Ketika Yang Kucintai Berkhianat

Ketika Yang Kucintai Berkhianat
KYKB 128


__ADS_3

Joseph segera berlari ke dalam mobilnya, dia mengambil laptop yang memang selalu dia bawa di dalam mobilnya. Setelah membuka laptopnya dia segera menghubungi Oman.


"Iya Jo, aku sedang makan sup iga sapi, apa kamu mau bergabung...!"


"Oman, bilang pada anak buahmu yang hack*er itu. Suruh dia kirimkan semua rekaman CCtv pintu belakang perusahaan tuan Dave dari jam lima sampai lima menit yang lalu , sekarang Oman!" seru Joseph dengan nada sedikit meninggi pada Oman.


"Ada apa Jo? apa terjadi sesuatu?" tanya Oman yang masih bingung.


"Oman cepat, Karina dalam bahaya!" seru Joseph.


"Oke oke, aku segera kirim ke email mu!" ucap Oman yang langsung memutuskan panggilan telepon dari Joseph.


Joseph sambil menunggu laporan dari anak buah Oman, dia pun menghubungi Dave.


"Halo tuan!" ucap Joseph dengan sedikit gusar.


Joseph tahu kalau sampai Sila mendengar kabar ini, Sila pasti akan sangat syock dan cemas. Karena itu Dave juga pasti akan sangat marah pada Joseph karena tidak mengerjakan tugasnya dengan baik.


"Ada apa Jo? Karina sudah sampai di rumahnya?" tanya Dave yang masih bersama dengan Sila dan Mika di apartemen.


"Tuan, maaf. Terjadi masalah. Karina sepertinya di culik!" jawab Joseph dengan nada gusar.


Dave yang mendengar apa yang di katakan oleh Joseph pun langsung pergi menjauh dari ruang tv. Dia berjalan ke arah balkon apartemen nya.


"Bagaimana bisa Jo, bukankah kamu menjemputnya? kamu seharusnya sampai di sana sebelum Karina pulang kan?" tanya Dave.


"Maaf tuan, tadi aku sempat ke ATM sebentar untuk mengirim gaji para anak buah ku...!"


"Siapa pelakunya?" tanya Dave menyela ucapan Joseph.

__ADS_1


"Ini masih berhubungan dengan kecurigaan tuan pada pak Feri, ternyata benar. Anita bilang Karina menghilang setelah dia mendengar percakapan pak Feri dengan seseorang melalui telepon di gudang!" jelas Joseph seperti yang di sampaikan Anita padanya.


Dave yang cemas pun melihat ke arah Sila dan Mika yang sedang duduk bersama menuntun televisi. Dari jauh Sila pun juga sudah memperhatikan suaminya, tidak biasanya suaminya itu menerima telepon saja akan menjauh seperti itu darinya. Dan karena hal itu, Sila merasa kalau pasti ada sesuatu yang terjadi, dan itu bukanlah hal yang baik. Tapi Sila masih tetap berusaha untuk tetap tenang dan diam, sambil sesekali menjawab pertanyaan Mika padanya.


Dave yang kembali melihat ke arah pemandangan di luar gedung apartemen langsung mengusap wajahnya gusar.


"Dengar! lakukan apapun, aku percaya kamu bisa menangani Jo, ingat! jangan sampai terjadi sesuatu pada Karina, karena kalau itu sampai terjadi, aku tidak tahu Sila akan bagaimana? kamu dengar kan Jo?" tanya Dave memastikan kalau anak buah kepercayaan nya itu akan melakukan segala yang terbaik untuk menyelamatkan Karina.


"Iya tuan, aku minta maaf!" ucap Joseph yang masih merasa sangat bersalah karena semua ini terjadi juga atas kelalaiannya.


"Cepat Jo, jangan sampai terlambat!" ujar Dave lagi.


"Baik tuan!" sahut Jo.


Dave pun memutuskan panggilan telepon dengan Joseph. Lalu kembali ke dalam apartemen dan menuju ke dalam kamarnya. Dia juga tidak mungkin diam saja di tempat ini, karena dia juga ingin membuat pelajaran pada karyawan kepercayaan ayahnya itu.


Setelah mengambil jaket dan sarung tangan, Dave pun menghampiri Sila. Sebelum Dave mendekat ke arah mereka, Sila sudah melihat suaminya yang sudah memakai jaket dan sarung tangan pun berdiri dan menghampiri Dave duluan.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Sila sedikit cemas.


"Sayang, aku ada pekerjaan sebentar. Kamu dan Mika makan malam duluan saja ya!" ucap Dave yang lalu mengecup kening Sila dan mengusap pelan perut Sila.


"Jaga anak-anak dengan baik. Akan ada dua orang penjaga di luar, jangan khawatir!" seru Dave yang langsung beralih dari Sila pada Mika.


"Mika sayang, Daddy akan keluar sebentar. Mika temani mama dan jangan nakal ya!" ucap Dave yang langsung di balas anggukkan kepala cepat oleh Mika.


Dave pun meninggalkan Mika dan Sila yang masih menatapnya dengan cemas.


'Pasti ada yang terjadi, tapi apa ya?' tanya Sila dalam hati.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Joseph sudah mendapatkan rekaman CCtv dari pintu belakang perusahaan Dave. Mata Joseph melebar ketika melihat sebuah minibus yang berhenti di depan pintu belakang, dan benar saja, tak lama kemudian dia melihat dua karyawan yang sangat dia kenal membawa Karina ke dalam minibus itu. Tangan Joseph mengepal ketika melihat Ilyas dan Dani memasukkan Karina ke dalam minibus dan kembali ke dalam perusahaan.


"Siall, yang benar saja. Mereka berdua bahkan sudah belasan tahun kerja di sini. Dasar tikus tikus tidak tahu terimakasih!" gerutu Joseph.


Joseph langsung memperbesar gambar minibus itu, hingga terlihat play minibus tersebut. Joseph kemudian menghubungi beberapa anak buahnya dan meminta mereka mencari minibus dengan plat tersebut yang bergerak ke arah kanan perusahaan Dave.


Tak lama setelah itu Joseph juga menghubungi Dave lagi dan menjelaskan siapa saja yang terlibat selain Feri. Setelah melaporkan semua itu dan mengirimkan bukti rekaman pada Dave, Joseph mulai bergerak menyisir jalan yang mungkin di lewati oleh minibus yang membawa Karina. Sambil menunggu pencarian dari anak buahnya yang juga sedang mencari di sekitar perusahaan dan juga tempat terpelosok lainnya.


Sementara itu Karina yang sudah mulai tersadar, masih berpura-pura pingsan, Karina masih memejamkan matanya tapi sesekali melirik ke arah sekeliling.


'Masih di dalam mobil, sudah berapa lama aku pingsan? dan mau di bawa kemana aku?' tanya Karina dalam hati.


Karina sudah berkeringat dingin, karena mulut nya sudah di bung*Kam dengan lakban hitam. Sementara tangannya di ikat ke belakang dengan tali yang sangat kencang. Saat Karina berusaha menggerakkan pergelangan tangannya saja terasa sangat sulit.


"Sayang sekali kalau langsung di lempar ke jurang kan Dun!" ucap salah seorang yang duduk di sebelah Karina.


"Perintah bos begitu!" jawab salah seorang lagi yang duduk di depan, di samping kursi pengemudi.


"Bawa ke gudang dulu lah, kita main-main sebentar dengannya, bos juga tidak akan tahu kan!" ucap pria yang berada di samping Karina.


Karina semakin merasa takut, dia benar-benar ingin menangis dan berteriak, tapi tidak bisa.


'Ya Tuhan, tolong aku. Haruskah hidupku berakhir seperti ini. Ya Tuhan tolong aku, bagaimana dengan ibu dan kedua adikku jika aku sampai berakhir begini. Tolong aku ya Tuhan!" Karina terus berdoa dalam hatinya.


Meski tangan dan kakinya sudah dingin karena sangat takut, tapi Karina masih berharap akan keajaiban Tuhan. Karena dia tidak mau sampai hidupnya berakhir seperti ini, dia masih ingin membahagiakan ibunya dan juga dua adiknya.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2