun memelototkan matanya ke arah Jimmy.
"Pergi sana!" usir Randy.
Jimmy pun mendengus kesal.
"Ck... semua pria di keluarga ini memang aneh!" omel Jimmy sebelum meninggalkan pelaminan menuju ke mejanya.
"Bagaimana Sila, apa semua baik-baik saja?" tanya Karina begitu cemas.
Sila pun mengangguk cepat, dia juga tersenyum membuat Karina ikut menghela nafas lega.
"Iya semuanya berjalan baik, ayah dan ibu mertua sudah menerima Joseph!" jelas Karina.
"Apa? semudah itu? bagaimana bisa semudah itu? harusnya di orientasi dulu, di gojlok dulu, mana bisa begitu?" tanya Randy yang sepertinya tak terima Joseph masuk ke dalam keluarga nya semudah itu.
Sila mengernyitkan keningnya, dan Karina langsung melirik Randy.
"Oh, jadi begitu. Jadi untuk masuk keluarga ini harus di gojlok dulu, di orientasi dulu?" tanya Karina dengan tatapan tajam pada Randy.
Randy langsung menggaruk kepalanya salah tingkah.
"Sayang, maksudnya tidak begitu. Maksudnya kan Joseph, kamu tentu saja tidak perlu!" jelas Randy yang sadar kalau dia sudah salah bicara.
Sila terkekeh pelan, ternyata Randy dan Dave tidak jauh beda. Mereka benar-benar penyayang istri dan penurut sekali pada istri.
__ADS_1
***
Bersambung...