
Sementara itu di kediaman Hendrawan...
Karena hari sudah sore, Sila memutuskan untuk mengajak Mika pulang. Sila yang sudah selesai membantu para koki di rumah mertuanya memasak pun berniat menghampiri Shafa dan Mika di taman. Dari pintu kaca, Sila bisa melihat Shafa dan juga Mika sedang bermain kelinci yang baru saja mereka beli berdua tadi.
Saat akan keluar, Sila melihat Jo yang berdiri melihat ke arah luar. Tepatnya ke arah Shafa dan Mika.
"Jo?" panggil Sila.
Joseph langsung berbalik, dengan ekspresi wajah datar dia menjawab.
"Iya nyonya!" jawabnya ketika melihat yang memanggilnya adalah Sila.
"Tolong minta pada Oman untuk siapkan mobil ya, aku dan Mika akan pulang ke apartemen!" seru Sila dan Joseph pun langsung mengangguk dan sedikit membungkukkan badannya.
"Baik nyonya!" jawabnya dan langsung pergi dari sana.
Sila lalu bergegas menghampiri Mika, karena Diah juga sudah membawa barang-barang Mika ke mobil.
"Mika sayang!" panggil Sila.
Sambil menggendong kelinci yang badannya sangat gembull, Mika menghampiri Sila.
"Mama, kata Tante Shafa kelincinya tidak boleh di bawa pulang karena Daddy alergi bulu. Padahal Mika mau bawa pulang!" ucapnya terlihat sedih.
Sila pun langsung berjongkok di depan Mika dan mengusap lembut pipi anaknya itu.
"Sayang, kalau di bawa pulang nanti Daddy bisa sakit. Mika mau Daddy sakit?" tanya Sila dengan pelan pada putri kecilnya.
Dan Mika pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Mika sayang sama kelinci ini, tapi Mika lebih sayang Daddy!" ucap Mika polos.
Ucapan Mika itu membuat Shafa sampai tertegun. Sedangkan Sila mencium pipi Mika yang sudah melepaskan kelincinya.
__ADS_1
"Anak pintar, sekarang pamitan dulu sama Tante Shafa, kita harus pulang. Daddy akan pulang cepat dan makan malam bersama kita malam ini!" ujar Sila.
Mika pun tersenyum sembari dan mengangguk patuh. Gadis kecil itu berbalik lalu berlari ke arah Shafa.
Shafa juga langsung berjongkok dan menangkap Mika ke pelukannya.
"Sayang ku, my sweetie... sering-seringlah main ke sini ya sayang!" ucap Shafa yang langsung mencium pipi tembem Mika.
"Iya Tante, Mika pulang dulu ya!" ucap Mika begitu terdengar dan terlihat sangat menggemaskan.
"Shafa, aku pulang dulu. Kamu harus semangat ya, semua pasti akan membaik. Jika butuh teman untuk bicara, aku selalu akan ada waktu untuk mu!" ucap Sila mencoba lebih akrab dengan Shafa.
"Terimakasih kak Sila!" jawab Shafa.
Sila, Mika, Diah dan Oman pun meninggalkan kediaman Hendrawan. Joseph masih tetap di sana karena Dave memerintahkan kepadanya untuk menjaga dan melindungi Shafa.
Ketika akan masuk kembali ke kamarnya Shafa berpapasan lagi dengan Joseph. Tapi kali ini mereka berdua benar-benar seperti orang sama sekali tidak mengenal. Benar-benar saling acuh.
Meskipun begitu Joseph tetap menjaga sopan santunnya dengan sedikit membungkukkan badannya ketika Shafa lewat tepat di depannya. Sementara Shafa, dia lewat begitu saja, bahkan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Joseph.
Malam hari pun berlalu, Dave dan keluarga kecilnya juga sudah selesai makan malam. Setelah menceritakan dongeng untuk Mika. Dave pun kembali ke dalam kamarnya. Dan saat Dave masuk ke kamarnya, dia sudah melihat Sila berdiri di depan meja rias dengan gaun hitam yang baru Dave belikan beberapa hari yang lalu.
Melihat istrinya sudah berpenampilan seperti itu, Dave langsung mengunci rapat pintu kamar mereka. Dave mendekati istrinya itu dan memeluk Sila dari belakang, Dave melingkarkan kedua tangannya di perut Sila dan mengusapnya perlahan.
"Apa yang anak Daddy dan mommy lakukan seharian ini?" tanya Dave pada calon anaknya yang ada di kandungan Sila.
Sila tersenyum melihat tingkah Dave itu.
"Mas, tadi aku membawa Mika ke bertemu dengan Shafa, apa kamu tahu apa yang terjadi pada Shafa tadi? saat aku sampai di rumah setelah menjemput Mika, aku melihat Shafa menangis sendirian di kamarnya, dan ada pecahan gelas di lantai...!"
"Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Dave menyela Sila. Dave terlihat panik, dia bahkan melepaskan pelukannya dari Sila.
Sila menggelengkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
"Tidak mas, mungkin dia hanya melemparkan gelas itu ke lantai. Mas, ku pikir Shafa memang harus sedikit sibuk untuk bisa lupa pada traumanya itu!" ucap Sila.
Dave pun menghela nafasnya lega. Lalu dia kembali memeluk Sila dari belakang.
"Baiklah sayang, aku akan mengajaknya untuk bekerja di kantor. Di sana juga ada Anita dan Karina, dengan banyak teman dan sedikit sibuk dengan pekerjaan. Semoga dia cepat sembuh dari traumanya itu!" ucap Dave.
"Amin mas!" sahut Sila.
Dave yang mulai jahil pun segera menggerakkan tangannya naik ke arah dada Sila. Sementara dagunya dia biarkan bersandar di bahu Sila polos. Karena gaun itu memang hanya mempunya satu tali tipis di sebelah kiri saja.
"Sayang, kamu cantik sekali memakai gaun ini. Aku tidak salah memilihnya untuk mu!" ucap Dave.
Sila tersenyum malu, dia selalu di buat senang dan bahagia oleh Dave. Dia sangat beruntung menjadi istri Dave.
Tanpa menunggu lagi, Dave pun segera membalikkan posisi Sila hingga berhadapan dengannya, tangan Dave pun menyentuh kedua pipi Sila dan mendaratkan bibirnya di bibir merah istrinya itu.
Ciuman lembut itu perlahan demi perlahan berubah menjadi ciuman yang banyak menuntut. Sila yang memang sudah belajar banyak dari Dave pun, mulai bisa membalas setiap pagut4n dari suaminya dengan lancar dan 4gresif.
Tak puas hanya mencium bibir Sila, Dave pun mengabsen setiap inci bagian tubuh istrinya itu dari wajah, leher hingga ke dada istrinya itu dengan bibirnya.
Suara yang membuat bulu kuduk merem4ng pun lolos dari bibir Sila. Suara yang membuat Dave semakin gan4s menjelajahi setiap lekukan yang memang sah sah saja dia jelajahi, karena semua yang ada pada Sila adalah milik Dave.
Keduanya pun kini sudah berada di atas tempat tidur empuk dengan ukurannya king size bed mereka. Sila terus menggeliat ke sana kemari karena memang Dave sangat terampil membuatnya tak berdaya. Tanpa menunggu lebih lama Dave yang memang sudah sangat merindukan milik istrinya itu meski baru semalam mengobrak-abrik di dalam sana. Langsung melakukan penyatuan dengan Sila.
Sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit kemudian...
Sila yang sudah tereng4h-eng4h pun hanya bisa diam dan pasr4h menerima semua perlakuan sang suami yang masih sibuk dengan usahanya. Dave benar-benar bekerja keras malam ini.
Hingga satu jam kemudian, Dave yang sudah mendapatkan apa yang dia inginkan langsung memeluk erat Sila dalam pelukannya.
"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu!" ucapnya dengan nafas terseng4l-seng4l sambil mengecup kening Sila.
***
__ADS_1
Bersambung...