Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 253


__ADS_3

Karina malah terkekeh melihat Randy yang diam melihat ke arah pintu dimana Shafa sudah meninggalkan mereka sambil berlari. Randy kemudian melihat ke arah Karina dan mengembangkan senyuman tipis, sangat tipis.


"Terimakasih Karina, kau selalu bisa membuat ku merasa tenang!" ucap Randy pelan dan Karina hanya mengangguk.


Randy pun mengajak Karina turun ke lantai satu. Melihat Randy dan Karina yang berjalan bergandengan tangan dengan wajah Randy tidak sesedih dan sepucat tadi. Davina sangat lega, dia menghela nafasnya sangat lega.


"Ibu, Shafa ada apa? kenapa Dave menelepon?" tanya Randy penasaran.


"Itu, Dave bilang dia sudah mendapatkan unit apartemen untuk Karina. Kamu bisa mengajak Karina ke sana untuk melihatnya. Tapi yang satu lantai dengan Dave sudah tidak ada, jadi apartemen Karina ada di satu lantai di bawah unit apartemen Dave. Tapi maaf ibu tidak bisa menemani kalian, ibu harus pergi ke kantor ayahmu!" terang Davina.


Shafa pun ikut menyahut.


"Aku juga tidak ya, aku mau ikut ibu!" ucap Shafa.


Padahal Davina dan Shafa memang sengaja membiarkan Randy dan Karina berdua saja. Shafa tadi sudah menceritakan pada ibunya tentang apa yang dia lihat di kamar Randy tadi, saat Randy akan mencium Karina. Jadi mereka berdua memutuskan untuk tidak ikut melihat-lihat apartemen baru untuk Karina.


Dan kenapa apartemen itu berada di tempat yang sama dengan Dave. Karena memang apartemen itu akan menjadi rumah Randy dan Karina setelah menikah nanti. Randy melakukan itu agar Karina tidak kesepian, karena rencananya kalau mereka sudah menikah nanti, Randy ingin Karina berhenti bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga saja seperti Sila. Masalah ibu dan kedua adik Karina, itu sudah Randy pikirkan dan akan menjadi tanggung jawab Randy sepenuhnya.


Randy dan Karina pun akhirnya menuju ke apartemen. Setibanya di sana, Karina pun sempat bertanya pada Randy.


"Terlalu mewah Ran....!"


Tapi belum juga Karina selesai dengan apa yang ingin dia sampaikan. Randy menyelanya.


"Itu akan menjadi rumah kita nantinya Karina, sementara sebelum kita menikah. Kamu akan tinggal sendiri di sana. Karena aku tahu, kamu tidak mungkin mau tinggal di rumah ayah kan? meski ibu sebenarnya menginginkan seperti itu. Jadi sekalian saja, kita beli apartemen untuk rumah tinggal kita nanti setelah menikah. Tempat ini sangat aman, banyak penjaga, dan fasilitas juga sangat baik. Ada kafe, restoran, ada laundry, ada apotek dan juga dekat dengan Sila!" jelas Randy membuat Karina tersenyum.


Dia tidak menyangka kalau Randy bahkan memikirkan tentang hal itu. Dia memang sangat senang sekali kalau dekat dengan Sila, dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


Setelah tiba di depan unit apartemen itu yang bahkan sudah di urus pembayarannya oleh Joseph. Randy mengajak Karina untuk membuka pintunya.


"Berapa password nya?" tanya Karina yang sudah meletakkan jarinya dekat tombol kunci.


"Tanggal pernikahan kita nanti!" jawab Randy.


Tentu saja hal itu membuat Karina tersipu. Dia pun menekan tombol sesuai dengan tanggal dimana rencana pernikahan nya dan Randy akan di laksanakan.


Pintu apartemen terbuka, Karina tak bisa menutupi rasa kagumnya pada semua dekorasi dan semua barang-barang yang ada di dalam apartemen miliknya itu.


"Kamu suka?" tanya Randy.


Karina hanya mengangguk cepat, dia benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. Mereka pun melihat-lihat semua ruangan, dari mulai ruang televisi, ruang makan, dapur, dua kamar lain selain master bedroom. Dan juga balkon. Semuanya benar-benar sangat nyaman dan elegan. Karina benar-benar yakin kalau dia pasti akan betah tinggal di apartemen ini. Sebenarnya dia tidak pernah bermimpi bisa tinggal di apartemen yang begitu bagus seperti ini.


"Kita lihat kamar kita!" ajak Randy.


Dan ketika Randy mengatakan itu, entah kenapa Karina merasa detak jantungnya tidak normal. Karina masih ingat kejadian di kediaman Hendrawan tadi. Di kamar Randy, saat Randy akan menciumnya.


"Ayo!" ajak Randy sambil berjalan mendekati Karina dan menggandeng tangannya.


Karina pun mengikuti Randy dengan perasaan yang gugup dan canggung. Begitu pintu kamar terbuka. Jantung Karina berdetak makin kencang.


"Ini kamar kita!" ucap Randy.


Karina melihat ke sekeliling, dan dia sangat suka. Semuanya bersih, rapi dan wangi.


"Sekarang kita ke apartemen Dave, aku mau bilang terima kasih padanya. Karena sudah mengurus semua ini untuk kita, ayo!" ajak Randy membuat Karina menghela nafasnya lega.

__ADS_1


Karina pun tersenyum dan mengangguk dengan cepat. Karina bahkan lebih dulu berjalan keluar dari kamar itu. Randy juga hanya bisa tersenyum tipis di belakang Karina. Sebenarnya dia tahu Karina tadi gugup, dan sebenarnya dia juga sempat berniat ingin melanjutkan apa yang sempat tertunda tadi di rumah. Tapi ketika menggenggam tangan Karina dan tangannya menjadi dingin, Randy tahu Karina gugup. Karena itu dia menahan dirinya. Dan menghindari berduaan dengan Karina, dia rasa adalah solusi yang tepat. Karena itu dia mengajak Karina ke apartemen Dave.


Benar-benar baru kali ini, Randy menahan dirinya pada seorang wanita. Sepertinya memang dia benar-benar sangat mencintai Karina juga menghormatinya. Sehingga dia menomorsatukan kenyamanan Karina, di atas keinginan nya sendiri.


Saat mereka keluar dari lift di lantai dimana unit apartemen Dave berada. Di saat yang sama, mereka bertemu dengan dua wanita tua yang gelagatnya sedikit aneh. Saat pintu lift terbuka, dua wanita itu langsung membungkukkan badan mereka. Padahal sekilas tadi Karina bisa melihat kalau salah satu wanita itu berdiri dengan tegak.


Saat mereka masuk ke dalam lift dan pintu lift tertutup. Karina langsung menahan tangan Randy.


"Apa mereka juga penghuni apartemen di sini?" tanya Karina.


Randy menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Aku rasa bukan, setahuku di sini hanya ada empat unit, dan yang tiga lainnya adalah pengusaha muda. Tidak tahu kalau mereka orang tua, atau saudara para pengusaha itu!" jawab Randy.


"Randy apa kamu tidak melihatnya tadi, wanita yang berpakaian coklat, aku melihatnya tegak tadi, tidak bungkuk. Dan rambut mereka itu, apa itu asli?" tanya Karina yang benar-benar curiga pada dua orang wanita tua itu.


Randy pun langsung diam, sebenarnya dia juga melihatnya tadi. Hanya saja dia tidak mau membuat Karina cemas.


"Karina, sebaiknya kita segera beritahu hal ini pada Dave, ayo?" ajak Randy menggandeng tangan Karina menuju unit apartemen Dave.


Karina mengangguk dan mengikuti langkah Randy, tapi dia sekilas menoleh ke arah belakang.


'Semoga saja hanya firasat ku, tapi kenapa aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi, dan itu bukan hal baik. Semoga hanya firasat ku saja!' batin Karina mulai resah.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2